Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Umat Butuh Perubahan Hakiki

Berharap pada sistem buatan manusia untuk menyelesaikan masalah pandemi, ibarat punuk merindukan rembulan. Ini bisa jadi teguran untuk seluruh manusia karena sudah sekian lama meninggalkan hukum-hukum Allah.

Oleh : Emmy Emmalya (Penggiat Literasi)

Sudah hampir setahun dunia dilanda oleh pandemi Covid-19, hingga saat ini belum ada tanda- tanda pandemi ini akan berakhir, malah pertambahan kasus yang terinfeksi wabah ini semakin hari semakin bertambah.

Banyak hal yang bisa kita petik dari adanya pandemi ini ; pertama, kita diingatkan oleh Allah bahwa manusia tidak bisa berlaku sombong, karena dihadapkan dengan makhluk Allah yang super kecil ini saja manusia dibuat tak berdaya, seluruh sektor publik seketika luluh lantah dan manusia satu demi satu terpedaya oleh wabah ini. Apalagi bila berhadapan dengan Sang pencipta makhluk ini tentu manusia tak ada harganya sama sekali. Kedua, manusia diingatkan bahwa sistem aturan buatan manusia yang diberlakukan saat ini di seluruh dunia tidak mampu mengatasi wabah, malah semakin hari semakin tak jelas arah kebijakannya. Ketiga, kita diingatkan oleh Allah Swt , bahwa Allah-lah yang Maha Kuasa atas segalanya, oleh karena itu sudah saatnya berubah menuju perubahan yang diridhoinya yaitu kembali pada syari’atnya.

Berharap pada sistem buatan manusia untuk menyelesaikan masalah pandemi, ibarat punuk merindukan rembulan. Ini bisa jadi teguran untuk seluruh manusia karena sudah sekian lama meninggalkan hukum-hukum Allah.

Saatnya Melakukan Perubahan

Semangat perubahan yang digaungkan akhir-akhir ini hendaknya perubahan yang hakiki bukan perubahan parsial apalagi tambal sulam.

Sejatinya, berpikir perubahan dan berupaya mewujudkannya adalah fitrah pada manusia manapun. Dan fitrah itu akan mendorong seseorang manakala ia mempunyai perhatian besar terhadap kehidupan dunia dan penghuninya. Sebab, sifat egoisme yang hanya membatasi perubahan pada diri, keluarga dan bangsanya saja, tidak akan mendorongnya melakukan perubahan besar dunia.

Karena itu apabila kita menginginkan perubahan yang hakiki maka harus memiliki kepedulian terhadap bangsanya dan terhadap bangsa lainnya, agar terwujudnya keselamatan semesta.

Disisi lain, upaya perubahan memerlukan pemahaman terhadap makna perubahan hakiki. Yaitu dengan menyepakati kondisi buruk dan kondisi baik sebagai gantinya, dengan parameter yang benar.

Tanpa adanya parameter benar ini, maka perubahan hakiki tidak akan terwujud. Sebab, perbedaan cara pandang terhadap satu fakta, yang satu mengatakan buruk dan yang lainnya mengatakan baik, maka upaya perubahan bersama, tidak akan terjadi.

Oleh karena itu bagi umat Islam, tentunya parameter itu adalah Aqidah dan Syari’ah Islam. Karenanya penting memahamkan umat Islam tentang target perubahan dalam pandangan Islam.

Dan perlu disadari, bahwa upaya perubahan itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang kuat komitmen dan sabar dalam menjalaninya.

Dan perubahan ini bukan sekedar berubah, tetapi mewujudkan kehidupan semesta dengan segenap makhluknya, dalam kesejahteraan dan kebaikan.

Ketidakadaan perubahan kebijakan pada rezim saat ini karena kebijakan tersebut dikendalikan oleh tatanan aturan yang mengikat. Dan tatanan aturan inilah yang akan membentuk pola perilaku pemimpin dan rakyatnya, dan diantara masyarakat. Dan tatanan aturan ini yang akan membentuk suatu peradaban.

Dr. Mohammad Al-Qashshas di dalam Kitab Usus al-Nahdlah al Raasyidah (Pondasi Kebangkitan), menuliskan, “faktor yang menentukan bangkit dan mundurnya suatu masyarakat adalah peradaban yang dimiliki masyarakat tersebut. Jika peradabannya tinggi, niscaya masyarakat di situ akan bangkit. Jika peradabannya mundur, mereka tidak akan pernah mengetahui kebangkitan. Ketika kita membicarakan peradaban yang ada di tengah-tengah masyarakat, berarti kita sedang membicarakan jalan hidup (way of life), pola perilaku, dan pola hubungan yang menjadikan sebuah masyarakat memiliki kekhasan”.

Adapun peradaban, ia dibentuk oleh pemikiran tertentu yang kompleks dan majemuk, dan itulah ideologi. Ideologi kapitalis yang dianut bangsa ini sesungguhnya yang melahirkan kebijakan diskriminatif rezim. Ia mengunggulkan kepentingan bisnis para pemilik modal yang telah menghantarkannya ke tampuk kekuasaan. Tidak heran jika kebijakannya tidak pernah berpihak pada rakyat. Dan inilah penyebab utama atau akar dari berbagai masalah.

Walhasil, semangat perubahan umat di negeri ini, dan juga di negeri manapun sudah seharusnya diarahkan pada jalan perubahan yang benar. Semangat berubah untuk meraih ridlo Ilahi, bukan semata-mata perubahan. Sebab syariah Allah Swt yang diterapkan di muka bumi, akan mewujudkan dua surga, yaitu surga di dunia dan surga di akhirat.

Bukankah sebenarnya hal ini yang dirindukan oleh umat dalam do’a mereka :

Dan diantara mereka ada orang yang berdoa : “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

Oleh karena itu sudah saatnya umat Islam diarahkan pada konsep perubahan yang menghantarkan kepada terwujudnya sistem kehidupan Islam yaitu Khilafah Islamiyah. Dan mewujudkannya adalah kewajiban bagi kaum muslimin. Wallahu'alam bishowab.

Post a Comment for "Umat Butuh Perubahan Hakiki"