Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PROKES, ILUSI MENEKAN KASUS COVID-19

Penulis : Siti Rima Sarinah (Studi Lingkar Perempuan dan Peradaban)

Jajaran Polsek Bogor Tengah menjaring sebelas orang pelanggar protokol kesehatan (Prokes) dalam operasi Yustisi Gaktibplin Protokol Kesehatan Covid-19 di kelurahan Ciwaringin, Kecamatan Bogor Tengah. Kapolsek Bogor Tengah Kompol Suminto menjelaskan, berbagai upaya telah dilakukan jajarannya untuk mendisplinkan warga dalam hal prokes, baik melalui operasi-operasi yang rutin digelar, maupun melalui Bhabnkantibmas. Diharapkan terbangun kesadaran mandiri seluruh warga masyarakat untuk mematuhi prokes di masa pandemi, sehingga dapat bersama-sama mencegah dan memutus penyebaran Covid-19 (RadarBogor, 04/12/2020)

Operasi prokes di depan Mapolsek Bogor Timur, Jalan pajajaran, Kecamatan Bogor Timur, Selasa (24/11/2020).
Operasi prokes di depan Mapolsek Bogor Timur, Jalan pajajaran, Kecamatan Bogor Timur, Selasa (24/11/2020) - radarbogor

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Sri Nowo Retno mengatakan, kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di kota Bogor terus mengalami peningkatan. Ada tambahan 58 kasus baru pada Jumat (4/12/2020) dan warga yang masih sakit sebanyak 574 kasus.Untuk mengantisipasi hal ini maka warga Bogor di himbau untuk disiplin menjalankan prokes 3M (Menjaga jarak, Mencuci tangan dan Menggunakan masker).

Terjadinya penambahan kasus Covid-19 disinyalir akibat kelalaian masyarakat terhadap prokes, sehingga penyebaran virus ini tidak terkendalikan. Prokes dianggap sebagai ”senjata ampuh” untuk mencegah penyebaran virus Covid-19, benarkah demikian? Karena fakta menunjukkan bahwa orang-orang yang terkena virus ini tak pandang bulu. Dari para pejabat, selebriti, hingga tenaga kesehatan (Nakes), yang mereka selalu menjaga prokes namun dapat tertular juga.

Ini menunjukkan bahwa, resep prokes 3M dari WHO ternyata tidak cukup untuk menghentikan laju penyebaran Covid-19. Resep prokes 3M inilah hanya ilusi yang diberikan WHO untuk mencegah penyebaran Covid-19. Sebenarnya yang menjadi penyebab utama penyebaran virus Covid-19, bukan karena masyarakat lalai kan prokes 3M, melainkan kebijakan pemerintah dengan membuka sejumlah fasilitas publik dan tempat-tempat wisata inilah yang menjadi eumber masalahnya.

Fakta menunjukkan sejak pemberlakukan new normal dan PSSB ala Kapitalisme, justru peningkatan kasus positif tidak terkendalikan. Semakin banyak saja nyawa yang harus berguguran akibat keganasan virus ini. Berbagai slogan dan pesan moral yang disampaikan oleh pemerintah untuk melawan Covid-19 dengan disiplin melakukan prokes, adalah bentuk tidak bertanggungjawabnya pemerintah terhadap keselamatan rakyat. Betapa murahnya nyawa rakyat di mata pemerintah, dengan mengopinikan bahwa prokes 3M dapat menyelamatkan masyarakat dari Covid-19, padahal yang terjadi malah sebaliknya masyarakat harus menjadi korban.

Solusi tambal sulam menjadi hal yang biasa dalam sistem Kapitalisme, karena pada hakikatnya sistem ini tidak akan mampu menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapinya. Sistem ini seharusnya tidak layak diterapkan untuk manusia, karena sistem ini hanya bisa menuai permasalahan demi permasalahan yang tak kunjung terselesaikan. Kalaupun ada solusi yang diberikan, solusi tersebut semata-mata untuk meraup keuntungan dan memuluskan kepentingan para korporat. Masih berharap pada Kapitalisme dalam menuntas wabah Covid-19, sama saja dengan membunuh rakyat perlahan tapi pasti.

Hal ini menunjukkan betapa buruknya penanganan rezim sistem Kapitalisme. Tak bisa dipungkiri dalam mengatasi pandemi Covid-19, sejak awal negeri ini berkiblat pada negara adidaya Amerika atas nama gerakan penanggulangan pandemi global. Padahal nyatanya negara adidaya dengan sistem Kapitalisme yang dianutnya, telah gagal merespon dalam melakukan intervensi bagi pemutusan rantai penularan secara efektif. Sebab sejak awal, sistem Kapitalisme yang berorientasi pada materi tidak segera mengambil kebijakan memisahkan antara yang sakit dan yang sehat.

Ditengah kondisi ini pemerintah mengambil kebijakan PSBB dan pemberlakuan new normal tanpa disertai tracing massif ke tengah-tengah masyarakat. Komersialisasi pelayanan kesehatan dalam Kapitalisme juga menjadi penghalang munculnya inisiatif dari masyarakat untuk melakukan tes corona baik raptd test maupun swab test. Alhasil saat kehidupan dijalankan seakan sudah normal meski ada instruksi untuk memperhatikan protokol kesehatan, jumlah infeksi penularan tidak bisa dibendung.

Inilah wajah rezim Kapitalisme yang nyata-nyata meremehkan penularan penyakit dan keselamatan nyawa rakyat. Berbeda dengan Islam sebagai Ideologi, yang telah meletakkan paradigma kepemimpinan yang dipenuhi kebaikan dan keberkahan serta bentuk-bentuk pengaturan dalam sistem kehidupan yang solutif sepanjang zaman. Institusi ini tidak lain adalah Daulah Khilafah Islamiyyah. Jika terjadi pandemi, sejak awal Khalifah (pemimpin) akan memisahkan antara orang yang sakit dan orang yang sehat. Berupaya keras agar penyakit yang berada di wilayah sumber awal tidak meluas ke wilayah lain. Sebab diantara tujuan syariah adalah menjaga jiwa. Rasululllah saw bersabda,”Hancurnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim tanpa haq.”(HR an-Nasai dan at-Tirmidzi).

Dengan demikian dalam pandangan Islam, nyawa manusia harus diutamakan melebihi ekonomi atau pun lainnya. Karena itu ketika terjadi wabah seperti wabah corona hari ini, Khilafah akan melakukan tes dan tracing dengan cepat. Tes dan tracing ini penting sekali, kelambanan dalam melakukan tes dan tracing berarti membiarkan masyarakat lebih banyak terkena wabah dan semakin banyak masyarakat yang meninggal. Begitu tes menunjukkan positif, harus segera dilakukan tracing. Dalam dua pekan harus dipastikan dia kemana saja dan bertemu dengan siapa saja. Orang-orang yang berinteraksi harus segera dilakukan tes, begitu seterusnya.

Orang yang terbukti positif harus segera diisolasi dan diobati. Di samping itu, pusat wabah harus ditentukan dengan cepat dan menjaga secara ketat agar wabah tidak meluas. Di sisi lain, Khilafah akan menjaga wilayah laiain ynag tidak masuk zona tetap produktif. Di sinilah pentingnya negara memiliki peta yang jelas, mana daerah merah, kuning dan hijau. Pada daerah yang diisolasi, seluruh aktifitas harus diminimalkan sampai batas serendah-rendahnya. Daerah lain yang tidak terkena wabah tetap dijaga produktivitasnya di berbagai sektor.

Mekanisme di atas syariat Islam dalam menjaga dan menyelamatkan nyawa rakyat kala wabah pandemi melanda. Inilah resep ampuh yang berasal dari aturan Islam yang pernah diterapkan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya. Aturan ini hanya akan terlaksana dengan sempurna, jika penerapan syariat Islam secara kaffah ini hanya dapat terwujud dalam institusi sistem Khilafah, bukan yang lain. Oleh karena itu, urgensitas Khilafah merupakan sebuah kebutuhan yang harus disegerakan dan diupayakan semaksimal mungkin oleh umat Islam. Agar keselamatan jiwa rakyat dapat dilindungi dan rakyat pun bisa kembali hidup dalam naungan Islam rahmatan lil aalamin dalam bingkai Khilafah Islamiyyah.

Post a Comment for "PROKES, ILUSI MENEKAN KASUS COVID-19"