Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Perubahan Iklim, cukupkah Dengan Konferensi Tingkat Tinggi?

Konferensi Tingkat Tinggi Climate Adaptation Summi

Oleh : Ummu Hanif, Anggota Lingkar Penulis Ideologis

Perubahan iklim adalah perubahan pada suhu, curah hujan, pola angin dan berbagai efek-efek lain secara drastis. Dilansir dari laman ditjenppi.menlhk.go.id, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendefinisikan perubahan iklim sebagai gejala yang disebabkan baik secara langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia.

Hal tersebut turut mengubah komposisi dari atmosfer global dan variabilitas iklim alami pada periode waktu yang dapat diperbandingkan. Komposisi atmosfer global yang dimaksud adalah komposisi material atmosfer bumi berupa Gas Rumah Kaca (GRK) yang di antaranya, terdiri dari Karbon Dioksida, Metana, Nitrogen, dan sebagainya. Perubahan iklim dapat diukur dalam bentuk statistik melalui International Panel on Climate Change. Salah satu perubahan iklim yang sering terjadi adalah bencana alam yang terkait dengan peningkatan suhu bumi

Sementara itu, dunia internasional berupaya untuk menanggulangi kondisi ini dengan menggelar Konferensi Tingkat Tinggi Climate Adaptation Summit (KTT CAS) tahun 2021, tepatnya tanggal 21 januari 2021 lalu. Untuk diketahui, KTT CAS merupakan konferensi tingkat tinggi global untuk mempercepat dan meningkatkan upaya global dalam adaptasi masyarakat dan ekonomi terhadap dampak perubahan iklim di masa mendatang. Tahun ini, KTT CAS digelar secara daring di mana Belanda bertindak menjadi tuan rumah dan didukung oleh 22 negara termasuk Indonesia.

Hadir dalam KTT kali ini di antaranya Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, Co-Chair Global Commission on Adaptation Ban Ki-moon, pemimpin sejumlah institusi perekonomian dan pembangunan internasional, dan para peserta pertemuan yang terdiri atas 22 kepala negara atau pemerintahan.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo sebagai salah satu peserta konferensi, menyerukan sejumlah langkah luar biasa bagi upaya penanganan global mengenai dampak perubahan iklim.

Pertama, memastikan semua negara memenuhi kontribusi nasional bagi penanganan perubahan iklim (Nationally Determined Contribution/NDC). Indonesia, kata dia, telah memutakhirkan NDC untuk meningkatkan ketahanan dan kapasitas adaptasi.

Kedua, mendorong seluruh potensi masyarakat harus dapat digerakkan untuk secara bersama-sama menumbuhkan kesadaran dalam menangani dan melakukan aksi terkait dampak perubahan iklim yang niscaya terjadi di masa mendatang.

Ketiga, menyerukan penguatan kemitraan global. Terakhir, Indonesia mengajak seluruh negara untuk terus melanjutkan pembangunan hijau guna menjadikan dunia yang lebih baik.

Jokowi sangat berharap agar KTT CAS Tahun 2021 ini dapat berdampak pada peningkatan aksi iklim dunia melalui solidaritas, kolaborasi, dan kepemimpinan kolektif global, serta mengawal detail pelaksanaannya di masing-masing negara. (tempo.co, 26/1/2021).

Kalau kita perhatikan dengan seksama, pangkal penyebab persoalan perubahan iklim global adalah terjadinya pembangunan bersifat kapitalistik yang didukung penuh sistem kehidupan yang memisahkan antara kehidupan dunia dengan agama. Khususnya sistem ekonomi kapitalisme dan sistem politiknya. Akar penyebab persoalan karena pola hidup kapitalisme, dan solusinya tidak jauh dari wajah kapitalis itu sendiri. Hanya menguntungkan para pemodal sementara dampaknya untuk seluruh rakyat.

Sebut saja agenda energi hijau berupa biofuel berbasis sawit yang digadang – gadang sebagai upaya mendukung gerakan global pengurangan emisi oleh sumber energi fosil dan biodiesel. Program ini justru mengakibatkan jutaan hektare hutan dan lahan gambut dimusnahkan. Juga kebakaran hutan dan lahan gambut jutaan hektare setiap tahun. Namun, seakan penguasa tetap bersikukuh dengan pandangannya.

Seperti yang disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ,Arifin Tasrif, saat menghadiri The 11th Clean Energy Ministerial Meeting (CEM11) and The 5th Mission Innovation (MI-5). Arifin menyatakan bahwa Indonesia bertekad mengembangkan biofuel dan secara bertahap juga mengurangi penggunaan sumber energi fosil dengan biodiesel dan membangun green refinery untuk memaksimalkan potensi sawit yang dimiliki. (www.industri.kontan.co.id, 23/10/2020)

Fakta ini sangat berbeda dengan islam, dalam pandangan Islam, manusia ialah makhluk terbaik diantara semua ciptaan Allah dan berani memegang tanggungjawab mengelola bumi, maka semua yang ada di bumi diserahkan untuk manusia. Sebagai khalifah di bumi, manusia diperintahkan beribadah kepada-Nya dan diperintah berbuat kebajikan dan dilarang berbuat kerusakan. Rasulullah SAW juga memberi teladan untuk mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat diperhatikan dari Hadist-Hadist Nabi, seperti Hadist tentang pujian Allah kepada orang yang menyingkirkan duri dari jalan; dan bahkan Allah akan mengampuni dosanya, menyingkirkan gangguan dari jalan ialah sedekah, sebagian dari iman,dan merupakan perbuatan baik.

Di samping itu Rasulullah melarang merusak lingkungan mulai dari perbuatan yang sangat kecil dan remeh seperti melarang membuang kotoran (manusia) di bawah pohon yang sedang berbuah, di aliran sungai, di tengah jalan, atau di tempat orang berteduh. Rasulullah juga sangat peduli terhadap kelestarian satwa.

Maka tentu tidak cukup penyelesaian perubahan iklim dengan hanya menggelar konferensi tingkat tinggi yang mana solusinya tidak jauh dari kaca mata kapitalis. Perlu perubahan lebih mendasar untuk menyelesaikan kondisi ini. Wallahu a’lam bi ash showab.

Post a Comment for "Perubahan Iklim, cukupkah Dengan Konferensi Tingkat Tinggi?"