Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Presiden Baru dalam Pusaran Kapitalisme, Akankah Membawa Perubahan?

Joe Biden berhasil memenangkan pemilu presiden (pilpres) Amerika serikat 2020 . ia memperoleh suara sebanyak 290 electoral votes dan mengalahkan pesaingnya, Donald Trump. Dan ia resmi menjadi presiden yang ke-46 menggantikan Donald Trump. Joe Biden dan wakilnya Kamala Harris akan dilantik pada 20 Januari 2021.  Dalam pidatonya, Joe Biden mengatakan bahwa Jika nantinya menang dan resmi terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat, Joe Biden berjanji kepada umat muslim akan memperlakukan agama Islam sebagaimana mestinya. Joe Biden mengungkapkan pernyataan itu, melalui cenel YouTubenya.

Oleh : Leli | Komunitas Pena Ideologis Maros

Joe Biden berhasil memenangkan pemilu presiden (pilpres) Amerika serikat 2020 . ia memperoleh suara sebanyak 290 electoral votes dan mengalahkan pesaingnya, Donald Trump. Dan ia resmi menjadi presiden yang ke-46 menggantikan Donald Trump. Joe Biden dan wakilnya Kamala Harris akan dilantik pada 20 Januari 2021.

Dalam pidatonya, Joe Biden mengatakan bahwa Jika nantinya menang dan resmi terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat, Joe Biden berjanji kepada umat muslim akan memperlakukan agama Islam sebagaimana mestinya. Joe Biden mengungkapkan pernyataan itu, melalui cenel YouTubenya.

“Saya berjanji kepada Anda sebagai presiden, Islam akan diperlakukan sebagaimana mestinya, seperti keyakinan agama besar lainnya. Saya sungguh-sungguh bersungguh-sungguh,” kata Joe Biden.

Selain itu, secara mengejutkan dalam video tersebut Biden juga mengutip hadist Nabi Muhammad SAW. “Hadist Nabi Muhammad memerintahkan siapa pun di antara kamu melihat kesalahan biarkan dia mengubahnya dengan tangannya jika dia tidak mampu, maka dengan lidahnya jika dia tidak mampu, maka dengan hatinya,” kata Joe Biden.

Joe Biden juga menegaskan, bahwa suara umat muslim Amerika juga akan menjadi bagian dari pemerintahan jika ia sudah resmi menjabat jadi Presiden Amerika Serikat. “Suara Muslim Amerika akan menjadi bagian dari pemerintahan jika saya mendapatkan kehormatan menjadi presiden saya akan mengakhiri larangan (Travel ban) bagi muslim pada hari pertama,” tambah Biden dalam video tersebut.

Karena video yang di ungkapkan oleh Joe Biden ini, sontak membuat publik pun langsung ramai memberi tanggapan untuk Joe Biden. Mereka bahkan ada yang mengakui terharu dan tidak sedikit mendoakannya.

Sejak awal kampanye, Biden tampak sebagai sosok yang sangat berbeda dengan Trump. Biden dinilai lebih religius, beradab, dan cerdas. Yang dengan itu sangat bertolak belakang dengan sifat Trump, yang sangat jelas terang-terangan menunjukkan kebenciannya terhadap umat Islam. Ia bahkan dengan lantang mendukung penuh kebijakan Israel. Saat Israel mengakuisisi wilayah Tepi Barat, dan terhadap isu umat Islam, Trump malah lebih memilih bungkam.

Seiring dengan itu Biden pun datang untuk mencalonkan diri sebagai presiden Amerika dan menggantikan posisi Donald Trump. Yang seakan menjadi angin segar dan memberi harapan baru bagi nasib umat Islam dengan tampilan kalem dan lebih merangkul.

Joe Biden Membawa Perubahan Baik ?

Jika kita cermati respons umat Islam terhadap Biden, tampaknya umat kembali terlena dengan kampanye dan janji “islami” Biden. Seolah-olah melupakan bahwa siapa sebenarnya Amerika Serikat dan bagaimana politik luar negeri mereka.

Joe Biden bisa dikatakan berhasil mengambil hati rakyat dan menuai banyak harapan yang besar dari rakyat. Dengan kampanye yang di sampaikannya, sedangkan rakyat hanya bisa berharap agar supaya Joe Biden membawanya pada kedamaian dan kesejahteraan masyarakat terutama kepada kaum muslim.

Kampanye “manis” yang diungkapkan oleh Joe Biden tidak lebih hanya sebagai pencitraan yang dilakukannya. Tujuannya melakukan pencitraan tersebut agar pemilih hanya memikat dan memberi dukungan kepadanya.

Perlu kita ketahui, bagaimana potret peradaban kapitalis sekuler di Amerika Serikat. Di balik nama kebesarannya, Amerika Serikat menimbun banyak masalah internal di negaranya. Seperti kemiskinan, meningkatnya kriminalitas, kebebasan tanpa batas, kekerasan seksual, rasisme, hingga utang negara.

Meski memiliki power sebagai negara besar, Amerika Serikat memiliki utang terbanyak di dunia. Jumlah utang negara di masa Donald Trump saja mencapai US$ 21 miliar atau hampir setara dengan Rp 300 ribu triliun pada tahun 2018. Dari total utang negara-negara di dunia yang mencapai US$ 63 triliun, kurang lebih 31 persennya merupakan utang Amerika Serikat.

Ditinjau dari rasionya, rasio utang Amerika Serikat terhadap PDB-nya sebesar 107,7 persen. Hal ini menunjukkan jumlah utang Amerika Serikat lebih besar dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan ekonominya. Satu fakta yang mengindikasikan ekonomi Amerika Serikat sebenarnya keropos. Mereka terlihat kuat di luar, tapi sebenarnya lemah dari dalam.

Oleh karena itu, Biden bukanlah harapan baru bagi umat Islam. Seharusnya, umat saat ini mesti mengetahui bahwa siapapun Presiden dari Amerika Serikat, wajah Amerika Serikat akan tetap sama. Dan harus di ingat pula bahwa negara Amerika Serikat adalah negara pengemban ideologi kapitalisme, yang berasaskan hanya kepada materi saja dan tidak mempedulikan kepentingan masyarakat pada umumnya.

Demokrasi Membawa Kemudharatan

Sistem demokrasi yang diadopsi oleh ideologi kapitalisme dalam pemerintahan, tidak akan membawa kebaikan meskipun pemimpinnya adalah sosok yang lembut, cerdas, dan beradab. karena segala peraturan-peraturan yang diterapkan akan lebih berfihak pada para kapitalis, dan pastinya akan membawa umat kembali kepada kesengsaraan.

Selain itu, kapitalisme - demokrasi yang asasnya memisahkan dunia dari agama (sekulerisme) mustahil akan meredam perang dunia. peperangan yang terjadi saat ini pun akibat dari syahwat para kapitalis dalam menguasai dunia, akibatnya penderitaan umat islam seperti di Palestina, Syiria, Rohingya, Uighur dan negeri-negeri muslim lainnya tak kunjung sirna.

Maka dari itu para penguasa yang menerapkan sistem demokrasi hanyalah sebagai juru kampanye kreatif para kapitalis, mereka memainkan emosi rakyat terutama umat muslim demi meraih kekuasaan. Ini semua hanya topeng kapitalisme untuk menenangkan rakyat yang gelisah, padahal sejatinya kapitalisme telah gagal dalam mengatur kehidupan.

Sistem Khilafah Harapan Umat

Mengharapkan AS sebagai juru selamat bagi umat adalah ilusi. Sejauh ini, keberadaan AS sebagai juru damai dunia terbilang nihil. Apa yang sudah dilakukan AS untuk menyuarakan anti diskriminasi dan persekusi terhadap kaum muslim? Apakah pernah AS membela dan memperjuangkan hak muslim Rohingya, Uyghur, muslim India, Suriah, Afghanistan, dan negeri muslim lainnya?

Didalam Pusaran sistem kapitalisme, kondisi dunia Islam justru semakin terpuruk dan terjajah. Lantas, apa harapan baru bagi umat Islam? Harapan baru itu ada pada Islam dan Khilafah. Hanya Khilafah yang mampu menandingi kekuatan AS sebagai negara adidaya. Hanya Khilafah pula yang akan mempersatukan kekuatan kaum muslim dunia. Dan hanya Khilafah yang mampu membebaskan negeri muslim dari penjajahan AS dan sekutunya. Penegakan Khilafah adalah agenda masa depan bagi umat Islam.

Dalam sistem Khilafah, umat Islam mampu berdiri tegak dan tampil sebagai negara adidaya yang mandiri tanpa harus menghamba pengharapan dan belas kasih dari Barat. Selain itu, segala hal yang menyangkut tentang kehidupan dan kemaslahatan umat manusia yang hakiki hanya akan bisa di rasakan jika sistem demokrasi kapitalis digantikan dengan sistem Khilafah yang membawa pada Rahmatan Lil 'Alamin.

Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam yang secara keseluruhan peraturan yang diterapkannya sesuai dengan Al-Qur’an dan As-sunnah. Dan telah terbukti selama lebih dari 13 abad lamanya khilafah Islamiyyah menjadi peradaban unggul yang menguasai dunia hingga mewujudkan kesejahteraan, kedamaian dan menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia.

Maka sudah semestinya umat tidak terjebak berulang kali dengan narasi palsu demokrasi kapitalis. Umat harus memiliki agenda sendiri dalam membangun kembali peradaban Islam yang gemilang, yakni Khilafah Islamiyyah. Wallahu a’lam

Post a Comment for "Presiden Baru dalam Pusaran Kapitalisme, Akankah Membawa Perubahan?"