Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

SANDI NEGARAWAN, SANDI MAKAN SANDI !!!

Sandiaga Uno memberikan penjelasan bahwa semua yang dilakukannya semuanya adalah demi bangsa dan negara. Demi memberikan manfaat yang lebih besar buat bangsa dan negara Indonesia. Demi memberi banyak peluang pada masyarakat. Pandangan itu melengkapi pandangan Prabowo sebelumnya

Sandiaga Uno memberikan penjelasan bahwa semua yang dilakukannya semuanya adalah demi bangsa dan negara. Demi memberikan manfaat yang lebih besar buat bangsa dan negara Indonesia. Demi memberi banyak peluang pada masyarakat. Pandangan itu melengkapi pandangan Prabowo sebelumnya.

Lengkap sudah keberuntungan bangsa Indonesia. Pemerintahan Jokowi Ma’rif Amin Prabowo Sandiaga Uno. Pilih satu pasang, dapat dua pasang. Kurang beruntung apa ?!

Bahwa ada ratusan anggota KPPS yang tewas, bahwa ada beberapa demonstran tewas, bahwa HRS dipenjarakan, bahwa 6 orang pengikut HRS tewas dan malah dituduh penjahat, semua itu adalah resiko sebuah proses. “Mereka sendiri yang bikin masalah !!!” demikian dari berbagai komentar dari bermacam pihak yang menyambut baik alasan Bang Sandi. “Sandi sudah benar. Sandi negarawan !!!” Demikian sambutan yang lain.

Alasan Sandi ini mirip dengan alasan Adipati Cokronegoro, penulis babad Kedung Kebo. Dia adalah “kakak seperguruan” dari Pangeran Diponegoro yang memihak Belanda, yang setelah Belanda mengalahkan Diponegoro dia jadi bupati Purworejo. Kota yang dibentengi pegunungan Menoreh, dekat dengan Jogja di timurnya, serta punya akses langsung ke pelabuhan Semarang di utara dan pelabuhan Cilacap di barat, ,serta dilindungi laut berombak dahsyat di selatannya itu, saat itu bukan kota biasa. Tapi adalah kota elite, kandidat ibukota baru Hindia Belanda yang disiapkan jika penguasa Belanda harus mengungsi jika Inggris menguasai Eropa dan mengalahkan Belanda. Keren bukan?

Adipati Cokronegoro mengatakan bahwa perjuangan Diponegoro memperburuk keadaan. Lebih baik bersatu dengan Hindia Belanda. Itu akan memberikan kebaikan. Apalagi kenyataan bahwa Mataram harus takhluk pada Belanda itu menurut buku Babad Tanah Jawi dan Primbon Jawa adalah takdir. Maka ikuti saja takdir itu. Nanti saatnya takdirnya bebas baru jalani kebebasan. Bahwa akhirnya dengan mengikuti takdir itu mendapat fasilitas mewah dari Belanda, itu bagian kenikmatan yang tidak perlu ditolak. Bukankah itu kenikmatan dalam kebenaran ?

Dengan sikap itu pula maka selayaknya tanah Jawa itu fokus membangun. Fokus ke depan. Fokus kesejahteraan rakyat. Apalagi berikutnya Gubernur Jendral Van den Bosch berhasil menguasai pasar Eropa untuk berbagai barang perkebunan. Maka undang saja berbagai swasta asing masuk tlatah Nusantara ini. Fokuslah yang dibutuhkan dunia internasional, nanti rakyat ikut sejahtera. Jangan fokus langsung ke rakyat karena belum jelas hasilnya. Maka ganti ratusan hektar sawah dengan perkebunan kopi, teh, pala, lada, dan semacamnya. Nusantara jadi tampak lebih Eropa. Wisatawan Eropa akan datang melihat berbagai perkebunan indah di selatan Bandung atau di utara Magelang. Jalan Raya Post warisan Daendels adalah fasilitas yang sangat bermanfaat. Tak beda dengan jalan tol lintas Jawa di masa hampir dua abad kemudian. Hindia Belanda pun luar biasa. Perkebunannya masuk lima besar dunia. Jauh lebih keren dan visoner dibanding sekedar harapan Sandi Uno tentang Indonesia. Bahwa bagi hasilnya dari tanam paksa itu pemerintah Belanda dapat 30 %, pemerintah kerajaan/kadipaten lokal dapat 50 %, dan rakyat hanya dapat 20 %, itu resiko yang dipandang lebih proporsional. Bandingkan dengan buruh murah di masa kemudian, mungkin rakyat di masa tanam paksa ini masih lebih baik. Masih punya tanah luas di desa. Masih bisa menikmati hiburan semacam wayang kulit dan kethoprak. Itu keren untuk zaman ini. Dan lihatlah puncaknya. Tim sepak bola Hindia Belanda, yang multi suku bangsa, masuk perempat final dunia. Jauh lebih hebat dari tim sepak bola di Nusantara di masa-masa nanti.

Maka betapa dahsyat Adipati Cokronegoro dan para pengikutnya. Termasuk Karto Pengalasan, mantan senopati Pangeran Diponegoro, yang kemudian berpihak pada Cokronegoro, bahkan membantunya membuat buku Babad Kedoeng Kebo, sebagai lawan dari Babad Diponegoro, sebuah autobiografi sang pangeran di pengasingan beliau di Makassar.

Maka Sandiaga Uno itu hebat. Tidak tergesa-gesa. Dia sekedar mengikuti para pendahulu.

Dan sikap Cokronegoro itu diikuti banyak pengikutnya. Para elite politik di Nusantara. Dan dengan begitu perjuangan kemerdekaan adalah salah. Memperburuk negeri ini sebagaimana Diponegoro.

Maka selanjutnya HOS Tjokroaminoto salah. Para penteror HOS Tjokro tidak salah. Soekarno Hatta salah. NKRI salah. NKRI harus mati !! Soeharto salah. Reformasi salah. Gus Dur Mega SBY Jokowi asemua berjalan di jalan yang salah. Ma’ruf Amin salah. Prabowo salah. Sandi, salah pulak !!

Memang kalo bukan dengan Islam sebagai rahmat untuk seluruh alam, semuanya serba relatif. Yang pasti benar adalah kesejahteraan elite dan pengabaian rakyat !!!

Post a Comment for "SANDI NEGARAWAN, SANDI MAKAN SANDI !!!"