Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

''Reuni Akbar'' Satu Tahun Covid-19 Semakin Ambyar, hanya Khilafah yang Mampu Menjadi Penawar

pandemi virus covid 19 telah menemani kita selama hampir satu tahun. Tepatnya tanggal 31 Desember 2019, pemerintah china mengumumkan secara resmi adanya virus corona baru yang kemudian dinamakan Sars-CoV-2 yang menyebabkan penyakit covid-19. Virus yang diduga ditularkan melalui kelelawar ini menyebar bak kilat diseluruh penjuru dunia

Oleh: Aprilia Restiana

Tanpa terasa pandemi virus covid 19 telah menemani kita selama hampir satu tahun. Tepatnya tanggal 31 Desember 2019, pemerintah china mengumumkan secara resmi adanya virus corona baru yang kemudian dinamakan Sars-CoV-2 yang menyebabkan penyakit covid-19. Virus yang diduga ditularkan melalui kelelawar ini menyebar bak kilat diseluruh penjuru dunia.

Tanpa tanggung-tanggung, makhluk berukuran micro ini mampu meluluh lantahkan peradaban manusia. Bahkan negara barat yang digembor-gembor memiliki tatanan kesehatan yang super canggih pun takluk dihadapan makhluk berpartikel renik ini. Keponggahan dan kesombongan mereka dikalahkan oleh wabah usai lockdown selama 2 bulan saja.

Di tanah air sendiri kondisinya tak kalah memprihatinkan bahkan dalam banyak hal kondisinya jauh lebih buruk dilihat dari banyaknya kasus terkonfirmasi positif akibat wabah ini. Dikutip dari liputan6.com, penambahan data terkonfirmasi positif covid-19 per 21 Desember 2020 di Indonesia naik secara signifikan sebanyak 6.848 kasus dengan total keseluruhan 671.778 kasus, sembuh 5.073 kasus dengan total 546.884 kasus, meninggal 205 kasus denga total 20.085 kasus.

Tidak hanya penambahan jumlah terinfeksi, Covid-19 juga melumpuhkan perekonomian masyarakat dan meningkatkan kasus kriminalitas. Dilansir dari liputan6.com tanggal 10 Desember 2020 seorang ibu di Nias tega membunuh 3 anak kandungnya sendiri. Usai membunuh ketiga anaknya, sang ibu juga berupaya untuk bunuh diri dengan menggorok lehernya dengan parang. Namun usaha ini berhasil dihentikan oleh keluarga korban. Diduga motif dibalik pembunuhan ini lantaran himpitan kebutuhan ekonomi yang mencekik kala pandemi. Sulitnya mencari rupiah dibarengi dengan pandemi yang tak kunjung usai membuat keluarga ini menderita. Karena tak tega anaknya kelaparan, akhirnya sang ibupun nekat membunuh ketiga anaknya.

Di sisi lain, para staf medis dan non medis yang menjadi garda terdepan dalam penanganan wabah ini bak pasukan tanpa senjata. Mereka yang paling beresiko terinfeksi harus berperang melawan virus tanpa alat perlindungan yang mumpuni. Selain itu keterbatasan fasilitas kesehatan, peralatan kedokteran, dan obat-obatan juga kian memperburuk keadaan.

Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengumumkan dari Maret 2020-15 Desember 2020 ini, terdapat 363 petugas medis dan kesehatan yang meninggal akibat infeksi covid-19. Dr. Adib Khumaidi, S.pOT mengatakan kenaikan jumlah tenaga medis dan kesehatan merupakan salah satu dampak dari peningkatan jumlah penderita covid-19. Pemilihan Kepala Daerah yang baru selesai juga menjadi potensi fluktuatif naiknya penularan Covid-19 ini. Beliau juga berharap agar pemerintah meningkatkan upaya preventif dan kemampuan layanan kesehatan seraya melindungi para tenaga medis dan kesehatan. (Kompas.com, 15/12/2020)

Sementara ditengah kesulitan yang melanda rakyat, pejabat negara justru meraup uang panas dari dana bantuan sosial covid-10. Dikutip dari Cnnindoneaia.com tanggal 21 Desember 2020 nama Menteri Sosial RI sekaligus pilitikus PDIP, Juliari Peter meraup sebesar Rp 17 miliar dari dua paket pelaksanaan bansos covid-19 di wilayah Jabodetabek. Terkuaknya kasus inipun menyeret berbagai politikus PDIP dan enam perusahaan yang diduga menerima proyek penyaluran dana bansos dari kemensos.

Kini hampir satu tahun berlalu, namun permasalahan covid-19 masih belum terlihat titik terang. Ribuan nyawa melayang seakan menjadi pemandangan yang biasa. Rakyat mulai jengah dan pasrah karena wabah melumpuhkan mata pencaharian mereka. Kaum kapitalis pun pongah dengan mengabaikan protokol kesehatan demi kepentingan kekuasaan. Bahkan pemerintah yang seharusnya meriayah rakyatnya justru menikam rakyat secara diam-diam.

Segala kecarut-marutan yang melanda tanah air saat ini tidak lain adalah buah dari kekuasaan kapitalisme sekuler dimana keselamatan rakyat merupakan elemen beban yang tidak menghasilkan keuntungan materi. Nyawa rakyat bagaikan debu yang perlu dibersihkan. Dari awal pemerintah terkesan acuh pada virus ini. Hal ini terbukti dengan masih dibukanya tempat wisata, pusat perbelanjaan dan fasilitas umum dimana banyak terjadi kerumunan kala pandemi. Pemerintah pun tetap kekeuh mengadakan pilkada yang jelas akan menyebabkan angka covid-19 semakin melejit. Bahkan wabah ini justru dijadikan ajang untuk meraup keuntungan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab. Hal ini bukti bahwa Ideologis kapitalis yang kejam ini telah membentuk jiwa masyarakat menjadi pribadi yang egois dan materialistik yang hanya mementingkan urusan dirinya sendiri.

Sehingga hadirnya wabah ini menunjukkan pada dunia bahwa peradaban yang dibangun atas dasar kapitalisme sekuler yang memisahkan kehidupan dunia dengan agama sangat berbahaya bagi nyawa manusia dan layak untuk dibuang jauh.

Islam adalah agama yang menyeluruh dan sempurna. Sebab kesempurnaannyalah kejayaan islam mampu memimpin dunia hingga kurang lebih 16 abad lamanya. Kegemilangan sistem kesehatan islam juga diakui oleh sejarawan Will Dunant dalam bukunya yang berjudul The Story of Civilization yang berbunyi "Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan rumah sakit yang layak sekaligus memenuhi kebutuhannya. Contohnya Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160 telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang sakit tanpa menarik bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarawan berkata bahwa cahayanya tidak pernah padam selama 267 tahun."

Islam terlahir dengan rahmatan lil aalamiin yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan memuliakan nyawa. Sebagaimana sabda Rosulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam yang artinya "Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak" (HR. Nasa'i).

Sementara itu, jauh sebelum virus ini datang, Islam secara tegas dan gamblang hadir membawa sejuta solusi atas segala persoalan manusia. Rosulullah bersabda "Jika kamu mendengar wabah disuatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah ditempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu" (HR. Bukhari). Rosulullah juga bersabda "Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati orang yang sehat" (HR. Bukhari).

Dari hadits ini, menjelaskan bahwa ketika terjadi suatu wabah hendaknya segera dilakukan isolasi pada wilayah yang terkena wabah dengan harapan agar memutus rantai penularan. Pemisahan antara orang yang sakit dan sehat pun harus segera ditindak dengan proses screening secara cepat dan tepat. Pemenuhan kebutuhan fasilitas kesehatan dan pengobatannya serta kebutuhan masyarakat yang terisolasi juga sangat penting. Hal ini merupakan tugas dari sang khalifah. Sebagaimana sabda Rosulullah "Imam (kholifah) adalah raa'in (pengurus rakyat) yang bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya" (HR. Bukhari).

Disinilah peran penting kepala negara. Khalifah yang dipercaya sebagai pemimpin sekaligus bertanggung jawab mengurus kemaslahatan umat harus cepat dan tanggap dalam kasus ini. Hanya Khalifah yang terlahir dalam sistem islam kaffahlah akan menjadikan rakyat sebagai elemen penting diatas segala hal. Kehadiran khalifah yg adil akan menjadi tameng dan tempat berlindung bagi rakyatnya. Tidak ada lagi golongan kapital. Rakyat akan bergabung menjadi satu kesatuan dalam menghadapi wabah.

Dalam pelaksanaannya mengatasi pandemi, sistem peraturan islam yang terdiri dari sistem kesehatan islam, sistem ekonomi islam dan sistem politik islam akan bersama-sama turun tangan untuk memaksimalkan usaha negara dalam mengatasi pandemi. Kerjasama yang solid antara sistem ini hanya bisa terjadi apabila sistem islam diterapkan secara menyeluruh yang terbingkai dalam sistem khilafah yang bersumber dari al-quran dan as-sunah.

Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam Q.S Al-A'raf : 96 yang artinya "dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi".

Oleh karena itu, kembalinya syariat islam sebagai peradaban yang membawa berkah merupakan kebutuhan yang penting dan darurat tidak hanya bagi Indonesia tapi juga mencakup seluruh dunia untuk mengembalikan tatanan kehidupan bebas dari pandemi, jauh dari kebiadaban kapitalisme dan komunis serta tidak terulangnya reuni akbar covid-19 di tahun mendatang.

Post a Comment for "''Reuni Akbar'' Satu Tahun Covid-19 Semakin Ambyar, hanya Khilafah yang Mampu Menjadi Penawar"