Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Antiklimaks pilpres berbuah rekonsiliasi romantika istana

Plot twist dimulai, saat Prabowo-sandi kukuh mengajukan kasus kecurangan pilpres ke meja hukum, bahkan tak segan dengan tegasnya Prabowo bilang "saya akan timbul tenggelam bersama rakyat" bahkan ia menambahkan "saya lebih baik mati daripada berkhianat".

Oleh : Dian Fitriani (pegiat opini media literasi)

Fenomena politik dewasa ini memiliki perkembangan plot secara dinamis, drama yang dihadirkan pun semakin membuka mata seluruh lini masyarakat, dari emak-emak hingga k-popers.

Tahun 2019 kita sama-sama melihat betapa pembelahan politik begitu senjang, bagaimana tidak? Soal kaus ganti presiden hingga turun kawanan satpol PP dan polisi sentimen, hingga nangis darah para emak-emak merajuk agar pasangan kosong dua menang cuma-cuma pun tak lekas dari ingatan.

Kematian lebih dari 600 petugas kpps pun kabarnya telah lama hilang ditelan bumi, misteri yang masih belum terbongkar lewat diagnosis tak masuk akal yakni 'kelelahan' masih belum menemukan titik terang, soal kecurangan pilpres pun masih membekas, meski sempat di bawa ke meja hijau konstitusi namun nihil, hasilnya pun tak berpihak pada Isak tangis emak-emak.

Banyak darah, tangis, keringat bahkan uang yang di korbankan oleh para pendukung pasangan idaman emak-emak ini, capres-cawapres kosong dua ini yaitu prabowo-sandi, membawa angin segar setelah 5 tahun dibawah kepemimpinan tangan besi pak de, maka tak heran disambut hangat oleh berbagai kalangan, bahkan dari ulama besar sekalipun seperti UAS dan UAH hingga rakyat kecil, seperti tukang cendol yang kabarnya turut memberikan uang 50.000 kepada pasangan dukungannya tersebut, namun apakah cinta dan segala pengorbanan ini berbalas?

Plot twist dimulai, saat Prabowo-sandi kukuh mengajukan kasus kecurangan pilpres ke meja hukum, bahkan tak segan dengan tegasnya Prabowo bilang "saya akan timbul tenggelam bersama rakyat" bahkan ia menambahkan "saya lebih baik mati daripada berkhianat".

Sangat pelik dan ironis kita saksikan, setelah keputusan MK yang menggemparkan seisi bumi Pertiwi, melumpuhkan optimisme masyarakat, bahkan sejenak berfikir bahwa kematian demokrasi sudah berada di tenggorokan, dengan berbagai kebohongan dan manipulasi yang tak tanggung-tanggung menunggangi hukum.

Iya, kecurangan yang di laporkan dari koalisi kosong dua berbuah simalakama, dilaporkan kalah tidakpun kalah, hanya membuang energi dan waktu, segala yang dikerahkan baik secara ruh maupun materi seolah habis tak bersisa, nyatanya kursi yang di idamkan semakin jauh bahkan terkesan memusuhi mereka, sebab nyatanya istana yang di tuduhkan melakukan kecurangan tidak terbukti secara deklaratif, lantas masihkah ada muka jika menggadahkan tangan meminta jatah?

Plot twist ternyata masih berlanjut, ketika masyarakat masih belum sampai hati menerima kenyataan, sebab legalitas pemerintah yang tak berpihak pada legitimasi rakyat cukup memberikan efek samping yang lama sembuh, terlebih pasca pesta demokrasi menghasilkan banyak polemik yang menjadi PR besar penegak hukum seperti kasus kematian misterius petugas kpps.

Belum menyisakan waktu bernafas lega, masyarakat dikagetkan dengan keputusan Prabowo bergabung ke istana, dilantiknya Prabowo sebagai Mentri pertahanan memberikan bukti pengkhianatan yang jelas menyakiti perasaan emak-emak serta pendukung pasangan kosong dua lainnya, pasalnya kalimat 'timbul tenggelam' menjadi omong kosong belaka setelah tahu bahwa Prabowo memilih menjalin hubungan romantis dengan istana, dibandingkan berjuang bersama menempuh seberang rezim, sakit hati semakin jadi ketika kenyataannya Prabowo sama sekali tak merasa bersalah menduduki kursi Mentri, seolah tangis dan nyawa yang hilang akibat dari teror massal pendukung kosong dua kini hanyalah sebagai tumbal dari keegoisan jabatan yang kini tampak dari keputusan Prabowo.

Tak hanya itu, kabar suap Harun masiku kepada komisioner KPU pun melunturkan legalitas hasil pilpres 2019, meski Harun masiku yang hilang ditelan bumi tanpa kejelasan hukum, namun ditangkapnya komisioner KPU merupakan bukti bahwa ada yang tidak beres dalam pilpres, namun pihak Prabowo yang sebelumnya mengajukan kasus kecurangan pilpres pun nampak nyaman saja, karena kini tak ada lagi kekhawatiran kehilangan kursi jabatan, ia seolah tak lagi memiliki masalah selama tak mengancam jabatan barunya.

Tak cukup sampai situ, ternyata plot twist ini masih saja berlangsung pada 23 Desember lalu. Pelantikan kabinet baru, salah satunya yakni pasangan dari capres 2019 Prabowo, yaitu Sandiaga Salahuddin Uno, yang mana diangkat sebagai menteri pariwisata dan ekonomi kreatif menggantikan Wisnu utama.

Kabar dilantiknya sandi sebagai Mentri adalah sebagai bukti bahwa demokrasi yang di hadirkan hanya dramatisasi konstitusi, padahal ketika dulu sorak Sorai terdengar dari berbagai lini masyarakat menyambut pesta demokrasi yang diadakan 5 tahun sekali, sekarang hanyalah menjadi senandung nostalgia yang mengundang tawa, semua seolah tampak seperti lelucon, lalu buat apa antusias menyambut ajang kompetisi demokrasi ini, jika Ujung-ujungnya adalah rekonsiliasi, lantas buat apa dulu beradu argumen siapa yang lebih pantas memimpin jika endingnya mereka bersama-sama mensiasati.

Percuma saja bukan?

Setelah cukup membuat luka semakin dalam, lantas apalagi kejutan plot twist berikut nya?

Apakah masih ada muka, mereka yang dulu adalah para penuntut ternyata bergabung membangun penjara keadilan bersama para tersangka kecurangan?

Apakah masih ada ruang untuk bersaing kualitas dan totalitas dalam bangsa yang penuh manifestasi kegagalan dalam elektabilitas?

Seolah persaingan kemarin hanya sekedar alat adu domba rakyat antara pendukung kosong satu dan kosong dua.

Sungguh antiklimaks yang ironis.

Post a Comment for "Antiklimaks pilpres berbuah rekonsiliasi romantika istana"