Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Belajar Kesabaran dan Pengorbanan dari Seorang Khabbab bin Arats

Namanya Khabbab bin Arats. Sebelum merdeka ia hanyalah seorang budak yang hidup dibawah naungan seorang perempuan Quraisy bernama Ummi Amnar. Di periode awal Islam, Khabbab bin Arats banyak mengajarkan bacaan Al-Qur'an kepada sebagian kaum muslimin yang masih menyembunyikan keIslamannya. Ia lalu membacakan dan mengajarkan Al-Qur'an kepada mereka. Atas kemahirannya mengajarkan Al-Qur'an

Oleh : Miliani Ahmad

Namanya tak banyak yang mengenal. Asing namun harum dalam catatan sejarah. Ia bukanlah seorang yang berasal dari kaum bangsawan. Ia hanyalah seorang yang tak berpunya namun memiliki jiwa ksatria.

Namanya Khabbab bin Arats. Sebelum merdeka ia hanyalah seorang budak yang hidup dibawah naungan seorang perempuan Quraisy bernama Ummi Amnar. Di periode awal Islam, Khabbab bin Arats banyak mengajarkan bacaan Al-Qur'an kepada sebagian kaum muslimin yang masih menyembunyikan keIslamannya. Ia lalu membacakan dan mengajarkan Al-Qur'an kepada mereka. Atas kemahirannya mengajarkan Al-Qur'an, ada sebuah hadist yang mengabadikannya. Abdullah bin Mas'ud meriwayatkan mengenai Khabbab, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda,

"Barangsiapa ingin membaca Al-Qur'an tepat sebagaimana diturunkan, hendaklah ia meniru bacaan Ibnu Ummi Abdin (Khabbab bin Arats)."

Kita pun pernah mendengar kisah marahnya Umar bin Khattab kepada adiknya Fatimah binti Khattab. Saat itu, ia langsung mendatangi rumah adiknya setelah mendengar keIslaman Fatimah beserta suaminya. Ketika Umar tiba, Fatimah binti Khattab beserta Sa'id bin Zaid sedang membaca Al-Qur'an yang diajarkan oleh seorang guru, dan Khabbab adalah guru yang dimaksud tersebut.

Begitu luar biasa dan mulianya aktivitas Khabbab bin Arats yang tak kenal lelah mengajarkan Al-Qur'an kala itu. Tak hanya itu, Khabbab juga termasuk muslim yang begitu menggenggam keIslamannya. Ia tak pernah gentar dengan ancaman kaum Quraisy. Intimidasi dan siksaan ia tahan semata-mata demi mempertahankan iman.

Sebagai seorang pandai besi, Khabbab sering menjual senjata dan pedang buatannya ke pasar-pasar dan penduduk di kota Makkah. Karena aktivitasnya adalah pandai besi maka, di rumahnya pun banyak terdapat besi yang siap untuk ditempa. Rupanya besi-besi inilah yang digunakan kafir Quraisy untuk menyiksa Khabbab. Besi-besi tersebut diubah oleh Quraisy menjadi belenggu dan rantai besi yang selanjutnya dicelupkan kedalam api yang membara lalu mereka lilitkan ke tubuh, kedua tangan dan kedua kaki Khabbab.

Khabbab pun sangat tabah dalam menanggung semua derita. Sya'bi berkata, "Khabbab menunjukkan ketabahannya hingga tak sedikitpun hatinya terpengaruh oleh tindakan biadab orang-orang kafir. Mereka menindihkan batu membara ke punggungnya hingga terbakarlah dagingnya."

Begitu sabar dan tabahnya Khabbab dalam menghadapi cobaan. Ia pun bukan termasuk orang yang gampang menyerah dan mengeluh ketika disiksa meskipun didera dengan siksaan yang luar biasa. Ia pantang menyerah. Karena sikapnya yang demikian, membuat Quraisy semakin kesal dan ingin memberikan siksaan yang lebih keras lagi kepada Khabbab. Maka, kaum Quraisy pun datang menemui Ummi Anmar mantan tuannya Khabbab ketika dia menjadi budak dahulu. Tak perlu negosiasi lama, Ummi Anmar langsung bertindak menyiksa bekas budaknya itu.

Dengan penuh kesombongan, Ummi Anmar mengambil besi panas yang menyala lalu meletakkannya keatas kepala Khabbab. Tentu kita tahu rasa sakitnya ketika besi menyala tersebut menyambar ubun-ubun Khabbab. Tapi, dengan segala kekuatannya Khabbab tidak berteriak, meraung ataupun mengeluh ketika siksaan itu diterimanya. Ia menahan nafas sedalam-dalamnya agar tak mengeluarkan suara. Ia tak ingin respon kesakitannya nampak dan didengar oleh para penyiksanya. Jika hal itu dilakukan, menurutnya dapat membuat para algojo tersebut merasakan kepuasan atas keberhasilan mereka menyiksanya.

Dalam kesehariannya, kafir Quraisy begitu memendam kebencian yang mendalam kepada kaum muslim. Siksaan demi siksaan keji amat lazim dijalankan. Tak ada rasa belas kasihan ataupun perikemanusiaan. Umat muslim kala itu hidup dalam rasa kekhawatiran. Karena banyaknya siksaan, suatu hari Khabbab beserta sahabatnya pergi menemui Rasulullah. Mereka lalu berkata, "Wahai Rasulullah, tidakkah anda hendak memintakan pertolongan bagi kami?"

Rasulullah SAW pun duduk, mukanya jadi merah, lalu bersabda: "Dulu sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang disiksa, tubuhnya dikubur kecuali leher ke atas. Lalu diambil sebuah gergaji untuk menggergaji kepalanya, tetapi siksaan demikian itu tidak sedikit pun dapat memalingkannya dari agamanya. Ada pula yang disikat antara daging dan tulang-tulangnya dengan sikat besi, juga tidak dapat menggoyahkan keimanannya. Sungguh Allah akan menyempurnakan hal tersebut, hingga setiap pengembara yang bepergian dari Shana’a ke Hadlramaut, tiada tahut kecuali pada Allah Azza wa Jalla."

Selepas rasul bersabda, makin mantaplah keimanan di hati Khabbab dan para sahabatnya. Hal itu ia buktikan dengan tetap istikamah menggenggam Islam hingga akhir hayatnya. Khabbab bin Arats sendiri wafat di tahun ke 37 Hijriyah.

Demikianlah, kisah hidupnya yang memberikan banyak hikmah terkhusus bagi umat yang terus berupaya memperjuangkan Islam. Khabbab bin Arats telah banyak memberikan pengajaran kepada umat, bahwa kedzaliman seburuk apa pun yang dilakukan pihak penguasa hendaknya tidak menciutkan nyali umat. Hal ini amat penting untuk dijalankan agar dakwah bisa terus berkembang diantara banyak pertentangan.

Keteladanan Khabbab pun secara jelas memberikan pengajaran kepada umat untuk selalu bersungguh-sungguh mengajarkan Islam sekaligus mengajak umat untuk tetap tabah dan sabar dalam perjuangan. Sehingga rasanya tak layak bagi umat mengeluh atau bahkan mundur dari medan perjuangan karena beratnya pengorbanan dan tak tahan menghadapi penderitaan.

Wallahua'lam bish-showwab

Post a Comment for "Belajar Kesabaran dan Pengorbanan dari Seorang Khabbab bin Arats"