Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Islam, Solusi Mengatasi Masalah Wabah

Pemerintah memiliki rencana untuk memberlakukan deteksi Covid-19 dengan alat Genose (Gajah Mada Electric Nose Covid-19) digunakan secara masal.  Namun sayangnya, rencana tersebut terkendala masalah produksi. Alat buatan riset tim UGM ini memiliki tingkat akurasi hingga 90 persen dan bisa mendeteksi virus dalam 50 detik.  Namun menteri kesehatan menyampaikan, untuk memproduksi secara masal alat pendeteksi ini masih terkendala masalah kapasitas produksi.

Oleh : Emmy Emmalya (Pegiat Literasi dan Kontributor Media)

Pemerintah memiliki rencana untuk memberlakukan deteksi Covid-19 dengan alat Genose (Gajah Mada Electric Nose Covid-19) digunakan secara masal.

Namun sayangnya, rencana tersebut terkendala masalah produksi. Alat buatan riset tim UGM ini memiliki tingkat akurasi hingga 90 persen dan bisa mendeteksi virus dalam 50 detik.

Namun menteri kesehatan menyampaikan, untuk memproduksi secara masal alat pendeteksi ini masih terkendala masalah kapasitas produksi.

Oleh karena itu pemerintah meminta kepada PT. Bio Farma untuk berkolaborasi dengan pihak swasta seperti PT Len Industry dan PT Pindad untuk membantu memproduksi GeNose.

Untuk sekian kalinya pemerintah selalu melibatkan swasta untuk menangani kebutuhan publik, padahal sejatinya apabila bekerjasama dengan pihak swasta pasti akan selalu berbasis profit oriented. Tentu dengan seperti ini, masyarakat tidak akan bisa menikmati alat pendeteksi karya anak bangsa ini secara gratis.

Perspektif ini lahir dari sistem Kapitalisme yang telah dianut oleh penguasa saat ini. Dengan mejadikan Kapitalisme sebagai landasan pengambilan kebijakan akan menjadikan layanan kesehatan menjadi barang komersil yang bisa diperjualbelikan.

Motif ekonomi selalu menjadi prioritas kebijakan dalam sistem ini walaupun harus mengabaikan nyawa manusia. Ditambah lagi kapitalisme menjadikan negara hanya berfungsi sebagai regulator dan fasilitator saja.

Maka tak heran setiap kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan urusan publik selalu menggandeng pihak swasta dalam merealisasikannya.

Inilah penyebab penyelesaian pandemi yang berlarut-larut dalam penanganannya sehingga semakin memburuk. Inilah akibat penerapan sistem Kapitalisme sehingga mengabaikan nyawa manusia.

Sejatinya kondisi ini tidak akan terjadi apabila sistem Islam diterapkan dalam mengatur kehidupan manusia. Karena Islam memiliki paradigma mendasar yang berbeda dengan sistem Kapitalisme.

Jika sistem Kapitalisme selalu berorientasi profit dan mendudukkan negara hanya sebagai regulator, maka sistem Islam menetapkan negara sebagai penanggungjawab urusan umat.

Negara harus selalu hadir dan terdepan dalam menangani permasalahan yang dihadapi oleh umat.

Negara adalah pengurus dan pelayan urusan umat yang senantiasa memprioritaskan kepentingan rakyatnya dan tidak akan menyerahkan urusan rakyatnya pada pihak swasta.

Imam bukhori meriwayatkan dari Ibnu Umar Ra, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda ; “Seorang Imam yang berkuasa atas masyarakat adalah bagai penggembala dan dia bertanggungjawab atas gembalaannya atau rakyatnya”.

Maka ketika terjadi pandemi negara akan melakukan berbagai upaya agar bisa menyelamatkan rakyatnya dari kebinasaan.

Ada beberapa upaya yang akan dilakukan oleh negara Islam ketika awal pandemi melanda, pertama, negara akan melakukan tindakan pemutusan rantai penularan penyakit.

Negara akan segera mentracing dan memisahkan antara orang yang terinfeksi dengan orang yang sehat.

Rasulullah Saw, bersabda ; “Janganlah unta yang sakit dicampur dengan unta yang sehat”. (HR. Bukhori dan Muslim).

Hal ini dilakukan agar penyakit tidak meluas ke wilayah lain. Pemisahan tersebut dilakukan setelah melakukan swab tes dan rafid tes masif secara gratis. Daerah pusat pandemi akan di lockdown lokal.

Kedua, negara akan bertanggungjawab penuh sebagai pengurus rakyat. Ketika didapati anggota masyarakat yang terinfeksi maka negara akan segera mengisolasinya dan merawatnya dengan kualitas terbaik dan pembiayaannya akan ditanggung oleh negara hingga sembuh.

Sedangkan bagi anggota masyarakat yang sehat mereka akan tetap dapat beraktivitas seperti biasa dengan tetap disiplin protokol kesehatan tanpa takut tertular.

Ketiga, negara akan memperkuat dan meningkatkan sistem kesehatan. Fasilitas obat-obatan, SDM baik dokter, perawat atau tenaga medis lainnya.

Keempat, negara akan mendorong para ilmuwan untuk menemukan metode obat atau vaksin untuk mengatasi pandemi. Mereka akan dibiayai oleh negara untuk melakukan riset. Negara tidak akan berpikir untung rugi dari segi finansial.

Kalaupun negara harus bekerjasama dengan pihak swasta, maka hanya sebatas akad kontrak untuk produksi saja bukan untuk profit oriented sebagaimana dilakukan oleh sistem Kapitalisme saat ini.

Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh sultan khilafah ustmani pada abad 19 tahun 1846, yang menyediakan fasilitas kesehatan vaksinasi terhadap anak-anak warga muslim dan non muslim.

Maka produksi GeNose C19 buatan tim riset UGM tidak akan mendapatkan kesulitan untuk dipoduksi masal jika alat tersebut teruji secara klinis. Negara akan memproduksinya secara masal dan dibagikan secara gratis kepada rakyatnya.

Hal ini akan teralisasi karena negara Islam memiliki sumber anggaran yang pasti yaitu Baitul Mal. Untuk anggaran layanan publik seperti layanan kesehatan dan penanganan pandemi, negara akan mengambil dari pos kepemilikan umum yang berasal dari pengelolaan kekayaan alam.

Dalam sejarah, setidaknya ada tiga wabah yang pernah melanda dunia Islam dan sistem Islam terbukti mampu mengatasi wabah tersebut.

Pertama, wabah yang terjadi di Amwas wilayah Syam, yang kini dikenal dengan nama Suriah di tahun 639 M, yang telah mengantarkan syahidnya dua sahabat Nabi Saw, yaitu : Abu Ubaidah bin Jarrah dan Muadz bin Jabal.

Kedua, wabah ‘Black Death’ yang mengepung Granada, benteng terakhir umat Islam Andalusia pada abad 14.

Ketiga, wabah Smallpox pada abad ke 19 yang melanda Utsmani. Semuanya bisa diselesaikan secara komprehensif dan tepat pada masa itu. (https://al-waie.id/siyasah-dakwah/kebijakan-islam-dalam-menangani-wabah-penyakit/).

Begitulah cara Islam dalam mengatasi persoalan wabah yang melanda. Sehingga tidak berlarut-larut seperti saat ini terjadi.

Sudah saatnya penguasa saat ini mengambil Islam sebagai solusi untuk mengatasi wabah ini , agar wabah bisa segera ditangani dan rakyat tidak terus berada dalam ketakutan dan ketidakjelasan. Wallahu’alam bishowab.

Post a Comment for "Islam, Solusi Mengatasi Masalah Wabah"