Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Selesaikan Stunting Dengan Sistem Kaffah Ciptaan Ilahi

Islam memandang pengentasan masalah gizi demi memenuhi kewajiban mengurus kebutuhan rakyat dalam rangka ketaatan kepada Allah Swt. Islam menggariskan bahwa relasi penguasa dan rakyatnya adalah bagaikan penggembala dan gembalaannya, di mana si penggembala bertanggung jawab penuh atas keselamatan dan kesejahteraan gembalaannya.

Oleh: Sifa Amalia N

Indonesia merupakan negara nomor empat dengan angka stunting tertinggi di dunia. riset kesehatan dasar Kementerian Kesehatan Tahun 2019 mencatat sebanyak 6,3 juta balita dari populasi 23 juta atau 27,7 persen balita di Indonesia menderita stunting. Jumlah yang masih jauh dari nilai standard WHO yang seharusnya di bawah 20 persen.

Dalam banyak kajian yang dilakukan di institusi pendidikan dan para ahli, sebagaimana yang dijelaskan oleh UNICEF tahun 1988 bahwa akar permasalahan utama stunting (masalah gizi) ini karena krisis ekonomi, politik dan sosial.

Harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik, sehingga masyarakat yang hanya bisa membeli makanan sesuai uang yang mereka miliki. Pendidikan yang kurang karena mahalnya biaya pendidikan. Program edukasi tentang gizi pun belum berjalan secara masif menjaring seluruh masyarakat.

Pengadaan bahan kebutuhan pokok yang penuh dengan intrik politik kepentingan pun akhirnya membuat bahan kebutuhan pokok impor dari negara-negara lain. Padahal di Indonesia ini banyak daerah-daerah yang mendapat julukan lumbung padi, lautan yang luas pun merupakan tambak garam yang tiada habisnya. Dilakukannya impor bahan panan ini selain membuat para petani kita kalah bersaing, hal ini pun rentan mengalami naiknya harga kebutuhan pokok dan daya beli masyarakat.

Sulitnya pekerjaan terutama bagi kaum pria, pada akhirnya memaksa kaum ibu yang fitrahnya sebagai ummu wa rabbatul bayt wa madrasatul ‘uula (ibu dan pengelola rumah tangga serta sekolah utama/pertama) keluar rumah mencari uang untuk memenuhi kebutuhan. Tidak heran untuk tercapainya program ASI ekslusif sangat sulit, walaupun di berbagai tempat publik termasuk tempat kerja terdapat Ruang Ibu Menyusui. Belum lagi para wanita feminisme yang terus berkiprah diluar rumah dengan meninggalkan hak-hak anak dan keluarganya.

Maka, penting untuk menggapai solusi yang solutif, perubahan yang sistemik, dan pembenahan mendasar di segala aspek kehidupan. Pembenahan itu dimulai dengan penyadaran bahwa manusia diciptakan untuk menghamba pada Allah, untuk menjalankan syariat-Nya dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam kehidupan bernegara sehingga tujuan utama bernegara pun adalah menerapkan syariat-Nya dalam kehidupan pemerintahan.

Islam memandang pengentasan masalah gizi demi memenuhi kewajiban mengurus kebutuhan rakyat dalam rangka ketaatan kepada Allah Swt. Islam menggariskan bahwa relasi penguasa dan rakyatnya adalah bagaikan penggembala dan gembalaannya, di mana si penggembala bertanggung jawab penuh atas keselamatan dan kesejahteraan gembalaannya.

Sebagaimana kisah yang dicontohkan oleh umar bin khattab ketika itu menjadi pemimpin negara begitu memperhatikan rakyatnya. Bagaimana setiap malam mengontrol rakyat. Dicarinya rumah-rumah yang sudah habis stok makanannya. Dipanggulnya gandum itu dan dibuatkannya makanan hingga tidak ada rakyatnya tertidur dalam keadaan lapar.

Dalam Islam, menangani permasalahan gizi akan dilakukan secara praktis dan langsung pada permasalahannya agar gizi keluarga terpenuhi sehingga terwujud ketahanan keluarga dan ketahanan negara. Yaitu:

1. Ketersediaan lapangan pekerjaan bagi laki-laki untuk mencari nafkah merupakan tanggung jawab untuk laki-laki didalam islam. Sebagaimana kutipan dalam Firman Allah Swt disurat An-Nisa ayat 34 yang artinya:

“nafkahilah sebagian rezeki yang kau dapatkan (para suami) kepada istri-istri mu.”

Kewajiban tersebut diperintahkan kepada para suami, untuk memberikan nafkah kepada istri-istri mereka, bukan malah sebaliknya. Sehingga negara akan berupaya semaksimal mungkin dalam memberikan kemudahan lapangan pekerjaan bagi laki-laki, agar bisa melaksanakan kewajibannya atas hak istri yang harus didapatkannya.

2. Sangat penting dan merupakan wajib bagi setiap muslim untuk belajar dan menuntut ilmu. Apalagi ibu berperan menjadi ‘madrasatul ‘uula’ (pendidikan pertama) bagi anak, sehingga negara akan melakukan upaya secara masif dalam memberikan edukasi bagi ibu dan wanita.

Yang terpenting adalah butuh ilmu. Karena dengan Ilmu Islam kita akan tahu bagaimana mendidik dengan benar dan menjadi istri sholehah bagi suaminya. Sungguh, ibu hebat di mata Allah SWT adalah ibu yang dapat mendidik anak-anaknya menjadi generasi pejuang Islam yang tangguh.

Kewajiban seorang wanita tatkala sudah menikah adalah menjadi ummun ‘wa rabbatul bayt’ (pengurus ‘manajer’ rumah tangga) . Rasulullah SAW bersabda:

“Seorang wanita adalah pengurus rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepengurusannya.” (HR Muslim).

Nasihat Rasulullah SAW kepada putrinya Fathimah Az-Zahra :

“Wahai Fathimah, wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah pasti akan menetapkan kebaikan setiap biji gandum, melebur kejelekan dan meningkatkan derajat wanita itu. Wahai Fathimah, tiadalah seorang wanita yang meminyaki rambut kepala anak-anaknya lalu menyisirnya dan memcucikan pakaiannya, melainkan Allah pasti menetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberikan pakaian seribu orang yang telanjang.”

Peran seorang istri dan sekaligus ibu bagi anak-anaknya merupakan peran yang subhanAllah luar biasa. Islam memuliakannya bahkan jika dia ikhlas dan ridho dengan amanah itu, maka balasan dari Allah berupa pahala yang jaminannya adalah surga.

Tanggung jawab ibu terhadap anak tak akan pernah terganti oleh siapapun dan tanggung jawab ini dipertanyakan sampai akhirat. Tidak ada yang lebih berat amal seorang ibu untuk dimintai pertanggungjawaban selain urusan anak-anaknya. Maka pengabaian terhadap anak-anak sama artinya kehancuran sebuah generasi. Sehingga tidak ada kewajiban bagi ibu untuk keluar rumah mencari nafkah dan menelantarkan anak-anaknya.

3. Keterjaminan pangan oleh negara. Negara akan berupaya memaksimalkan produksi pangan agar memenuhi kebutuhan dalam negerinya, sehingga impor pangan akan diminimalisir serta dihilangkan para mafia-mafia dalam pengadaan pangan yang selama ini melakukan permaianan harga di pasar-pasar. Negara akan berperan sangat teliti pada pengurusan ketersediaan pangan mulai jumlah pangan yang cukup dan menjaga kestabilan harga pangan yang terjangkau untuk masyarakat.

Hanya dengan Islamlah Stunting dapat teratasi karena penyelesaian stunting bukan menurunkan angka semata namun karena keimanan dan ketakwaan untuk melaksanakan syariatnya dan mengemban amanah yang nanti akan dihisab oleh Allah para pemimpin meriayah.

Wallahu'alam bish-shawab

Post a Comment for "Selesaikan Stunting Dengan Sistem Kaffah Ciptaan Ilahi"