Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sistem Islam Membawa Berkah, Sistem Sekuler Membawa Musibah

Miris! di tengah persoalan bangsa yang karut-marut, pandemi masih melanda negeri. Namun lagi-lagi isu terorisme dan radikalisme dihembuskan ke tengah masyarakat, seakan inilah hal urgen dan utama yang mengancam bangsa ini.

Oleh: Nelly, M.Pd. | Aktivis Peduli Generasi, Pemerhati Masalah Sosial Masyarakat

Miris! di tengah persoalan bangsa yang karut-marut, pandemi masih melanda negeri. Namun lagi-lagi isu terorisme dan radikalisme dihembuskan ke tengah masyarakat, seakan inilah hal urgen dan utama yang mengancam bangsa ini.

Hingga menjadi fokus utama para tuan puan untuk diselesaikan. Apalagi kini menurut pemberitaan aksi terorisme sudah merambah pada anak-anak dan kaum perempuan.

Dengan adanya kasus terbaru semakin meyakinkan negara bahwa terorisme itu berbahaya dan harus diberantas.

Seperti dilansir dari laman media Indonesia, polisi berhasil menangkap Abu Hamzah yang merupakan anggota jaringan terduga teroris RIN alias Putra Syuhada (PS) yang lebih dulu ditangkap di Lampung. Namun, penangkapan Abu Hamzah itu juga menyisakan cerita lebih mengkhawatirkan.

Dalam penangkapan itu, istri Abu Hamzah tewas dengan meledakkan diri. Menurut polisi, sang istri selama ini dikenal sebagai sosok yang cukup radikal. Kejadian itu mengingatkan akan serangan bom di Surabaya yang dilakukan Dita Oepriarto dan keluarganya. Sang ayah membagi tugas kepada istri dan anak-anaknya untuk ikut terlibat dalam peledakan bom di rumah ibadah itu.

Menurut pihak berwajib aksi tersebut menjadi gambaran pertama pada bangsa ini akan kuatnya doktrin terorisme. Ibu yang memiliki karakter alami sebagai pelindung yang lembut bisa tercuci otak. Ia tidak saja merestui pembantaian, tetapi juga membuat anak menjadi serdadu.

Menurut pihak berwenang doktrin radikalisme dan terorisme dalam keluarga ini pula yang membuat jaringan teroris makin sulit ditumpas sebab sejatinya keluarga ialah pihak pertama yang mampu mengendus dan juga menangkal pemikiran radikal.

Ya, jika ditelaah bersama persoalan terorisme di negeri ini seakan tak pernah ada habisnya. Selalu saja muncul kasus dan terduga baru dengan aliran barunya. Tentu ini sangat mengkhawatirkan semua pihak apalagi dengan berbagai tindakan dan aksi yang tentunya meresahkan masyarakat. Namun yang perlu dikritisi adalah jangan sampai kejadian ini kemudian dilegitimasi hanya pada pihak tertentu.

Apalagi menuding dalang dari setiap tindakan teroris adalah pada Islam dan para pengemban dakwah Islam yang teguh dengan ajaran Islam dan sangat mencintai Rasulullah SAW. Tentu setiap stigmatisasi negatif pada Islam ini akan sangat berdampak pada Islamophobia dan ketakutan pada ajaran Islam itu sendiri di tengah umat.

Hal ini diperkuat, setelah sebelumnya mantan Menag Fachrul Razi mengungkap bahwa kelompok atau paham radikalisme masuk ke Masjid-Masjid salah satunya adalah melalui anak good looking. Menurut Menag "Cara masuk radikalisme gampang; pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan Bahasa Arabnya bagus, hafidz (hafal Alquran), mereka mulai masuk," kata Fachrul dalam webinar bertajuk 'Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara', di kanal Youtube Kemenpan RB, Rabu (2/9) dikutip dari CNN Indonesia.

Pada Desember 2019 lalu, Menag sebelumnya menyebut Aparatur Sipil Negara (ASN) yang tidak suka Pancasila untuk pulang saja. Di waktu yang sama, Kemenag memindahkan materi Khilafah dari pelajaran fikih ke pelajaran sejarah.

Ya, stigmatisasi pada Islam dan ajarannya ini adalah sesuatu yang mestinya tak terjadi di negeri muslim terbesar di dunia ini. Sebab ini menyangkut hal yang sensitif yaitu agama Islam itu sendiri. Semua orang tentu tidak sepakat dengan adanya radikalisme apalagi tindakan teroris. Namun jika radikalisme itu kemudian dikaitkan dengan Islam dan ajarannya tentu tidak beralasan. Apalagi jika dikatakan bahwa Islamlah yang menjadi dalang adanya teroris dan radikalisme.

Sebab tidak ada satupun ajaran yang dibawa oleh baginda Rasulullah Muhammad yang mengajarkan kekerasan, pengeboman apalagi membunuh dan melakukan kerusuhan. Fakta sejarah sangat terlihat bahwa Islamlah satu-satunya ajaran dan peradaban tinggi dan gemilang yang penuh kedamaian dan keadilan pada siapapun. Bahkan saat perang saja ajaran Islam sangat mulia, menjunjung tinggi rasa kemanusiaan. Untuk saat ini tentunya Islam akan memberi kontribusi atas pembangunan bangsa, hadir memberi solusi atas kerusakan remaja akibat liberalisme dan paham-paham Barat yang merusak.

Polemik dan pernyataan kontroversial dari Menag ini semestinya harus disudahi, persoalan bangsa ini sungguh sangat memprihatinkan. Pandemi tak kunjung teratasi, dampaknya tidak lagi hanya pada kesehatan, namun juga sampai pada sosial, ekonomi hingga perceraian pasutri. Belum lagi generasi yang mengalami degradasi moral dan akhlaq, di mana generasi saat ini hidup dalam kubangan free sex, narkoba, L9BeTe, tawuran dan sederet kenakalan remaja lainnya.

Harusnya ini yang menjadi fokus dari para punggawa negeri untuk segera dicari solusinya. Indonesia adalah negeri yang mayoritas muslim terbesar di dunia, kemerdekaan negeri ini juga tidak lepas dari perjuangan dari ulama, dan umat Islam.

Dalam perspektif Islam sendiri tidak ada ajarannya yang mengajarkan kekerasan, apalagi merusak keutuhan negara. Islam yang dibawa nabi Muhammad SAW merupakan ajaran yang rahmat bagi seluruh alam. Sepanjang sejarah peradaban manusia malah sistem Islamlah yang menyatukan umat dalam satu kepemimpinan baik muslim maupun non muslim. Beraneka ragam suku, agama, budaya, berkumpul tanpa ada diskriminasi dalam kepemimpinan Islam.

Kehidupan yang sejahtera, damai, adil, makmur dan tentram dirasakan tidak hanya muslim namun juga non muslim. Jadi atas dasar apa kemudian di negeri ini Islam dan ajarannya selalu dipersoalkan bahkan distigmatisasi sebagai ajaran teroris dan radikal serta ajaran yang akan mengancam keutuhan bangsa dan negara. Justru sistem aturan yang diadopsi bangsa inilah yaitu kapitalis sekulerisme-demokrasi yang jelas-jelas mengancam kedaulatan bangsa ini dan merusak segala lini tatanan kehidupan bernegara di negeri ini.

Sebagai negeri yang merdeka lebih dari 75 tahun maka sudah saatnya negeri ini berbenah, membuka mata, pikiran bahwa fokus persoalan bangsa adalah bagaimana menjadikan bangsa ini besar, berdaulat, dan mampu memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Namun jika masih mengadopsi sistem kapitalis-sekuler-demokrasi tentu tidak akan di dapatkan.

Islam adalah ajaran yang sempurna yang berasal dari Sang Pencipta seluruh alam semesta. Menerapkannya dalam aspek individu, masyarakat dan negara adalah wujud ketakwaan seorang Muslim. Sebab cintanya pada Rasulullah Muhammad akan menjadikan seorang Muslim wajib mencontoh sebagaimana Rasulullah menerapkan Islam dalm sleuruh aspek kehidupan.

Hanya dengan kembali pada Islam dalam mengatur kehidupan maka akan dicapai negara yang besar, akan diraih kebahagiaan, kebaikkan dan keberkahan bagi seluruh umat. Jadi stop melakukan tudingan dan stigma terhadap Islam yang sangat tidak berdasar sama sekali.

Sebab Islam telah terbukti dan teruji mampu mengurus kehidupan selama ratusan abad lamanya, sedangkan sistem kapitalis-sekuler hanya terbukti merusak dan membuat bangsa diambang kehancuran.

Wallahu ‘alam

Post a Comment for "Sistem Islam Membawa Berkah, Sistem Sekuler Membawa Musibah"