Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Muslim Rohingya Butuh Persatuan Umat Islam

Begitu mirisnya nasib Muslim Rohingya, tidak hanya terusir di negerinya sendiri. Di negeri Muslim lainnya seperti Malaysia, Indonesia pun nasibnya tak jauh berbeda. Muslim adalah saudara hanya jadi selogan kosong. Paham nasionalisme membuat perlakuan tidak manusiawi ini dilakukan bukan hanya oleh Bangladesh, namun negeri dengan mayoritas muslim seperti Malaysia bahkan Indonesia menutup mata dengan apa yang terjadi pada saudara muslimnya. Otoritas Malaysia menyatakan telah mengembalikan 22 perahu yang mengangkut Muslim Rohingya. Sementara di Indonesia, pada Juni ini, otoritas lokal di Aceh menolak memberikan perlindungan kepada sekitar 100 muslim Rohingya yang hanyut di dekat pantai mereka setelah menempuh empat bulan perjalanan selama mereka disiksa pedagang manusia dan terpaksa meminum air kencing mereka sendiri demi bertahan hidup. Sungguh miris, fakta bahwa Rohingya adalah Muslim, tidak ada artinya bagi rezim-rezim dalam negara tersebut. Merasa bahwa urusan pengungsi Rohingya bukanlah suatu hal yang penting untuk diurusi karena bukan bagian dari negerinya. Inilah yang menyebabkan hilangnya ukhuwah islamiyah. Ini semua konsekuensi dari paham yang bernama nasionalisme. Ukhuwah Muslim tersekat-sekat oleh negara-bangsa. Apa hujjah kita ketika dihisab di akhirat kelak?
Oleh : Putri Eka Rizwana, S.Pd. (Mahasiswi Magister, Komunitas Annisaa Ganesha)

Kloter pertama pengungsi Rohingya dengan jumlah lebih dari 1.500 orang mulai direlokasi oleh pihak berwenang Bangladesh ke sebuah pulau terpencil yaitu Pulau Bhasan Char, sebuah pulau yang rentan diterjang banjir di Teluk Bengal. Sebanyak tujuh kapal laut dikerahkan untuk mengangkut penghuni Rohingya ini dan dua kapal untuk mengangkut logistik.

Dengan biaya US$350 juta atau Rp5,1 triliun, pemerintah Bangladesh menghabiskan tiga tahun membangun kota baru di pulau terpencil ini. Tujuan mereka adalah merelokasi lebih dari 100.000 pengungsi ke pulau tersebut guna meredakan ketegangan di kamp-kamp pengungsian di Cox's Bazar. Dari pihak Bangladesh mengatakan semua pengungsi yang dipindahkan telah memberikan persetujuan. Namun sebaliknya, para pengungsi dan relawan di kamp-kamp pengungsian mengatakan bahwa beberapa orang dipaksa pergi ke Bashan Char dimana dua puluh tahun lalu, hanya ada air pada titik di Teluk Benggala ini.

Refugees International mengatakan langkah tersebut merupakan "penahanan massal yang berbahaya bagi orang-orang Rohingya yang melanggar ketentuan hak asasi manusia internasional." Para relawan mengatakan pengungsi mendapat tekanan dari para pejabat pemerintahan. Mereka diancam dan ditawari uang agar mau pergi ke pulau itu. Bagi mereka, pulau itu adalah "penjara" dan dari 306 pengungsi dimana sebagian besarnya adalah perempuan dan anak-anak. yang kini bermukim di pulau tersebut semuanya direlokasi tanpa persetujuan mereka. Tidak ada pengungsi yang diperbolehkan pergi.

"Mereka membawa kami ke sini dengan paksa," ujar salah seorang pengungsi pria yang berusia 31 tahun kepada kantor berita Reuters melalui sambungan telepon saat dalam perjalanan dari kamp di dekat Cox’s Bazar. "Tiga hari lalu, ketika saya mendengar keluarga saya masuk daftar, saya kabur dari blok itu, tapi kemarin saya ditangkap dan dibawa ke sini," lanjutnya. (newsdetik.com, 4/12/20). Bahkan, terdapat sepasang suami istri, dimana suaminya memasukkan nama mereka ke dalam daftar karena salah mengira bahwa itu adalah daftar jatah makan. Suaminya kemudian melarikan diri ketika diberitahu akan dibawa ke Bhasan Char, sementara istrinya bersembunyi di kamp.

Amnesty International merilis laporan tentang kondisi yang dihadapi oleh 306 pengungsi Rohingya yang sudah tinggal di pulau itu. Laporan tersebut berisi dugaan kondisi kehidupan yang tidak higienis dalam ruangan sempit, terbatasnya fasilitas makanan dan perawatan kesehatan, kurangnya telepon agar pengungsi dapat menghubungi keluarga mereka, serta kasus pelecehan seksual oleh tentara angkatan laut dan pekerja lokal yang melakukan pemerasan.

Begitu mirisnya nasib Muslim Rohingya, tidak hanya terusir di negerinya sendiri. Di negeri Muslim lainnya seperti Malaysia, Indonesia pun nasibnya tak jauh berbeda. Muslim adalah saudara hanya jadi selogan kosong. Paham nasionalisme membuat perlakuan tidak manusiawi ini dilakukan bukan hanya oleh Bangladesh, namun negeri dengan mayoritas muslim seperti Malaysia bahkan Indonesia menutup mata dengan apa yang terjadi pada saudara muslimnya. Otoritas Malaysia menyatakan telah mengembalikan 22 perahu yang mengangkut Muslim Rohingya. Sementara di Indonesia, pada Juni ini, otoritas lokal di Aceh menolak memberikan perlindungan kepada sekitar 100 muslim Rohingya yang hanyut di dekat pantai mereka setelah menempuh empat bulan perjalanan selama mereka disiksa pedagang manusia dan terpaksa meminum air kencing mereka sendiri demi bertahan hidup. Sungguh miris, fakta bahwa Rohingya adalah Muslim, tidak ada artinya bagi rezim-rezim dalam negara tersebut. Merasa bahwa urusan pengungsi Rohingya bukanlah suatu hal yang penting untuk diurusi karena bukan bagian dari negerinya. Inilah yang menyebabkan hilangnya ukhuwah islamiyah. Ini semua konsekuensi dari paham yang bernama nasionalisme. Ukhuwah Muslim tersekat-sekat oleh negara-bangsa. Apa hujjah kita ketika dihisab di akhirat kelak?

Saat ini yang paling dibutuhkan adalah kesatuan ukhuwah yang diikat oleh kesatuan institusi politik yakni negara Khilafah. Umat Islam tidak hanya diikat oleh akidah yang satu, tapi juga negara yang satu, Negara Khilafah yang akan menerobos sekat-sekat bangsa, tidak terkotak-kotak, antar satu negeri peduli dengan nasib muslim di negeri lainnya. Karena paham nasionalisme memang bukan dari Islam dan tidak diakui oleh Islam. Ukhuwah Islam nyata terwujud atas seluruh umat Muslim di dunia.[]

referensi:

https://www.bbc.com/indonesia/dunia-54743478

https://news.detik.com/dw/d-5281945/bangladesh-relokasi-pengungsi-rohingya-ke-pulau-tak-berpenghuni

https://www.viva.co.id/berita/dunia/1328919-china-kembangkan-program-eksperimental-kendalikan-langit-dan-cuaca?medium=autonext

https://www.muslimahnews.com/2020/12/12/pengungsi-rohingya-butuh-institusi-khilafah/

Post a Comment for "Muslim Rohingya Butuh Persatuan Umat Islam"