Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kerusuhan AS, Potret Buram Demokrasi

Kerusuhan AS, Potret Buram Demokrasi

Oleh : War Yati (Komunitas Pena Islam)

Publik dunia digemparkan oleh kisruh yang terjadi di Gedung Capital di Washington, AS saat Kongres AS menggelar sidang gabungan untuk mengesahkan kemenangan Biden dalam Pilpres AS 2020. Kerusuhan tersebut berawal saat para pendukung Trump yang melakukan aksi unjuk rasa pada Rabu (6/1) waktu setempat atau Kamis (7/1) pagi waktu Indonesia. Pendukung Trump tersulut emosi akibat kecurangan pemilu yang berulangkali disampaikan oleh Trump. Mereka merangsek masuk ke dalam gedung dan melakukan tindak anarkis. Sedikitnya ada 4 orang tewas dalam insiden itu.

Tak sedikit para pemimpin dunia dan diplomat mengecam kejadian penyerangan ini. Mereka menyayangkan aksi yang dilakukan pendukung Trump dan menganggap serangan ini sebagai bentuk penyerangan terhadap demokrasi.

Seperti yang disampaikan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson bahwa kerusuhan di Washington sebagai insiden yang memalukan. "AS adalah simbol demokrasi di seluruh dunia dan sangat penting bagi AS untuk melakukan transisi kekuasaan dengan damai dan tertib," cuitnya pula di akun Twitter.

Buntut rusuh di Capital menimbulkan kegoncangan di gedung putih. Beberapa pejabat dikabarkan mengundurkan diri. Seperti Stephanie Grisham selaku kepala staf ibu negara, Rickie Niceta sekretaris sosial, dan wakil sekretaris Gedung Putih, Sarah Matthews. Sebagaimana yang dilaporkan Reuters, menurut sumber yang mengetahui kejadian tersebut masih ada beberapa pejabat lain yang sedang mempertimbangkan untuk mengundurkan diri juga.

Amerika Serikat adalah negara kampiun demokrasi yang menjadi tolok ukur terkait tindak-tanduk yang dilakukan dan segala macam yang menyangkut demokrasi. Wajar ketika publik dunia menilai buruk kejadian ini dan menambah deretan rapor merah bagi demokrasi.

Demokrasi selalu mengatakan bahwa hasil dari sebuah pemilihan adalah keputusan mutlak yang tak dapat diganggu gugat. Sistem ini pun tak henti mengkampanyekan tentang arti pemilu yang begitu mendewakan suara rakyat. Siapa mendapat suara terbanyak, maka dialah pemenangnya.

Jargon-jargon demokrasi terdengar indah di telinga dan mampu membius hati. Namun demikian, semua hanya janji yang selalu diingkari. Ironisnya, hampir seluruh dunia terbuai dengan sistem ini dan memakainya tuk mengatur kehidupan pribadi dan negara. Semua nilai-nilai baik yang dibawa demokrasi nyatanya hanya sebagai pencitraan dari sistem ini.

Saling menghargai, saling menerima hasil dari sebuah pemilu, semua hanya ilusi. Nafsu kekuasaan lebih dominan menguasai diri dan kelompok. Kisruh AS membuktikan bahwa kekuasaan demokrasi hanya alat kepentingan tuk memenuhi syahwat belaka. Sekali berkuasa, maka akan terus mempertahankan kekuasaanya apa pun jalannya. Sekalipun kekuasaan tersebut tak diinginkan oleh rakyatnya.

Sikap anarkis yang berulang dipertontonkan oleh warga AS kepada mata dunia, bukti bahwa AS sendiri sebagai negara pencetus demokrasi tidak mampu membuktikan nilai-nilai yang dibawa demokrasi. Sikap ini lahir dari konsekuensi kebebasan yang diusung demokrasi. Bebas berpendapat dan bebas bersikap tanpa memiliki landasan jelas akan menjadi bom waktu bagi kehancuran demokrasi itu sendiri.

Beragam persoalan pelik yang ditimbulkan oleh demokrasi sampai saat ini. Sistem ini pun belum mampu mencarikan solusinya. Walaupun ada banyak kebijakan yang digulirkan tuk menyelesaikan suatu permasalahan, tapi pada faktanya justru menambah masalah baru.

Saatnya umat dan masyarakat dunia khususnya mampu menganalisis dan mencerna berbagai konflik yang terjadi. Mengulik akar penyebab masalah dan memetakannya sekaligus mencari solusi. Menggantungkan harapan pada demokrasi hanya akan berujung kekecewaan. Demokrasi bukan solusi. Tindak kekerasan dan kekisruhan akan selalu berulang terjadi, selama sistem demokrasi masih merajai.

Satu-satunya sistem yang mengajarkan nilai persatuan dan menghormati hasil pemilihan hanyalah sistem Islam. Dalam Islam, saat rakyat sudah sepakat memilih seorang pemimpin, maka rakyat harus tunduk patuh terhadap titah pemimpin tersebut. Dalam hal ini, tentunya keterpilihan pemimpin sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh syariat Islam.

Wallahua'lam

Post a Comment for "Kerusuhan AS, Potret Buram Demokrasi"