Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bencana Banjir Kalsel, Bukti Kesalahan dan Keserakahan Kapitalisme

bukti kerusakan pada sistem kapitalisme yang diadopsi Negeri ini, penguasa atau pemimpin tidak menjadikan hukum Allah sebagai pedoman untuk mengatur Negara akan tetapi mereka lebih suka menjadikan Negara diatur oleh para kapitalisme yang menawarkan kemewahan hidup tapi membawa masyarakat pada penderitaan dan kesengsaraan.

Oleh: Heriani Leli (Komunitas Pena Ideologis Maros)

“Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga
Dengan Dosa-dosa, atau alam
Mulai enggan bersahabat dengan kita...”

Lagu ciptaan almarhum Ebit G. Ade ini, seakan kembali mengingatkan kita bahwa segala kerusakan yang terjadi di bumi ini tidak lain merupakan hasil dari perbuatan manusia yang jahil. Negeri Indonesia kini dirundung barbagai musibah berturut-turut. Bencana alam yang datang secara bertubi-tubi menjadi pembuka awal tahun 2021 yang seakan membawa luka, duka dan tangisan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Termasuk Kalimantan Selatan yang dilanda bencana banjir besar dalam beberapa hari, membuat warga Kalsel tidak bisa memilih jalan lain selain mengungsi. Banjir besar yang melanda Kalsel ini pun adalah banjir yang terparah dan merupakan hal yang pertama kali terjadi dalam sejarah.

Dikutip dari Suara.Com. Kisworo Dwi Cahyono, mengatakan bahwa banjir tahun ini merupakan yang terparah dalam sejarah."Banjir (2021) kali ini adalah banjir terparah dalam sejarah Kalimantan Selatan yang sebelumnya," kata Kis saat dihubungi Suara.com, Jumat (15/1/2021).

Bencana alam adalah Qadha dari Allah SWT, yang wajib kita imani dan patut kita terima dengan lapang dada serta sabar. Tapi tentu dibalik itu semua patut kita berpikir dan renungkan, bahwa semua kejadian yang terjadi tidak lepas dari keserakahan manusia yang hanya menginginkan keuntungan meteri semata tanpa menghiraukan konsekuensi yang akan terjadi dibelakangan.

Contohnya saja, hutan-hutan yang ada di Kalimantan Selatan kini sudah gundul akibat keserakahan dari korporasi kelapa sawit. Maka tak heran, bencana banjir pun kian melanda hampir seluruh kota yang ada di Kalsel, disebabkan karena perkebunan kelapa sawit itulah yang mengurangi daya serap tanah.

Inilah bukti kerusakan pada sistem kapitalisme yang diadopsi Negeri ini, penguasa atau pemimpin tidak menjadikan hukum Allah sebagai pedoman untuk mengatur Negara akan tetapi mereka lebih suka menjadikan Negara diatur oleh para kapitalisme yang menawarkan kemewahan hidup tapi membawa masyarakat pada penderitaan dan kesengsaraan.

Hutan Gundul Buah Dari Kapitalisme

Menurut pengertian dari Wikipedia, kapitalisme adalah sistem ekonomi di mana perdagangan, industri dan alat-alat produksi dikendalikan oleh pemilik swasta dengan tujuan memperoleh keuntungan dalam ekonomi pasar. Pemilik modal dalam melakukan usahanya berusaha untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya.

Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kapitalisme akan melakukan berbagai cara demi untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya, meskipun itu akan menimbulkan dampak kerusakan yang amat parah.

Penggundulan hutan di Kalimantan Selatan juga merupakan bukti dari keserakahan para Kapitalis atau korporasi. Alhasil, banjir melanda hampir seluruh kota yang ada di Kalimantan Selatan yang membuat masyarakat sebahagian besar mengalami kerugian bahkan ada yang sampai kehilangan tempat tinggalnya.

Wajar saja, berbagai kekacauan dan kerusakan yang terjadi di Negeri ini karena hukum Allah SWT tidak diterapkan tapi malah disingkirkan. Sedangkan sistem kapitalisme yang berkuasa di Dunia ini termasuk Negara Indonesia tidak lain hanya menjadi perusak dan pembawa kemudharatan bagi masyarakat, karena sistem kapitalisme lahir dari pemikiran manusia yang bersifat lemah dan amat terbatas.

Dengan menerapkan sistem kapitalisme yang menafikan hukum atau aturan Allah, maka tak heran kerusakan akan terus-menerus terjadi disebabkan karena kejahilan dan perbuatan manusia sendiri. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Rum ayat 41

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Sudah saatnya, masyarakat harus meninggalkan sistem kapitalisme yang di anut Negeri ini dan kembali kepada sisitem yang shahih yang mempu memberi perlindungan serta menjaga dan melestarikan hutan agar bisa bermanfaat bagi setiap mahkluk ciptaan Tuhan semesta alam.

Kelestarian Hutan Terjamin Dalam Khilafah

Hutan adalah paru-paru dunia, pernyataan tersebut mengarahkan bahwa fungsi hutan sangatlah penting, sebab didalam hutan memiliki banyak tumbuhan dan berbagai macam tanaman yang mampu menyerap karbondioksida. Selain itu hutan juga adalah salah satu tempat tinggalnya para binatang dari berbagai macam jenis..

Dalam pandangan Islam dibawah naungan Khilafah, hutan merupakan kekayaan milik umum (milkiyyah 'ammah'), bukan milik individu ataupun Negara. Sebab secara fakta, hutan memiliki fungsi yang ekologis dan hidrologis yang dibutuhkan oleh jutaan orang. 

Rasulullah SAW bersabda, “kaum muslim bersekutu (sama-sama memiliki hak) dalam tiga hal; yakni air, padang rumput dan api” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Karena hutan merupakan harta milik umum, maka Negaralah yang wajib untuk mengelolanya dan hasil pengelolaan hutan akan dimasukkan dalam kas Negara (Baitulmal), pos kepemilikan umum dan didistribusikan sesuai kemaslahatan rakyat menurut pandangan syariat Islam.

Negara tidak diperbolehkan atau haram menyerahkan kepeda individu atau korporasi baik untuk pembukaan tambang, perkebunan kelapa sawit dan pembangunan infrastruktur.

Akan tetapi, Negara dalam Khilafah tidak melarang jika individu memanfaatkan hutan secara langsung dalam skala terbatas. Seperti pengambilan ranting-ranting kayu atau penebangan pohon dalam skala terbatas, pemanfaatan hutan untuk berburu hewan liar, mengambil madu, rotan, buah-buahan, dan air dalam hutan. Negara khilafah cukup hanya akan melakukan pengawasan dalam kegiatan masyarakat di hutan tersebut.

Kelestarian hutan dalam Negara Khilafah begitu sangat terjamin dan membawa manfaat bagi setiap mahkluk didunia ini. Bukan hanya manusia saja yang merasakan kenikmatan dan kesejahteraan akan tetapi hewan pun turut merasakan nikmat dan kenyamanan dalam pelestarian hutan yang dikelola oleh sistem Khilafah Islamiyyah.

Oleh sebab itu hanya dengan kembali menerapkan sistem Islam dibawah naungan khilafah, maka tidak akan ada hutan yang disalahgunakan karena Khilafah akan menjaga kelestarian hutan dengan amat baik dan sempurna.

Wallahu’Alam Bisshawab

Post a Comment for "Bencana Banjir Kalsel, Bukti Kesalahan dan Keserakahan Kapitalisme"