Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Era Kapitalis: Generasi dibentuk Sekadar Berjiwa Materialis

Di tengah suasana pandemi Covid-19 saat ini, Menteri kebudayaan dan pendidikan Nadiem Makarim membuat kebijakan baru perihal perencanaan pendidikan vokasi yang diterapkan pada tingkat SMK. Dikutip dari detik news.com (09/01/2021), Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Vokasi) bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah melakukan penyesuaian kurikulum SMK dalam rangka mendukung program link and match. Terdapat lima aspek yang akan mendapat perubahan.

Oleh Nurhikmah (Team Pena Ideolodis Maros)

Di tengah suasana pandemi Covid-19 saat ini, Menteri kebudayaan dan pendidikan Nadiem Makarim membuat kebijakan baru perihal perencanaan pendidikan vokasi yang diterapkan pada tingkat SMK. Dikutip dari detik news.com (09/01/2021), Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Vokasi) bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah melakukan penyesuaian kurikulum SMK dalam rangka mendukung program link and match. Terdapat lima aspek yang akan mendapat perubahan.

Pertama, mata pelajaran yang bersifat akademik dan teori akan dikontekstualisasikan menjadi vokasional, misalnya mata pelajaran matematika dan Bahasa Indonesia diubah menjadi matematika terapan dan Bahasa Indonesia terapan.

Kedua, magang atau praktik kerja industri (prakerin) minimal satu semester atau lebih. Ketiga, terdapat mata pelajaran project base learning dan ide kreatif kewirausahaan selama 3 semester.

Ketiga, SMK akan menyediakan mata pelajaran pilihan selama 3 semester, misalnya siswa jurusan teknik mesin dapat mengambil mata pelajaran pilihan marketing. Dan kelima, terdapat co-curricular wajib di tiap semester, misalnya membangun desa dan pengabdian masyarakat.

Disisi lain, dilansir dari Kompas.com (08/01/2021) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan bekerjasama dengan Google, Gojek, Tokopedia, dan Traveloka untuk menyelenggarakan program Bangun Kualitas Manusia Indonesia (Bangkit) 2021.

Bangkit 2021 merupakan program pembinaan talenta digital yang diperuntukkan bagi mahasiswa diseluruh perguruan tinggi Indonesia untuk menyiapkan sembilan juta talenta terampil di tahun 2030 mendatang. Dengan kebijakan ini, diharapkan mahasiswa memiliki talenta yang siap untuk terjun ke dunia kerja diberbagai perusahaan setelah keluar dari dunia akademis.

Tujuan pendidikan yang harusnya sebagai wadah membentuk generasi menjadi agen perubah dan pembangun peradaban cemerlang, di era kapitalis berbelok hanya sekadar menjadi wadah tuk meraup nilai material bahkan sekadar menjadi tenaga kerja bagi para korporat.

Hal ini semakin nampak jelas pada kebijakan vokasi tersebut, yang menunjukkan bahwa pemberdayaan potensi generasi hanya dijadikan sebatas pada pencapaian nilai materi dan perlibatan pihak korporasi pada kebijakan ini, justru secara tidak langsung membuat potensi generasi, kelak akan diserahkan kepada para perusahaan-perusahaan swasta atau para korporat. 

Biaya pendidikan mahal di tengah sistem pendidikan kapitalis pun semakin memperparah, sebab hal itu telah membentuk basis pemikiran pada siswa maupun orang tua siswa hanya terukur pada nilai materi semata, sebab mereka akan lebih fokus untuk mengembalikan modal yang telah dikeluarkannya selama masa pendidikan. 

Sangat disayangkan, potensi generasi yang harusnya dapat dimanfaatkan negara sebagai pembawa perubahan menuju peradaban yang lebih maju, malah hanya dijadikan peluang meraih keuntungan materi semata, hingga sebatas alat untuk mengenyangkan para koporasi.

Sehingga wajar, di tengah sistem pendidikan kapitalis, generasi yang dilahirkan hanyalah generasi yang bermental tenaga kerja bahkan buruh perusahaan bukan perubah juga pencetus dari perusahaan tersebut, apalagi menjadi seorang pemimpin.

Islam Melahirkan Generasi Cemerlang

Berbeda halnya dengan pandangan Islam. Islam memandang bahwa pendidikan adalah suatu hal yang amat penting bagi generasi. Sebab disanalah generasi akan dididik menjadi seorang yang berkepribadian Islam, terampil dan handal dalam pemikiran Islam, menguasai ilmu-ilmu terapan, serta mempunyai keterampilan yang berdaya guna demi menyongsong suatu peradaban yang gemilang. 

Negara yang menerapkan sistem pendidikan Islam tentu tak akan menyia-nyiakan potensi yang dimiliki oleh para generasi. Negara akan mengarahkan potensi tersebut agar mampu membawa perubahan ke arah yang lebih maju dengan menyediakan fasilitas dan berbagai infrastuktur yang memadai demi kefektifan proses pendidikan, mulai dari gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, balai penelitian, buku-buku pelajaran, dan fasilitas mendukung lainnya. 

Selain itu kurikulum yang diterapkan berbasis pada aqidah Islam, pada tingkat TK dan SD pembelajaran lebih difokuskan pada pembentukan kepribadian Islam berupa pembangunan aqidah, dan diusia balig atau pada tingkat SMP, SMA, dan PT akan diberikan pembelajaran lanjutan berupa pembentukan, peningkatan dan pematangan aqidah, serta pembelajaran lanjutan mengenai ilmu-ilmu terapan atau ilmu IPTEK. 

Dengan kurikulum demikian, pendidikan akan mampu melahirkan output -output generasi yang cemerlang yang tak hanya berkepribadian Islam tetapi juga mampu menguasai IPTEK, sehingga mampu membawa perubahan gemilang bagi negara.

Sebagai sala satu bukti, pada masa kekhilafahan Abbasiyah terdapat Madrasah Al-Mu'tasin Billah di Baghdad yang memberikan beasiswa bagi setiap siswa sebanyak 1 dinar atau setara dengan 4,25 gram emas, serta menyediakan living kos, perpustakaan lengkap, rumah sakit, dan permandian.

Dengan ini, sangat wajar bila pada masa tersebut lahir berbagai tokoh-tokoh agama terkemuka, serta para ilmuan atau penemu-penemu yang ilmunya bahkan hingga hari masih terpakai. Seperti empat imam Mashab (Imam Malik, Syafi'i, Hambali, dan Hanafi), Al Biruni seorang ahli fisika, Al Khawarizmi penemu angka nol, Ibnu Sina yang terkenal sebagai bapak kedokteran modern, Ibnu Rusyd (Ahli Filsafat), Jabir bin Hayyan pakar kimia, Ibnu Khaldun pakar sejarah dan sosiologi, dan masih banyak lagi.

Semua ini tentu tak dapat dilahirkan selain dari penerapan syariah Islam secara kaffah, termasuk sistem pendidikan Islam. Sebab, pada dasarnya sistem kehidupan tak mungkin dapat tercipta dengan sempurna jika berasal dari makhluk yang lemah, tetapi mesti berasal dari sang maha sempurna yaitu Allah swt. 

Wallahu'alam Bisshawab

Post a Comment for "Era Kapitalis: Generasi dibentuk Sekadar Berjiwa Materialis"