Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tragedi Sriwijaya Air SJ182: Peringatan Keras Agar Kembali Pada Hukum Yang Maha Kuasa

Insiden naas ini menyadarkan kita begitu kecil dan lemahnya kita sebagai manusia. Tiap-tiap jiwa kita berada dalam genggaman Allah swt. Pun, kita tak luput dari godaan syaithan yang menyesatkan dan menghalangi kita dari ajaran Allah dan Rasulullah Saw. serta melalaikan kita dari mengingat Allah. Maka, perlunya kesadaran untuk selalu merasa diawasi oleh Allah serta muhasabah (introspeksi diri) atas diri kita yang serba kurang, lemah, terbatas.

Oleh: Miladiah Al-Qibthiyah (Pegiat Literasi dan Media)

Dunia penerbangan kembali berduka, pesawat Sriwijaya Air SJ182 dinyatakan hilang kontak setelah empat menit lepas landas. Tragedi yang menimpa Sriwijaya Air SJ182 menambah daftar panjang kecelakaan pesawat di Tanah Air yang memilukan.

Kemeriahan sambut awal tahun baru 2021 berubah masam dengan jatuhnya burung raksasa tujuan Jakarta-Pontianak. Tak sedikit dari keluarga berharap cemas mendengar kabar delay-nya pesawat Sriwijaya akibat cuaca buruk, hingga gempar dengan kabar hilangnya kontak pesawat Sriwijaya di udara.

Atas insiden naas yang terjadi, segenap elemen masyarakat merasakan duka mendalam. Masyarakat ramai memenuhi jagad maya dengan ungkapan belasungkawa atas korban.

Tidak ketinggalan, ungkapan belasungkawa juga datang dari Turki, mereka berdoa dan mengungkapkan kesedihan atas musibah jatuhnya pesawat Sriwijaya Air.

Muhasabah Bersama di Awal Tahun

Sebagaimana diketahui, pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 dengan 62 orang di dalamnya jatuh ke laut setelah lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta menuju Pontianak.

Ajal manusia adalah rahasia Allah Swt. Tidak ada yang tahu bahwa ajal setiap detiknya mengintai umat manusia. Tidak mengenal waktu dan tempat. Yang paling penting adalah segala amal perbuatan selama hidup akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Bila saatnya tiba, jatah hidup ini akan berakhir dan setiap manusia akan kembali ke negeri asal. Inilah yang tengah dialami oleh saudara kita, korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air.

Seyogianya kita meluangkan waktu sejenak untuk merenungi masa hidup yang telah sekian lama berlalu hingga detik ini di awal 2021. Apa saja yang telah kita lakukan dan persiapan apa yang hendak kita bawa menuju tempat peristirahatan terakhir kita

Insiden naas ini menyadarkan kita begitu kecil dan lemahnya kita sebagai manusia. Tiap-tiap jiwa kita berada dalam genggaman Allah swt. Pun, kita tak luput dari godaan syaithan yang menyesatkan dan menghalangi kita dari ajaran Allah dan Rasulullah Saw. serta melalaikan kita dari mengingat Allah. Maka, perlunya kesadaran untuk selalu merasa diawasi oleh Allah serta muhasabah (introspeksi diri) atas diri kita yang serba kurang, lemah, terbatas.

Kita diingatkan kembali bahwa muhasabah adalah kewajiban yang sangat penting dilakukan. Melalui muhasabah, seseorang akan kembali kepada jalan Tuhannya, kembali meraih kemuliaan dan kebersihan diri.

Mungkin kita telah terlena dengan pergantian tahun ini. Padahal, jumlah umur kita pada hakikatnya semakin singkat untuk hidup menghirup udara Allah Swt. Jumlah usia kehidupan ini bertambah, namun kesempatan mempersiapkan bekal mengadap Ilahi sejatinya semakin sedikit.

Peringatan Keras Agar Kembali Pada Hukum Yang Maha Kuasa

Berbagai rentetan peristiwa yang terjadi hingga berujung maut, tidak lepas dari iradah Allah Swt. Negeri ini sedang diuji oleh Sang Penguasa langit dan bumi. Keadaan yang semakin menunjukkan betapa rapuhnya kita sebagai penguasa di bumi. Boleh jadi, adanya tangan-tangan para penguasa yang menjadi sebab perantara keterpurukan yang melanda umat dan negeri ini.

Bila kita telusuri lebih mendalam, pangkal keterpurukan negeri ini adalah penerapan sekularisme, secara terang-terangan memisahkan agama dari kehidupan. Sistem sekuler akan meniscayakan tidak adanya campur tangan Yang Maha Kuasa dalam mengatur kehidupan, yakni meminggirkan dan mencampakkan hukum-hukum Allah Swt.

Padahal, Allah Swt. telah berfirman di dalam Q.S. an-Nisa' ayat 59, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya serta ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah perselisihan itu kepada Allah (al-Quran) dan Rasul-Nya (as-Sunnah) jika kalian benar-benar mengimani Allah dan Hari Akhir. Yang demikian adalah lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (TQS an-Nisa’ [4]: 59)

Menurut Imam as-Sa’di: “(Dalam ayat ini) Allah SWT memerintahkan kaum mukmin untuk mengimani Allah dan Rasul-Nya. Tidak lain dengan melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya, yang wajib maupun yang sunah, dan menjauhi larangan keduanya. Allah SWT pun memerintahkan kaum mukmin untuk menaati ulil amri, yakni para pemimpin manusia baik para amir, penguasa atau para mufti (ulama). Pasalnya, urusan agama dan dunia mereka tidak akan baik kecuali dengan taat dan tunduk kepada ulil amri. Ini sebagai konsekuensi atas ketaatan kepada Allah dan harapan untuk meraih ridha-Nya. Dengan syarat, ulil amri tersebut tidak memerintahkan kemaksiatan kepada Allah SWT. Jika ulil amri memerintahkan kemaksiatan kepada Allah SWT, tentu tidak ada ketaatan kepada mereka. Sebabnya, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Al-Khaliq (Allah SWT)…”.

Selain itu, Imam as-Sa’di menjelaskan: “(Dalam ayat ini) Allah SWT kemudian memerintahkan untuk mengembalikan semua yang diperselisihkan oleh manusia, baik menyangkut pokok-pokok agama (ushuluddin) maupun cabang-cabang agama, kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, yakni pada Kitabullah (Alquran) dan sunah Rasul-Nya (as-Sunnah). Sebabnya, di dalam keduanya ada solusi/penyelesaian bagi seluruh persoalan yang diperselisihkan. Di atas Kitabullah Alquran dan sunah Rasul-Nya pula tegaknya bangunan agama (Islam) ini.

Imam as-Sa’di melanjutkan: “Mengembalikan (segala persoalan, red.) pada al-Qur'an dan sunah merupakan syarat keimanan. Karena itulah, pada kalimat selanjutnya Allah SWT menyatakan, “ …jika kalian mengimani Allah dan Hari Akhir”. Ini menunjukkan bahwa siapa saja yang tidak mengembalikan semua persoalan/perselisihan pada Alquran dan sunah bukanlah mukmin yang hakiki, tetapi mukmin yang beriman kepadathaghut.".

Yang paling penting adalah adanya penegasan atas keunggulan hukum Allah SWT dan Rasul-Nya dibandingkan dengan hukum buatan manusia.

Imam as-Sa’di lalu menutup penjelasan ayat ini dengan menyatakan: “Hal demikian (mengembalikan semua persoalan pada Alquran dan sunah, red.) adalah sikap yang paling baik dan paling bagus. Pasalnya, hukum-hukum Allah SWT dan Rasul-Nya pastilah hukum terbaik, paling adil dan paling layak bagi manusia baik terkait urusan agama mereka maupun urusan dunia mereka…”.

Tampak jelas bahwasanya kewajiban seorang muslim bahkan negara adalah mengembalikan segala urusan dan persoalan hidup kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Konsekuensi quran dan sunah adalah bahwa semua urusan kehidupan wajib diatur dengan syariat Islam.

Sepanjang sejarah peradaban manusia, tidak pernah ada yang lebih baik dari syariat Islam. Syariat Islam berasal dari Allah Swt, Pencipta manusia, pasti lebih hebat dan Maha Tahu atas segala yang dicipta bahkan jauh mengungguli hasil ciptaan manusia yang lemah, serba kurang dan terbatas.

Saatnya umat Islam di negeri ini paham bahwa syariat Islam akan membawa kemaslahatan untuk manusia. Adanya ujian dan musibah yang melanda negeri ini melalui tragedi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air adalah bentuk kasih sayang Allah kepada manusia dan bentuk peringatan keras agar kembali pada hukum Allah Swt.

Mahabenar Allah Yang berfirman dalam Surah Al-Ma'idah ayat 50, yang artinya:

“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? Lalu, siapakah yang lebih baik hukumnya selain hukum Allah Swt. bagi orang-orang yang yakin?” (TQS al-Maidah [5]: 50).

Wallaahu a'lam bi ash-shawab.

Post a Comment for "Tragedi Sriwijaya Air SJ182: Peringatan Keras Agar Kembali Pada Hukum Yang Maha Kuasa"