Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Perempuan di Tengah Arus Kapitalisme

Di tengah gempuran budaya asing dan sistem kapitalisme saat ini, perempuan menjadi salah satu korban kedzaliman sistem tersebut. Lihatlah para ibu saat ini tak ada bedanya dengan para bapak yang berangkat pagi pulang petang untuk mencari uang.

Oleh : Emmy Emmalya (penggiat Literasi)

Di tengah gempuran budaya asing dan sistem kapitalisme saat ini, perempuan menjadi salah satu korban kedzaliman sistem tersebut. Lihatlah para ibu saat ini tak ada bedanya dengan para bapak yang berangkat pagi pulang petang untuk mencari uang.

Di satu sisi, mereka dituntut menjadi benteng keluarga untuk menjaga anak-anak dari lingkungan yang merusak sekaligus mengurus rumah tangga. Tapi di sisi yang lain, merekapun terbebani tanggungjawab ‘menyelamatkan’ kondisi ekonomi keluarga dengan cara ikut bekerja mencari nafkah tambahan, atau bahkan harus ‘menggantikan’ posisi bapak yang terimbas krisis ekonomi yaitu terpaksa dirumahkan. Apalagi ketika kondisi pandemi Covid-19 saat ini, banyak para bapak yang diputuskan hubungan kerjanya.

Akhirnya para ibu harus menjadi tulang punggung bagi keluarganya dan meninggalkan kodratnya sebagai seorang ibu yaitu sebagai ummu wa robbatul bait, ibu dan pengatur urusan rumah tangga.

Kondisi ini di perparah dengan munculnya gagasan gender equality, yakni upaya menyetarakan perempuan dan laki-laki dari beban-beban yang menghambat kemandirian sekalipun dengan cara mereduksi nilai-nilai budaya dan agama. Beban itu antara lain perannya sebagai ibu yaitu, hamil, menyusui, mendidik anak dan mengatur urusan rumah tangga.

Lalu dengan teracuni ide kesetaraan gender ini, para perempuan berbondong-bondong meninggalkan kodratnya dan mereka berlomba mensejajarkan diri dengan laki-laki.

Namun apa daya, begitu mereka memasuki ranah publik, ekploitasi habis-habisan atas diri perempuan yang terjadi. Perempuan menjadi obyek eksploitasi sistem Kapitalisme yang memandang materi adalah segalanya. Sadar ataupun tidak para perempuan dijadikan sebagai ujung tombak dalam sistem kapitalisme.

Para perempuan rela mengumbar auratnya hanya demi mendapatkan materi yang sifatnya sesaat.

Tidak hanya perempuan dewasa, para gadis-gadis ABG, anak-anak kecil sudah dikader menjadi bagian dari bisnis eksploitasi. Lihat saja, di layar kaca, bintang sinetron, iklan dan penyanyi bertaburan artis-artis cilik.

Di sisi lain, perempuan terdidik yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi turut terjebak dalam lingkaran eksploitasi.

Tenaga dan pikiran mereka diperas habis-habisan untuk menggerakkan roda-roda perekonomian. Mereka lebih banyak menghabiskan waktunya di gedung-gedung perkantoran nan menjulang tinggi daripada memasak dirumah. Mereka lebih asyik bercengkrama dengan realsi di kafe daripada mendidik anaknya sendiri di rumah. Mereka lebih intens berinteraksi dengan bos dikantor daripada dengan suaminya di rumah. Begitukah hakikat persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan?

Sistem Kapitalisme Menghancurkan Keluarga Muslim

Keluarga muslim, tentu tak lepas dari kondisi menyakitkan ini, Keluarga muslim saat ini ikut terjebak dalam kehidupan yang materialistik dan individualistik. Jarang ditemui keluarga muslim yang benar-benar bisa menegakkan nilai-nilai Islam. Tak sedikit keluarga muslim yang turut goyah bahkan tergoncang.

Disharmonisasi suami istri bukan barang baru, angka perceraian semakin tinggi dan uniknya saat ini yang banyak mengajukan perceraian adalah pihak istri, ini terbukti dari berita yang sempat viral beberapa waktu lalu yang mengabarkan antrian panjang para istri yang menggugat suaminya di KUA soreang Bandung.

Lalu hasil survei Komnas Perlindungan Anak yang menyatakan 93,8 persen 4.700 siswa SMP/SMA di depok Jawa Barat, yang mengaku pernah berhubungan seksual (CNNIndonesia.com). Tak hanya itu kasus ASN perempuan yang berpoliandri pun sempat viral diberitakan(detiknews, 20/08/20).

Inilah potret umat muslim saat ini, umat yang Allah Swt telah sifati dnegan predikat “khoiru ummah”, umat terbaik. Lalu apa yang salah, jika faktanya jauh panggang dari api? Umat yang dipredikati unggul, ternyata tak lebih dari umat yang bermoral rendah, bodoh, miskin, kriminal, penakut dan predikat-predikat memalukan sekaligus memilukan lainnya. Dan ironisnya, fakta inipun menjadi semacam brand image (citra diri) yang kuat melekat pada umat Islam diseluruh dunia. Menyedihkan!

Mengapa Bisa Terjadi ?

Setidaknya ada dua faktor penyebab kenapa kondisi di atas bisa terjadi.

Pertama, faktor internal umat Islam yang lemah secara akidah sehingga tidak memiliki visi-misi hidup yang jelas. Hal ini diperparah dengan lemahnya pemahaman mereka terhadap aturan-aturan Islam, termasuk tentang konsep pernikahan dan keluarga, fungsi dan aturan-aturan main di dalamnya.

Kedua, faktor eksternal, berupa adanya upaya konspirasi asing untuk menghancurkan umat Islam dan keluarga muslim melalui serangan berbagai pemikiran dan budaya sekuler yang rusak dan merusak, terutama faham liberalisme yang menawarkan kebebasan individu, baik dalam berpendapat, berperilaku, beragama. Paham ini secara langsung telah mengeliminir peran agama dari pengaturan kehidupan manusia, sekaligus menjadikan manusia bebas menentukan arah dan cara hidupnya, termasuk yang terkait dengan relasi antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan keluarga.

PBB atas pesanan negara-negara Barat Kapitalis, sangat giat mengeluarkan berbagai konvensi dan kesepakatan internasional terkait dengan isu HAM, kesetaraan gender dan lain-lain, semisal Deklarasi Universal HAM, Konvensi tentang penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan, Konvensi Internasional tentang hak-hak sipil dan politik, MDGs dan semisalnya. Yang pada dasarnya memiliki spirit perjuangan dan target yang sama, yaitu kebebasan dalam segala hal, termasuk didalamnya menuntut kebebasan dan kesetaraan laki-laki dan perempuan.

Celakanya negeri-negeri muslim turut merativikasi konvensi tersebut sehingga ikut mengaruskan spirit tersebut. Spirit yang tiada lain adalah pembebasan dari aturan Islam. Termasuk didalamnya merombak pola interaksi, peran dan fungsi perempuan sebagaimana yang diajarkan Islam sekaligus menghapus kepemimpinan suami, yang berujung pada upaya memdesaklarisasi lembaga perkawinan sekaligus membuka kran kebebasan atas nama kesetaraan dan HAM.

Lalu, mengapa konsiprasi penghancuran ini dilakukan ? tidak lain karena Islam dan umat Islam mempunyai potensi ancaman bagi hegemoni peradaban Barat(kapitalisme global). Selain potensi sumber daya manusia yang besar berikut sumber daya alam yang berlimpah. Islam dan umat Islam memiliki potensi ideologis yang jika semua potensi ini disatukan akan mampu menyaingi sistem kapitalisme global.

Di samping itu, keluarga muslim saat ini masih berfungsi sebagai benteng pertahanan terakhir, yang menjaga sisa-sisa hukum Islam terkait keluarga dan individu, setelah hukum-hukum Islam lainnya menyangkut aspek sosial dan kenegaraan berhasil mereka hancurkan.

Terpeliharanya sisa-sisa hukum Islam dalam keluarga muslim juga menyimpan potensi ancaman bagi sistem kapitalis, karena dari instusi keluargalah akan lahir generasi-generasi pejuang harapan umat di masa depan. Inilah yang mereka takutkan.

Itulah mengapa mereka begitu gigih menghancurkan keluarga muslim dengan berbagai cara. Diantaranya, dengan menjauhi para muslimah dari cita-cita menjadi ibu atau dari penyempurnaan peran ibu.

Secara sistem, diciptakan kemiskinan struktural melalui penerapan sistem ekonomi kapitalis yang memaksa ibu bekerja untuk menutupi kebutuhan keluarga sehingga peran ibu di dalam rumah tidak optimal.

Dengan kondisi perempuan saat ini dimana mereka terjerebab dalam kubangan kapitalisme, maka perlu ada usaha agar perempuan kembali pada tujuan penciptaannya, yaitu sebagai sosok ibu dan pengatur urusan rumah tangga.

Satu-satunya cara untuk menghentikan semua ini hanya dengan bersama-sama bertekad untuk meninggalkan sistem liberal sekuler ini bersama umat dan melakukan pencerdasan umat dengan Islam kaffah (ideologis).

Targetnya adalah membangun profil muslim dan muslimah tangguh yang siap berjuang melakukan perubahan sistem menuju tegaknya syar’ah Allah dalam bingkai Khilafah. Wallahu’alam bishowab.

Post a Comment for "Perempuan di Tengah Arus Kapitalisme"