Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Generasi Malin Kundang, Bukti Rusaknya Kapitalisme Sekuler

Benak masyarakat kini sudah dijejali berita dan fakta tentang hancurnya benteng pertahanan terakhir sebuah masyarakat yaitu keluarga. Ini bukan berita baru. Kita belum lupa seorang anak menggugat ibunya di pengadilan Garut gara-gara warisan. Demikian pula anak yang tak tahu diri menggugat ayah kandungnya sendiri di pengadilan Bandung juga gara-gara warisan. Apa penyebab semua ini terjadi? Ternyata tingkat pendidikan dan intelektualitas yang semakin baik dan tinggi dibanding zaman dulu tak berbanding lurus dengan ketinggian adab terhadap orang tua. Potret Malin kundang kekinian adalah buah sistem kapitalisme sekular yang rusak dan merusak.

Oleh : Rengganis Santika A.,STP

"Harta yang paling berharga adalah keluarga...." begitulah sepenggal lagu yang cukup populer ditelinga publik negri "berflower" ini. Lagu yang menggambarkan sebuah keluarga yang harmonis atau "baiti jannati", rumahku surgaku. Keluarga memang harta paling berharga manakala antara anggota keluarga terjalin keharmonisan salng menyayangi dan melindungi. Sebaliknya keluarga bisa berubah seolah bagai neraka bila tidak terjadi keharmonisan dan kedamaian. Belum lepas dari ingatan kita, berita tragis orangtua durhaka membunuh anak, menyiksa, dll. Sebaliknya tak sedikit berita anak-anak durhaka, bagai dongeng yang melegenda Malin kundang si anak durhaka. Kini cerita "malin kundang" viral, bukan sekedar anak berkata kasar tak mau mengakui mak nya, namun level kedurhakaan yang menyesakkan dada, sungguh miris! anak tega anggap ibunya kriminal, musuh! tega mempidanakan ibu yang telah berkorban nyawa mengandung dan melahirkannya.

Di Demak Jawa tengah seorang anak memenjarakan ibu kandungnya sendiri gara-gara baju, kini ibunya yang berinisial S (36 tahun) mendekam di sel tahanan terjerat pasal KDRT (Detik.com). Demikian pula apa yang terjadi di Lombok NTB, M (40), warga asal Lombok Tengah, Nusa Tengara Barat (NTB) datang ke Mapolres Lombok Tengah hendak melaporkan ibu kandungnya K (60), ke polisi.Kepada polisi, M hendak melaporkan ibu kandungnya karena masalah motor. Berbeda dengan kasus diatas, laporan M ditolak langsung oleh Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah AKP Priyo Suhartono.. Penolakan laporan itu pun viral di media sosial Facebook dan Youtube yang kemudian menjadi viral, .Priyo meminta permasalahan ini diselesaikan secara kekeluargaan. (Tribun.news.com Lombok).

Kapitalisme Sekuler Menghancurkan Tata Nilai Agama Dan Adat

Benak masyarakat kini sudah dijejali berita dan fakta tentang hancurnya benteng pertahanan terakhir sebuah masyarakat yaitu keluarga. Ini bukan berita baru. Kita belum lupa seorang anak menggugat ibunya di pengadilan Garut gara-gara warisan. Demikian pula anak yang tak tahu diri menggugat ayah kandungnya sendiri di pengadilan Bandung juga gara-gara warisan. Apa penyebab semua ini terjadi? Ternyata tingkat pendidikan dan intelektualitas yang semakin baik dan tinggi dibanding zaman dulu tak berbanding lurus dengan ketinggian adab terhadap orang tua. Potret Malin kundang kekinian adalah buah sistem kapitalisme sekular yang rusak dan merusak.

Kapitalisme sekuler, memiliki azas manfaat tanpa memandang nilai-nilai normatif seperti agama/syariat dan adat istiadat. Demi manfaat dunia, kapitalisme bisa membutakan nurani kebenaran dan naluri melestarikan keturunan, termasuk didalamnya naluri kasih sayang antar anggota keluarga. Jangankan nilai syariat Islam yang menjadi agama mayoritas negri ini, nilai adat ketimuran yang konon masih menjunjung tinggi adab penghormatan pada orang yang lebih tua khususnya ayah dan ibu sudah terkikis. Paham sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan hingga ke akar-akarnya, makin menjauhkan anak dan orang tua dari nilai-nilai pendidikan agama. Dalam sekularisme aturan kehidupan di dunia diserahkan sepenuhnya pada pendapat akal manusia yang terbatas.

Oleh karena itu penilaian halal haran sesuai hawa nafsu manusia. Kapitalisme pun mellahirkan ide materialistik dan hedonisme yang berorientasi pada harta, uang, kepuasan jasadi. Demi materi manusia bisa bebas melabrak norma agama dan adat. Inilah fakta yang terjadi dimana anak sekedar tumbuh sehat, bisa sekolah meraih ilmu tapi pada saat yang sama mengalami krisis moral dan akhlak hingga justru jauh dari tujuan pendidikan nasional itu sendiri yaitu meraih iptek dan imtak.

Saat ini generasi yang dicetak berilmu tinggi tapi minus iman dan takwa. Diterapkannya sistem kapitalisme sekuler akhirnya sukses membentuk masyarakat yang memiliki perasaan dan pemikiran yang rusak, tatanan keluarga hancur, hubungan orangtua anak rapuh, sulit membangun komunikasi yang efektif, akhirnya konflik fisik dan verbal tak terelakan, syetan menyelinap hingga akal sehat dan naluri mati. Sementara itu ciri masyarakat kapitalistik adalah individualistik, cuek tidak peka terhadap problem masyarakat sekitarnya.

Solusi Islam Yang Komprehensip

Dalam masyarakat islam terdapat tiga pilar penyokong, dimana ketiganya tidak boleh ada yang rapuh atau keropos hingga bisa menghancurkan bangunan masyarakat. Pilar pertama adalah ketaqwaan individu, dimana ketaqwaan mengarahkan seseorang harus paham dan terikat pada syariat islam. Keluarga berperan penting dalam membangun ketakwaan individu. Ayah memiliki peran sentral dalam islam sebagai qowwam yang wajib menjaga diri dan keluarganya dari api neraka (QS at tahrim: 6). Peran ibu sebagai ummun wa robbatul bayt (ibu dan pengurus rumah tangga) juga sekaligus madrosatul ula anak-anaknya. Ayah dan ibu bekerjasama mentarbiyah anak-anak dengan syariah membangun ketakwaan. Anak yang kenal syariah tak akan berani menentang apalagi durhaka pada orangtua selama tidak bermaksiat pada Alloh. Begitulah islam mengatur tupoksi anggota keluarga.

Pilar kedua adalah kontrol masyarakat ,dimana mekanisme kontrol ini dilakukan melalui dakwah, amar ma'ruf nahi munkar untuk menjaga akhlaq dan moralitas masyarakat . Sehingga perilaku-perilaku menyimpang anggota masyarakat tidak sampai muncul..Dan yang terpenting sebagai pilar ketiga adalah peran negara yang wajib menerapkan aturan berdasarkan hukum Alloh zat yang maha sempurna. Hanya pemerintahan dalam landasan syariat islam lah yang bermomitmen menjaga harta, jiwa, darah warganya. Negara menegakkan keadilan ditengah masyarakat.

Tak pernah ada dalam sejarah islam anak memperkarakan orangtuanya. Barangkali pernah ada kisah dimasa khalifah Umar bin khattab ra, ada laki-laki tua yang mencuri , negara menegakan equal before law, ditelusuri ternyata dia butuh kehidupan dan tidak dinafkahi oleh anaknya yang telah dewasa, khalifah langsung menegur anaknya agar birrul walidain (berbakti pada orangtua) apalagi telah lansia. Sejarah islam justru mencatat dengan tinta emas kegemilangan putra putri generasi islam yang membanggakan para orangtua di dunia dan akhirat...wallohu'alam.

Post a Comment for "Generasi Malin Kundang, Bukti Rusaknya Kapitalisme Sekuler"