Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Anak Laporkan Ibu Gegara Baju: Potret Generasi Durhaka Kapitalisme-Liberal

Perseteruan antara ibu dan anak tersebut semakin menambah panjang deret permasalahan yang terjadi dalam keluarga. Keharmonisan dalam keluarga tampaknya menjadi barang langka. Kapitalisme-sekuler telah menggerus harmosisasi dalam keluarga yang menjadi dambaan setiap orang.

Oleh: Wity

Generasi durhaka kian marak. Kasus persteruan antara anak dan orangtua tak pernah alfa dari pemberitaan media. Sungguh tak punya hati, seorang anak di Demak tega melaporkan ibunya hanya karena masalah remeh.

Dikutif dari Kompas.com (09/01/2021), Seorang ibu berinisial S (36), warga Demak, Jawa Tengah, terancam hukuman 5 tahun penjara. Pasalnya, ia dilaporkan oleh anak kandungnya sendiri berinisial A (19) atas dugaan kasus kekerasan dalam rumah tangga ( KDRT).

S mengatakan, kasus tersebut berawal saat pakaian anaknya tersebut ia buang.

Hal itu ia lakukan karena merasa kesal. Sebab, setelah anaknya tersebut memilih tinggal dengan mantan suaminya di Jakarta dianggap selalu melawannya.

Saat itu, sang anak datang untuk mengambil baju. Mengetahui pakaiannya telah dibuang, sang anak pun emosi hingga akhirnya terlibat pertengkaran hebat. Saat terlibat pertengkaran itu, aksi saling dorong antara A dan S tak terhindarkan. Hingga akhirnya, secara tak sengaja ia memegang kerudungnya dan kukunya mengenai wajah sang anak.

Upaya mediasi awalnya menemui jalan buntu karena sang anak menolak untuk didamaikan. Ia bersikukuh melanjutkan kasus tersebut ke ranah hukum. Namun beberapa hari kemudian, setelah proses mediasi, sang anak mencabut laporannya dan memilih jalan damai

Bagaimana bisa sang anak tega berbuat demikian pada orang yang telah mengandung dan melahirkannya?

Kapitalisme Lahirkan Generasi Durhaka

Miris nian. Perseteruan antara ibu dan anak tersebut semakin menambah panjang deret permasalahan yang terjadi dalam keluarga. Keharmonisan dalam keluarga tampaknya menjadi barang langka. Kapitalisme-sekuler telah menggerus harmosisasi dalam keluarga yang menjadi dambaan setiap orang.

Asas manfaat yang diemban ideologi ini menjadikan interaksi dalam keluarga dinilai sebatas materi. Hubungan ibu-anak terjalin berdasarkan untung rugi. Tak ada lagi rasa hormat dan bakti bila sudah menyangkut materi. Maka tak heran bila kerap terjadi, anak penjarakan orangtua atau bahkan menghabisi nyawa mereka hanya karena masalah harta atau materi lainnya. Durhaka!

Sekulerisme—yang menjadi asas kapitalisme—inilah yang telah menjauhkan manusia dari rasa takut akan dosa. Mereka berani berbuat apa saja tanpa peduli benar atau salah dalam pandangan Islam. Inilah kehidupan liberal. Kehidupan yang serba bebas.

Nilai-nilai liberal telah gagal menghadirkan penghormatan kepada ibu. Gagal menghadirkan ketentraman dalam keluarga dan hanya melahirkan generasi durhaka. Sampai kapankah kita akan hidup dalam sistem yang hanya merusak hubungan keluarga ini?

Sistem Islam Lahirkan Generasi Takwa

Adalah Uwais al-Qarni, sosok yang tidak dikenal penduduk bumi, namun sangat terkenal di kalangan penghuni langit. Ketakwaan, kewaraan, kezuhudan, dan terutama baktinya kepada orangtua menjadikan sosok Uwais al-Qarni istimewa dan patut dijadikan teladan. Bahkan Rasulullah saw. pun memujinya.

Ia seorang yatim yang miskin. Hanya tinggal bersama ibunya yang lumpuh dan buruk penglihatannya. Namun, impitan ekonomi tak menghalanginya untuk taat beribadah dan senantiasa memuliakan ibundanya. Ia banyak berpuasa pada siang hari dan banyak bersujud pada malam hari.

Baktinya kepada sang ibunda sungguh luar biasa. Demi memenuhi keinginan mulia sang ibunda yakni berhaji ke Tanah Suci, ia pun menggendong ibunya dari Yaman menuju Mekkah. Masyaa Allah, inilah generasi takwa yang hanya bisa dilahirkan dalam sistem Islam. Sungguh ironis bila dibandingkan dengan kondisi saat ini.

Generasi Uwais al-Qarni takkan lahir dalam sistem kapitalisme sekuler seperti saat ini. Untuk melahirkan generasi-generasi takwa tak cukup dari keluarga yang bertakwa, melainkan dibutuhkan juga adanya kontrol masyarakat dan peran negara untuk menerapkan aturan Islam secara kaffah.

Dengan penerapan Islam kaffah inilah akan terbentuk lingkungan yang penuh takwa. Individu-individu akan dibina menjadi pribadi-pribadi yang beriman dan hanya taat kepada Allah. Masyarakat pun saling bahu-membahu dalam beramar makruf nahi munkar. Demikian pula negara akan menyediakan berbagai perangkat untuk mewujudkan ketahanan keluarga, seperti menyediakan pendidikan formal dengan kurikulum berbasis akidah Islam yang bertujuan melahirkan generasi berkepribadian Islam; melindungi generasi dari konten-konten sampah dan merusak, dan lainya.

Karena itu, sudah seharusnya kita segera menanggalkan sistem kapitalisme sekuler yang hanya melahirkan generasi durhaka dan beralih pada sistem Islam demi lahirnya generasi takwa. Wallahu ‘alam.[]

Post a Comment for "Anak Laporkan Ibu Gegara Baju: Potret Generasi Durhaka Kapitalisme-Liberal"