Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kemana Arah Parpol Islam?

Indonesia sebentar lagi akan melaksanakan pesta Demokrasi serentak pada tanggal 9 Desember 2020. Ada 270 daerah di Indonesia dengan rincian 9 Provinsi memilih Gubernur dan Wakil gubernur, 224 Kabupaten memilih Bupati dan Wakil Bupati serta 37 Kota memilih Walikota dan Wakil Walikota. Dunia politik akan riuh dengan pergumulan para partai politik dan para kadernya yang hendak berkompetisi dalam ajang Pilkada ini. Partai-partai politik baik itu partai nasionalis sekuler atau partai Islam sibuk melakukan kerja sama untuk memenangi posisi yang hendak diperebutkan.

Oleh: Luthfiah Jufri, S. Si., M. Pd. (Pemerhati Sosial Asal Konawe, Sultra)

Indonesia sebentar lagi akan melaksanakan pesta Demokrasi serentak pada tanggal 9 Desember 2020. Ada 270 daerah di Indonesia dengan rincian 9 Provinsi memilih Gubernur dan Wakil gubernur, 224 Kabupaten memilih Bupati dan Wakil Bupati serta 37 Kota memilih Walikota dan Wakil Walikota. Dunia politik akan riuh dengan pergumulan para partai politik dan para kadernya yang hendak berkompetisi dalam ajang Pilkada ini. Partai-partai politik baik itu partai nasionalis sekuler atau partai Islam sibuk melakukan kerja sama untuk memenangi posisi yang hendak diperebutkan.

Islam di Indonesia merupakan agama mayoritas. Pemeluknya mencapai sekitar 90% dari seluruh jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 200 juta orang ini memiliki pengaruh yang signifikan untuk pemenangan bakal calon kepala daerah. Tak heran muncul kembali fenomena berdirinya partai berbasis Islam. Sebut saja Pengamat politik dari Universitas Al Azhar, Ujang Komarudin menilai, besarnya pemilih muslim di Tanah Air membuat para tokoh Islam mendirikan partai berbasis agama. Padahal, sudah banyak partai berbasis agama Islam yang didirikan di Indonesia.

Sebelum muncul Partai Masyumi Reborn, sudah lebih dulu Partai Ummat yang dipimpin Amien Rais mendeklarasikan diri sebagai partai Islam baru. Bahkan, sebelum itu juga sudah muncul partai baru bernama Gelora yang didirikan mantan petinggi dan kader PKS. Partai-partai ini dipandang kuat pembelaannya terhadap syariat Islam dan mampu menunjukkan solusi terbaik bagi bangsa Indonesia melalui ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

"Oleh karena itu, tak aneh dan tak heran, muncul Partai Ummat dan Partai Masyumi. Itu keniscayaan demokrasi yang membuka ruang kepada siapa pun untuk bisa mendirikan partai”. ujar Ujang saat dihubungi Kompas.com, Senin (9/11/2020).

Lantas, apakah dengan munculnya partai Islam ini di tengah arus ide sekulerisme mampu mewakili suara hati umat muslim untuk menerapkan syariat Islam atau justru sebaliknya nasib mereka akan sama dengan partai Islam sebelumnya tenggelam saat berhadapan dengan partai-partai lain?

Nasib Partai Islam Kini dan Nanti

Di dalam negeri sendiri, isu penerapan syariat Islam sebagai visi partai politik kekinian semakin menguat. Dorongan dan daya tarik kekuatan umat Islam yang terpancar dari Aksi 212 (salah satunya) menjadi harapan baru bagi perubahan bangsa ini, setelah merasa kecewa dan muak dengan partai politik yang ada. Sebagai muslim patut diapresiasi semangat dari munculnya partai politik Islam tersebut, karena ingin membela kaum muslim dan bercita-cita menerapkan syariat Islam.

Sayangnya, jika masih menempuh jalur demokrasi, semangat dan energi umat untuk menerapkan Islam (syariat Islam) dipastikan menemui kegagalan kembali, sebagaimana partai Islam sebelumnya. Sejak lahir demokrasi tak pernah memberi ruang bagi umat Islam untuk menerapkan syariat Islam. Justru kemunculan Parpol Islam baru hanya akan menambah sengitnya pertarungan antar partai Islam yang sudah ada.

Realitasnya, tak dipungkiri suara mayoritas umat Islam hari ini masih mengarah pada parpol sekuler. Sementara sebagiannya lagi banyak yang memilih untuk tak memilih alias menjadi golongan putih (golput). Baik golput karena apatis maupun karena alasan ideologis.

Situasi ini tentu menjadi tantangan tersendiri yang harus di hadapi partai yang ingin mengindentifikasi diri sebagai partai Islam. Yakni, bagaimana merebut dukungan dan loyalitas elemen di tengah kuatnya pengaruh Parpol sekuler.

Semestinya, semua yang telah terjadi cukup menjadi pembelajaran, bahwa problem utama mandulnya parpol Islam disebabkan penerapan sistem politik demokrasi yang memang sama sekali tak berjodoh dengan Islam. Sistem ini dipastikan tak akan pernah memberi jalan bagi partai Islam untuk menang. Apalagi membiarkan hukum-hukum Islam diterapkan.

Selain itu, partai-partai Islam ini tidak tegak di atas kesadaran bahwa akar dari seluruh masalah umat adanya penerapan sistem sekuler liberal. Ikatan yang dibangun di dalam keanggotaan parpol pun bukanlah ikatan berlandas pemikiran Islam ideologis. Melainkan hanya ikatan berdasar kesamaan perasaan atas kezaliman yang menimpa, atau bahkan sekadar ikatan keorganisasian yang dengan mudah pecah karena ada perubahan kemaslahatan yang diinginkan anggota-anggotanya.

Oleh karenanya, wajar jika partai-partai ini tak pernah mampu meyakinkan umat bahwa arah perjuangan yang dibawanya layak diikuti dan diperjuangkan bersama-sama. Mereka malah terjebak dalam jalan perjuangan yang tak akan pernah menyampaikan mereka pada tujuan.

Tugas Partai Politik Islam

Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, mewajibkan kaum muslim untuk membentuk sebuah partai politik yang berideologikan Islam. Aktivitas utama parpol dalam Islam adalah berdakwah. Hal demikian sebagaimana termaktub dalam surah Ali Imran ayat 104 yang artinya, “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Dalam ayat di atas dengan tegas, Allah Swt. memerintahkan adanya “segolongan umat”, yang berarti kelompok terorganisir yang memiliki tujuan menyerukan Islam. Menyeru pada yang makruf dan mencegah pada yang mungkar, baik kepada masyarakat maupun negara.

Parpol seperti ini akan terus mendekati umat, dan bersabar mendidik mereka dengan Islam, hingga umat paham urgensi dan kewajiban penegakan syariat Islam. Serta sadar bahwa hidup, mati, dan kemuliaan mereka hanya ada pada tegaknya sistem Islam. Bukan pada tegaknya sistem sekuler demokrasi.

Apapun yang ditemui di jalan perjuangan, tak akan pernah mampu membelokkan atau melemahkan tekad partai dalam menegakkan Islam melalui jalan yang Allah tetapkan. Termasuk saat jebakan-jebakan demokrasi dan bujukan-bujukan sebagian kalangan umat kerap mereka dapatkan.

Parpol Islam ideologis seperti inilah yang dijanjikan kemenangan, sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 56 yang artinya, “Siapa saja yang menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai penolongnya, maka sungguh pengikut/partai (agama) Allah itulah yang pasti menang.”

Inilah yang seharusnya menjadi fokus partai politik Islam. Bukan sekadar mengejar kekuasaan di bulan desember 2020 atau pada tahun politik 2024 nanti. Wallahu a’lam bii showab.


Post a Comment for "Kemana Arah Parpol Islam?"