Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Islam : Solusi Berkah Kaum Hawa

Hari ibu, hari untuk mengapresiasi peran ibu. Peran sebagai guru, pengurus rumah tangga, sekaligus sebagai ratu. Hanya itu? Tentu tidak, peran ibu begitu banyak hingga tak cukup rasanya bila hanya sehari kita sebut sebagai hari ibu. Namun sayangnya, tak semua ibu dapat mengecap manisnya harga seorang ibu yang dicintai, dihormati, dan dijaga kehidupannya. Sebagaimana semua perempuan seharusnya dijaga, ibu menjadi salah satu pilar kehidupan generasi,penopang tegaknya beradaban manusia. Luar biasa.

Oleh : Dewi Ummu Hushiny

Hari ibu, hari untuk mengapresiasi peran ibu. Peran sebagai guru, pengurus rumah tangga, sekaligus sebagai ratu. Hanya itu? Tentu tidak, peran ibu begitu banyak hingga tak cukup rasanya bila hanya sehari kita sebut sebagai hari ibu. Namun sayangnya, tak semua ibu dapat mengecap manisnya harga seorang ibu yang dicintai, dihormati, dan dijaga kehidupannya. Sebagaimana semua perempuan seharusnya dijaga, ibu menjadi salah satu pilar kehidupan generasi,penopang tegaknya beradaban manusia. Luar biasa.

Saat ini tak sedikit fakta tragis yang menimpa kaum hawa, termasuk para bunda. Seperti kasus ibu pekerja yang harus rela kehilangan janin yang dikandungnya, akibat harus tetap mencari nafkah meski tengah mengandung buah hati tercinta. Pun juga, kehormatan perempuan yang keluar untuk memenuhi kebutuhannya seperti untuk bekerja, tak mampu terjaga, kehormatannya dengan mudah dikoyak, harga dirinya tak mampu lagi dilindungi.

Dalam sebuah penelitian paruh akhir tahun 2017, menunjukkan bahwa meski mayoritas buruh perempuan dalam sektor garmen di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung, Jakarta Timur pernah mengalami kasus pelecehan seksual, hanya sedikit sekali yang melapor.

Dari 773 buruh perempuan yang berpartisipasi dalam penelitian ini, 437 di antaranya pernah mengalami pelecehan seksual, dengan rincian 106 mengalami pelecehan verbal, 79 mengalami pelecehan fisik, dan 252 mengalami keduanya.

Dari angka tersebut, hanya 26 orang yang berani melapor. Alasan para buruh perempuan tidak melapor karena mereka merasa malu, takut, dan khawatir jika melapor pekerjaan mereka akan terancam.(theconversation.com)

Itu fakta beberapa tahun silam. Kini ditengah semakin kuatnya sistem kapitalis mencengkeram negeri ini, harga diri tak lagi menjadi prioritas utama, selain menumpuk harta, tahta dan kepuasan dunia.

Miris, yang dikorbankan adalah kaum lemah, termasuk para ibu. Kini kondisi kaum ibu yang seharusnya mulia jadi terhina, anak-anak tak lagi dikasihi karena ibu tak memiliki nurani, hati mereka dipenuhi dengan duniawi, jika ada kasih sayang, tak cukup dibagi karena waktu ibu terkuras untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Bayangkan apa yang akan terjadi bila kondisi ini dibiarkan tanpa solusi? Ngeri, bila negara sudah tak ada tiang untuk tegak berdiri, hancur nya generasi sudah tinggal menanti, matinya peradaban sudah pasti terjadi karena ibu sebagai pilar penyangganya telah mati peranannya.

Perempuan yang setara dengan laki laki tidak pernah menjadi solusi meski digaungkan untuk mengakomodasi masalah perempuan masa kini. Nyatanya feminisme hanya menjanjikan mimpi indah untuk kaum hawa. Bukannya menyelesaikan masalah, keluarnya perempuan terutama bunda dari rumahnya untuk mengejar kesetaraan dengan suami, malah menjadi awal hancurnya keluarga. Rumah yang seharusnya memiliki manager multitalenta, harus mengalah menjadi prioritas nomer dua, setelah manajemen kantor selesai. Anak yang harusnya dekat dengan ibunya, lebih sayang kepada pengasuhnya. Suami yang harusnya dilayani secara prima harus rela mendapat pelayanan seadanya karena perempuan sibuk bekerja diluar rumah.

Beda cerita, kalau ditanya kesetaraan gender bagi perempuan pekerja dengan pekerjaan berat yang membutuhkan fisik ala pria, seperti kuli bangunan, tukang ojek, buruh cuci, supir angkot, dan pekerjaan sejenis yang tak tega bila harus di garap oleh kaum hawa. Tak jarang pula mereka harus membawa buah hatinya, berjuang mengumpulkan rupiah. Panas terik, hujan badai, debu jalanan, semua harus dirasa, itukah yang disebut setara?

Sejatinya dalam Islam kesetaraan laki laki dan perempuan itu tidak ada. Masing masing punya hak dan kewajiban yang berbeda. Laki laki dan perempuan diciptakan dengan fisik dan psikis yang berbeda, tak adil bila disetarakan. Karena adil itu meletakkan sesuatu sesuai porsinya, bukan sama rata sama rasa.

Seperti laki-laki yang diciptakan sebagai qawwam ( pemimpin ) tentu mereka lebih kuat fisiknya dan akalnya, maka kewajibannya adalah bekerja mencari nafkah. Menanggung kehidupan anak, istri dan keluarga yang menjadi tanggungannya. Dengan otot dan otak yang kuat, laki laki wajib bertanggung jawab akan kesejahteraan keluarganya dari segi materi sejahtera, keshalehan keluarganya pun terjaga. Berat tanggung jawab seorang laki laki maka ia ada dengan kekuatan yang kokoh dari berbagai sisi, begitulah kodrat kaum Adam.

Berbeda dengan kaum hawa, yang diciptakan dari tulang rusuk pria, ia lemah namun tak mudah patah. Perempuan lemah, apakah salah? Tidak, karena lemahnya perempuan maka ia ditanggung oleh tiga pria, ayahnya, kakak laki lakinya, dan suaminya. Bila ketiganya tak mampu menanggung, ada negara yang menjadi penanggung utama kebutuhan seluruh rakyatnya. Perempuan diciptakan ‘luwes’ untuk mengatur urusan rumah tangganya, anak anaknya, dan urusan suaminya. Itulah potensi utama yang melekat pada perempuan.

Lantas tak bolehkah ibu keluar untuk bekerja? Tentu boleh. Islam tidak mengekang perempuan untuk menyalurkan keahlian yang dimiliki. Sebagaimana sejarah pernah mencatat nama nama perempuan hebat yang kariernya melejit, tak hanya terkenal di dunia namun juga di kenal hingga ke langit. Siapa mereka, ada bunda Khadijah, pengusaha sukses, hartanya melimpah namun baktinya pada suami tak terlupakan hingga wafatnya. Ada juga bunda Aisyah, ulama’ perempuan yang menjadi rujukan para sahabat nabi,kecerdasan beliau tak menjadi alasan untuk tak mengabdi pada baginda Nabi SAW. Ada Khaulah binti Azur,jika julukan "Pedang Allah" untuk kalangan laki-laki disematkan kepada Khalid bin Walid, maka Khaulah adalah "Pedang Allah" dari kalangan perempuan. Dan banyak lagi perempuan hebat dalam gemilangnya kehidupan Islam kaffah, pengusaha, dokter, ilmuwan, ulama’, dan berbagai bidang yang diperbolehkan untuk digeluti oleh para bunda. Tentu,Ibu keluar rumah tanpa meninggalkan tugas utamanya sebagai Ummu warobbatulbait.

Islam sangat memuliakan perempuan, termasuk para ibu. Salah bila menuduh Islam mengebiri peran kaum hawa, sebaliknya ibu lah penentu nasib sebuah bangsa, kerja kerasnya mendidik generasi untuk menopang tegaknya peradaban yang tinggi. Apabila kini ibu banyak tersakiti, itulah buah sistem usang kapitalis yang hanya menjadikan perempuan sebagai objek kepentingan, keuntungan dan kesenangan tanpa peduli halal haram. Sejarah umat manusia mencatat berbagai penindasan, ketidakadilan, kesewenang-wenang an dan pelecehan yang menempatkan perempuan sebagai korban. Arab jahiliah punya tradisi mengubur bayi perempuan hidup hidup. Zaman Romawi, perempuan tak memiliki hak kepemilikan, jual beli atau membuat perjanjian bisnis. Bahkan barat saat ini, tak lebih mengganggap perempuan seperti barang dagangan yang bisa dijualbeli, pajang sana sini, dinikmati tanpa risih, perempuan harus berjuang mendapat hak hak yang diabaikan oleh sistem jahilia modern ini. Jadi, masalah yang dihadapi kaum ibu dulu, kini dan nanti disebabkan oleh sistem rusak yang diadopsi. Hanya Islam yang Alloh beri sebagai solusi, sistem sempurna yang terbukti memuliakan kaum hawa, datang dari zat yang maha sempurna pasti mendatangkan berkah.

Islam membolehkan perempuan untuk keluar rumah ketika memenuhi beberapa syarat, yakni, mendapat izin dari walinya (suami, ayah atau wali ), menutup aurat dengan jilbab dan kerudung, tidak bertabarruj, tidak berkhalwat kecuali disertai mahram,tidak ikhtilat (campur baur) laki laki dan perempuan, dan apabila hendak keluar (Safar) lebih dari sehari semalam, harus didampingi mahramnya. Sederhana, namun istimewa, Islam tidak mengekang perempuan untuk keluar dari rumah, namun tak melepasnya begitu saja tanpa penjaga.

Hanya dengan penerapan Islam secara kaffah,perempuan, ibu , generasi akan bahagia, mulia dan terjaga. Sistem paripurna pasti membawa berkah. Wallahualam

Post a Comment for "Islam : Solusi Berkah Kaum Hawa"