Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sultan Muhammad Al Fatih Dan Militernya Sangat Mencintai Ulama

Pada masa kecilnya, Sultan Muhammad Al Fatih adalah anak yang berwatak keras dan susah diatur. Ayahnya, Sultan Murad II sebenarnya tidak menjagokan anak bungsunya ini sebagai penakluk Konstantinopel.

Oleh: Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Pada masa kecilnya, Sultan Muhammad Al Fatih adalah anak yang berwatak keras dan susah diatur. Ayahnya, Sultan Murad II sebenarnya tidak menjagokan anak bungsunya ini sebagai penakluk Konstantinopel.

Ada dua kakaknya yang diprediksikan akan menunaikan janji Allah SWT akan takluknya Konstantinopel. Ahmed dan Ali tidak berusia panjang keduanya meninggal dunia ketika Sultan Muhammad Al Fatih berusia 6 tahun.

Harapan sang Ayah tertuju kepada sang bungsu. Sultan Murad pun menugaskan Ulama pengajar yang paling bagus di masanya untuk mengarahkan kekerasan watak Muhammad Al Fatih junior dan membentuk kepribadiannya. Tugas ini diserahkan kepada Syaikh Ahmad Al Kurani dan Syaikh Aaq Syamsudin.

Dalam buku Muhammad Al Fatih 1453, Ustadz Felix Siauw menjelaskan bahwa kedua Ulama ini bukanlah Ulama sembarangan, dunia tidaklah dapat memperdaya mereka sedangkan mata mereka sudah terikat pada janji Allah dan surga-Nya.

Mengenai Ahmad Al-Kurani, Imam Suyuthi menulis, "Sesungguhnya ia adalah seorang yang berilmu lagi faqih. Para Ulama pada zamannya telah menjadi saksi atas kelebihan serta kekonsistenan Beliau." Sedangkan Syaikh Aaq Syamsuddin adalah Ulama yang nasabnya bersambung pada Abu Bakar As-Shiddiq Ra, seorang Polymath, hafidz Qur'an, ahli biologi, kedokteran dan herbal.

Ketika bertemu Muhammad Al Fatih yang masih junior, Syaikh Ahmad Al Kurani berkata kepadanya, "Ayahmu telah mengutusku untuk mendidikmu dan memukulmu bila engkau tidak menuruti perintahku." Mendengar ucapan itu, Al Fatih junior tertawa dan menganggap itu gertakan saja. Ia pun dipukul oleh Syaikh dengan tongkat, sehingga ia jera dan segan terhadapnya.

Dibawah binaan Syaikh Al Kurani, Al Fatih remaja tumbuh menjadi menjadi hafidz Qur'an pada usia 8 tahun dan menguasai etika belajar. Melalui Syaikh Aaq Syamsuddin, Al Fatih Junior tumbuh menjadi seorang Polymath.

Setiap hari Syaikh Aaq Syamsuddin terus memotivasi Muhammad Al Fatih bahwa dia yang akan mewujudkan Bisyarah Rasulullah SAW dengan menaklukkan Konstantinopel. Al Fatih yang mencintai Ulamanya ini dan mulai merancang penaklukkan besar.

Al Fatih menyeleksi pasukan elit Turki Ustmani menjadi tim Janissari. Tim ini terdiri atas pasukan yang seumur hidupnya tidak pernah alpa Shalat berjama'ah, Shalat Tahajud dan Puasa Senin Kamis.

Maka penyerangan demi penyerangan terus dilakukan terhadap kota Konstantinopel. Ketika tanda-tanda kegagalan mulai muncul dan suara sumbang muncul dari orang-orang munafik Sultan menemukan Syaikh Aaq Syamsuddin yang memotivasi dirinya.

Syaikh meminta Sultan mencari makam Sahabat Rasulullah SAW yang bernama Abu Ayyub Al Anshari Ra. yang meninggal di dekat kota Konstantinopel karena berjihad. Kuburannya ditemukan dan membakar semangat Sang Sultan dan Militernya. Kapal-kapal perang Turki Ustmani melewati Bukit Galata dalam waktu satu malam.

Keesokan paginya berhasil menempati benteng terlemah Konstantinopel. Sultan atas ilmu dari gurunya memerintahkan militernya untuk berpuasa dan pada 1 Juni tahun 1453 M berhasil menaklukan Konstantinopel.

Semua ini bisa terjadi karena Sang Sultan dan Militernya tidak sombong terhadap Ulama. Tidak mempersekusi mereka bahkan menganggap mereka sebagai sumber inspirasi yang kemudian berhasil mendorong mereka mampu menaklukkan kota terkuat di dunia yang dikabarkan dalam bisyarah Rasulullah SAW akan ditaklukkan oleh Amir dan Pasukan terbaik dari golongan Kaum Muslimin. Golongan yang mencintai para Ulamanya[]

Bumi Allah SWT, 20 November 2020

#DenganPenaMembelahDunia

#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

Post a Comment for "Sultan Muhammad Al Fatih Dan Militernya Sangat Mencintai Ulama"