Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tahun-tahun Penuh Kebohongan

Akan tiba pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan. Saat itu, orang bohong dianggap jujur. Orang jujur dianggap bohong. Pengkhianat dianggap amanah. Orang amanah dianggap pengkhianat. Ketika itu, orang Ruwaibidhah berbicara. Ada yang bertanya, "Siapa Ruwaibidhah itu?" Nabi menjawab, "Orang bodoh yang mengurusi urusan orang umum." (HR. al-Hakim, al-Mustadrak ‘ala as-Shahihain).

Oleh: Miladiah Al-Qibthiyah (Pegiat Literasi dan Media)

"Akan tiba pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan. Saat itu, orang bohong dianggap jujur. Orang jujur dianggap bohong. Pengkhianat dianggap amanah. Orang amanah dianggap pengkhianat. Ketika itu, orang Ruwaibidhah berbicara. Ada yang bertanya, "Siapa Ruwaibidhah itu?" Nabi menjawab, "Orang bodoh yang mengurusi urusan orang umum." (HR. al-Hakim, al-Mustadrak ‘ala as-Shahihain).

Peradaban kapitalisme dengan asasnya sekularisme serta demokrasi yang lahir dari rahim kapitalisme dan menjadi sistem yang berkuasa di dunia hari ini, sangat tepat dengan gambaran hadis Rasulullah Saw. di atas.

Tahun-tahun penuh kebohongan begitu jelas dalam sistem demokrasi. Sistem hari ini menggambarkan bagaimana sengkarutnya hidup di bawah naungan yang tidak menjadikan Islam sebagai ideologi dan aturan di setiap sendi kehidupan. Berbagai kebijakan di bawah aturan sistem demokrasi sama sekali tidak menjadikan rakyat sebagai prioritas utama dalam membuat dan mengesahkan undang-undang (UU).

Hal ini terbukti dari luapan aspirasi rakyat yang menolak keras UU Omnibus Law sebab tidak memberikan kesejahteraan hidup pada kaum buruh, toh UU tersebut tetap disahkan. Perilaku LGBT yang secara terang-terangan menyimpang dari syariat Islam, juga mendapat ruang dan perhatian di sisi penguasa. UU minol, proyek reklamasi, area konservasi Komodo di Rinca menjadi lahan investasi bagi para investor asing dan swasta dan seabrek kebijakan dalam sistem demokrasi yang tidak berpihak pada rakyat.

Slogan khas demokrasi bahwa "pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat", nampak terdengar indah, namun realitanya tidak demikian, alias penuh kebohongan. Sebab rakyat secara keseluruhan tidak dilibatkan dalam membuat undang-undang. Pun, undang-undang yang disahkan tidak berasal dari kehendak rakyat sepenuhnya. Hal ini tentu tidak terjadi secara kebetulan. Ada upaya untuk memenuhi kepentingan selain dari kepentingan rakyat.

Dalam demokrasi kedaulatan berada di tangan rakyat, realitasnya rakyat sampai hari ini tidak pernah berdaulat sebab aturan atau hukum yang dibuat tidak pernah memihak pada kepentingan rakyat, melainkan berpihak pada kepentingan korporasi asing.

Adanya sekelompok orang yang mengklaim pandai mengurusi urusan rakyat, nyatanya urusan rakyat tidak diserahkan kepada ahlinya. Begitu banyak dari kalangan ulama yang pandai dalam urusn agama, namun tidak diberi ruang dalam mengurus urusan umat. Begitu banyak kaum pemikir dari kalangan intelektual dan aktivis Islam, namun mereka dibungkam untuk menyampaikan kebenaran.

Ajaran Islam yang bersumber dari Quran dan sunnah telah dipinggirkan dari segala aspek kehidupan, padahal negeri ini notabene muslim, namun ajaran Islam seolah menjadi monster menakutkan, membuat alergi para pemeluknya. Sedangkan ajaran dan paham yang menyeru kepada ideologi dan isme sesat dan merusak, seperti kapitalisme, sosialisme, sekularisme, liberalisme, demokrasi, justru tumbuh subur bahkan diterapkan di negeri mayoritas muslim ini.

Sangat jelas makna dari penguasa Ruwaibidhah dalam hadis Rasulullah Saw. tersebut. Bahwa mereka adalah bukan orang yang mencari kebenaran, bukan pula orang yang berkuasa dengan mengedepankan sifat jujur, tetapi mereka adalah para pembohong yang telah berkhianat terhadap rakyat, menzhalimi rakyat, serta menindas rakyat dengan berbagai kebijakan yang ada.

Para pemimpin yang sedang berkuasa dalam peradaban kapitalisme, tentu didukung oleh orang-orang munafik, jahil tentang ajaran Islam, dan lalai atas amanah pengurusan rakyat. Bahkan mereka rela menjual agama mereka untuk dunia yang fana.

Dengan kejahilannya, mereka mencampuradukkan antara yang haq dengan yang batil. Standar halal dan haram menjadi kabur, yang salah dibenarkan dan yang benar disalahkan. Kawan dianggap lawan sedang lawan digandeng berkawan.

Fenomena dusta dalam sistem kapitalisme-sekuler demokrasi yang merebak bak jamur di musim hujan merupakan tanda akhir zaman sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Nabi Saw. "Mendekati kiamat akan muncul para pendusta. Maka, berhati-hatilah terhadap mereka.” (HR Muslim).

Semoga Allah Swt. segera menghadirkan sosok khalifah atau pemimpin muslim yang adil dan jujur, yang memegang teguh syariat Allah, menjadi pengikut para nabi dan rasul-Nya, serta dikelilingi oleh orang-orang shalih yang mendukung penerapan syariat Islam dalam bingkai Khilafah di atas muka bumi. Wallaahu a'lam bi ash-shawab.

Post a Comment for "Tahun-tahun Penuh Kebohongan"