Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kapitalisme, Pembunuh Ibu dan anak

Kini seorang ibu atau ayah atau keduanya banyak yang menjadi pelaku pembunuhan anaknya sendiri. Seperti kasus yang terjadi baru-baru ini. Ibu pembunuh ketiga anak kandungnya di Nias Utara, berinsial MT, meninggal dunia di RSUD Gunungsitoli, Sumatera Utara pada Minggu pagi 13 Desember 2020, sekitar Pukul 06.10 WIB. Usai membunuh, wanita berusia 30 tahun itu sempat beberapa kali coba bunuh diri, namun berhasil digagalkan.

Oleh : Verawati S.Pd (Pegiat Opini Islam dan praktisi pendidikan)

Barangkali kita sering mendengar pepatah “sebuas-buasnya harimau tidak akan memakan anaknya sendiri”. Pepatah ini memiliki arti sekejam-kejamnya orangtua tidak akan membunuh anaknya sendiri. Akan tetapi, pepatah tersebut nampaknya sudah tidak berlaku saat ini. Kini seorang ibu atau ayah atau keduanya banyak yang menjadi pelaku pembunuhan anaknya sendiri. Seperti kasus yang terjadi baru-baru ini. Ibu pembunuh ketiga anak kandungnya di Nias Utara, berinsial MT, meninggal dunia di RSUD Gunungsitoli, Sumatera Utara pada Minggu pagi 13 Desember 2020, sekitar Pukul 06.10 WIB. Usai membunuh, wanita berusia 30 tahun itu sempat beberapa kali coba bunuh diri, namun berhasil digagalkan. (Viva.co.id, 13/12/2020)

Berita lainnya, Seorang ibu tega menganiaya anak perempuannya hingga tewas, gara-gara si anak tak mengerti saat belajar melalui daring. (kompas tv, 15/10/2020). Mungkin masih banyak kasus-kasus lainnya yang tidak terungkap oleh media. Jadi, kasus pembunuhan anak oleh ibu ini bukalah kasus pertama. Kemiskinan selalu menjadi sinyalir penyebab terjadinya kasus tersebut.

Sungguh miris dan sesak di dada menyaksikan berita pilu ini, berulang dan terus berulang. Istilah kasih ibu tiada tara, kini tercoreng. Himpitan ekonomi mengubah wajah ibu yang kasih, menjadi ibu yang stress dan menjadi penjagal anaknya sendiri. Tak dipungkiri, beban hidup saat ini begitu berat. Tentu yang merasakan kesulitan ini adalah para ibu. Sebab, ibu lah yang mengatur urusan dapur dan kebutuhan hidup lainnya. Ibu akan mengalami kebingungan bahkan stress, saat anak-anak sudah minta makan, sedangkan tidak ada bahan makanan yang bisa disajikan atau tidak ada uang untuk membeli. Padahal, kebutuhan hidup ini pun bukan hanya urusan perut semata. ada kesehatan, kemanan dan juga pendidikan serta kebutuhan primer dan tersier yang semuanya menuntut pemenuhan.

Kasus pembunuhanan ini menambah fakta bobroknya sistem kehidupan saat ini. Yakni menciptakan kemiskinan yang bersifat struktural dan sistemik. Kemiskinan ini bukan karena para suami atau para lelaki tidak mau bekerja. Akan tetapi, sulitnya mereka mencari pekerjaan. Selain itu, rakyat dipaksa memenuhi kebutuhan publiknya seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan sesuai kemampuanya masing-masing. Tentu bagi yang memiliki uang akan menikamati fasilitas yang mewah sedangkan yang miskin sangat sulit untuk mendapatkan fasilitas-fasilitas tersebut. kalau pun ada, urusannya panjang.

Sistem kapitalis meniscayakan hampir seluruh sumber kekayaan negara diserahkan kepada pihak swasta (asing). Sebab menurut pemikiran kapitalis setiap individu bebas memiliki kekayaan apapun. Termasuk barang-barang yang menguasai hajat hidup orang banyak seperti barang tambang, hutan dan air. Sehingga air, listrik dan BBm serta padang gembala atau hutan dengan bebas dikuasai oleh swasta. Ketika swasta menguasai barang-barang tersebut, maka tentu mereka akan menjual dengan harga yang mahalkepada masyarakat. Dengan demikian, beban hidup dalam sistem kapitalis ini begitu berat, sebab semua harus dibayar dengan harga mahal.

Ditambah sistem demokrasi yang juga anak kandung dari kaptalis. Sistem pemerintahan ini melahirkan penguasa yang lebih memperhatikan para korporat dibandingkan rakyat. Sebab para korporat ini yang telah menyokong dana saat pemilu. Tak cukup sampai disitu, besarnya dana pemilu banyak dari penguasa yang melakukan korupsi untuk mengembalikan modal. Seperti kasus yang baru-baru ini terjadi, yakni adanya menteri yang mengkorupsi dana Bansos Covid-19.

Lain halnya pengaturan dalam Islam. Islam menjadikan penguasa sebagai ra’in atau pengurus dan pelayan umat dan di hadapan Allah kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sebagaimana hadis nabi Muhammad SAW “Saya telah mendengar rasulullah saw bersabda : setiap orang adalah pemimpin dan akan di minta pertanggung jawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggung jawaban perihal rakyat yang dipimpinnya" (HR. Muslim). Hadis ini meniscayakan bahwa pemimpin dalam Islam adalah pemimpin yang bersungguh-sungguh menjalankan kepemimpiannya dalam mngurus dan mengatur rakyatnya.

Islam juga memiliki sistem kehidupan termasuk sistem ekonomi dan sistem pendidikan. Islam mendorong para suami untuk bekerja agar mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Dorongannya adalah bahwa para suami akan mendapatkan pahala yang besar saat mencari nafkah. Sedangkan negara akan memberikan fasilitas untuk bekerja dengan memberika pinjaman modal secara gratis atau pemberian lahan pertanian milik negara. Selain itu, dalam sistem ekonomi Islam adanya pembagian kepemilikan yang sangat jelas. Yaitu kepemilikan individu, rakyat (umum) dan negara. Terhadap barang-barang yang menguasai hajat hidup orang banyak seperti air, listrik, BBM dan hutan atau padang gembala adalah termasuk kepemilikan umum. Artinya barang-barang ini akan dikelola oleh negara dan sepenuhnya akan didistribusikan kepada seluruh rakyatnya. Rakyat akan mendapatkannya dengan harga murah bahkan gratis.

Negara juga akan memberikan fasilitas layanan umum seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan secara percuma. Pembiayaannya akan diambil dari baitul mal. Yang bersumber dari harta Negara dan juga harta kepemilikan umum. Dengan demikian rakyat akan sangat dimudahkan mendpatkan layanan publik.

Adapun sistem pendidikan dalam Islam, berpijak pada kurikulum berbasis aqidah Islamiyyah dan kurikulum yang mandiri. Artinya kurikulum ini akan mendorong setiap individu menjadi pribadi yang sholeh dan mampu menyelesaikan problem kehidupan yang dihadapai. Negara juga akan memberikan fasilitas dan gaji yang tinggi kepada para guru dan orang-orang yang terlibat dalam penyelengaraan pendidikan ini. Begitu pula dengan para murid. Akan diberikan fasilitas yang gratis dan terbaik. Seperti leptop, internet, makanan dana lain sebagainya. Sehingga bisa menunjang dalam pembalajaran baik di sekolah maupun di rumah.

Denagn sistem pendidikan dalam Islam, orang tua tidak dibebani biaya yang mahal dan pembelajaran yang membertkan. Dengan demikian orang tua akan fokus pada memperhatika perkembangan anaknya. Fokus melahirkan generasi khoiru umah yang akan mempimpin dunia.

Demikian gambaran sistem kehidupan dalam Islam. Semuanya akan bisa terwujud manakala ada yang menegakkannya yaitu seorang kholifah dalam bingkai daulah khilafah islamiyyah. Tidakkah kita merindukannya?

Wallahu ’alam bish-showab

Post a Comment for "Kapitalisme, Pembunuh Ibu dan anak"