Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

REPRESIFME TERHADAP FPI ADALAH BABAK LANJUTAN SETELAH HTI

Setelah tak memiliki basis legalitas dan legitimasi untuk mempersoalkan ormas Islam, pemerintah tetap mengumumkan pelarangan FP1. Sebuah pengumuman yang tidak bernilai, karena akhirnya FP1 membentuk FP1 yang lain. Dan jika diteruskan, tindakan represif pemerintah bukannya mematikan FP1 tetapi justru menyuburkan dan banyak menumbuhkan FP1 FP1 lainnya.

Oleh : Ahmad Khozinudin | Sastrawan Politik

Setelah tak memiliki basis legalitas dan legitimasi untuk mempersoalkan ormas Islam, pemerintah tetap mengumumkan pelarangan FP1. Sebuah pengumuman yang tidak bernilai, karena akhirnya FP1 membentuk FP1 yang lain. Dan jika diteruskan, tindakan represif pemerintah bukannya mematikan FP1 tetapi justru menyuburkan dan banyak menumbuhkan FP1 FP1 lainnya.

Sepertinya, pemerintah tidak belajar dari kasus HT1. Represifme terhadap HT1 tidak mampu meredam perjuangan Khilafah. Bahkan, Al Liwa dan Ar Royah yang berusaha dinisbatkan menjadi bendera HT1 telah diadopsi dan menjadi bendera milik Umat, karena sejatinya bendera ini adalah bendera Rasulullah, bendera milik kaum muslimin.

HT1 tidak mengambil strategi dengan membentuk HT1 yang lain, kendati hal itu mudah dilakukan. Tetapi, aktivitas dakwah HT1 telah membuat semua yang menentang rezim, semua yang menginginkan tegaknya syariat Islam, semua yang membela ajaran Islam Khilafah, dianggap menjadi HT1.

Pada setiap aksi demonstrasi yang diadakan Umat Islam, meskipun tidak ada entitas HT1 secara formal, namun kibaran Al Liwa dan Ar Royah telah menimbulkan kesan, ini demo HT1. Karena itu, rezim sibuk dengan praduga dan asumsinya, bahwa semua gerakan perlawanan, semua aksi Umat, dianggap ditunggangi HT1.

Itu artinya, represifme terhadap HT1 tak menimbulkan dampak buruk bagi HT1, kecuali ide syariah dan Khilafah semakin membahana. Memang benar, sejumlah aktivis HT1 belakangan banyak dipenjara karena dipersoalkan secara hukum menggunakan UU ITE, namun hal ini tak sanggup melemahkan HT1, justru pengemban dakwah dan aktivis HT1 semakin kokoh dan Istiqomah. Mereka paham konsekuensi menanggung beban dakwah dalam berjuang di jalan Allah SWT.

Umat juga dapat mengindera, bahwa HT1 masih ada. Bahkan, mereka mulai menisbatkan diri sebagai HT1.

Jika berjuang untuk Islam dianggap HT1, maka kami adalah HT1. Jika berjuang untuk Syariah dianggap HT1, maka kami adalah HT1. Jika berjuang untuk Khilafah dianggap HT1, maka kami adalah HT1. Jika menolak tunduk pada rezim dan anti pada kezaliman dianggap HT1, maka kami adalah HT1. Begitulah, nalar dan batin umat bersuara.

Hari ini, apa yang dilakukan rezim kepada FP1 juga sama. Represifme rezim kepada FP1 tidak akan menghentikan aktivitas dakwah amar ma'ruf nahi Munkar wa hisbah, dan tidak akan pernah membungkam perlawanan pada tirani dan penindasan. Kami FP1, kami FP1, kami FP1, begitulah seruan pembelaan umat kepada FP1.

Represifme terhadap HT1 dan FP1, membuat rezim kehilangan banyak modal sosial. Rezim kehilangan legitimasi pemerintahan. Padahal, dasar kekuasaan itu ada karena ada legitimasi.

Rezim hanya fokus menggunakan kekuasaan dan alat negara, tidak memperhatikan pikiran dan perasaan yang ada pada benak Umat. Rezim merasa, setelah mengumumkan kezaliman persoalan selesai. Justru itu, adalah awal masalah rezim dan awal persatuan umat makin erat.

Front Persatuan Islam (FP1) akan memelopori persatuan umat yang diikat dengan akidah Islam dan dikuatkan dengan rasa persaudaraan, senasib sepenanggungan. InsyaAllah, kemenangan makin dekat. Allahu Akbar ! [].

Post a Comment for "REPRESIFME TERHADAP FPI ADALAH BABAK LANJUTAN SETELAH HTI"