Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pemimpim Idola Hanya Tumbuh Dalam Sistem Islam

Pemimpin di masa Islam tegak, memahami bahwa tanggung jawab itu dunia akhirat. Artinya, di dunia dia bertanggung jawab atas nasib rakyat. Dia wajib menjaga agama rakyatnya supaya tetap dalam tauhid dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Dia juga wajib memelihara agar urusan sandang, pangan, dan papan rakyatnya bisa tercukupi. Demikian juga kebutuhan kolektif mereka seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan terjaga. Sehingga, rakyat bisa mengeluh kepada Imam daerah bilamana kebutuhan mereka tak tercukupi atau kepada Imam negara ketika Imam daerah abai pemeliharaan terhadap kebutuhan mereka. Mereka juga paham bahwa tanggung jawab mengurus urusan rakyat ini akan dimintai pertanggungjawabannya hingga ke akhirat. Sehingga pemimpin dalam sistem islam akan dapat tumbuh dan berkembang dalam kebaikan dan kebenaran karena ketakwaannya rasa cinta, dan rasa takut kepada Allah Swt.

Oleh : Khusnawaroh ( Pemerhati Umat)

Salah seorang warga Desa Mantigola, Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, Hatima mengaku dirinya tidak mendapatkan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) karena diduga tidak mendukung petahana yang akan bertarung di Pilkada Desember 2020 mendatang.

“Ada keluarga saya yang bilang kalau saya tidak dapat bantuan bedah rumah karena saya dukung merah. Juga karena ada keluarga saya yang pasang bendera merah, dan mereka maunya kita pasang bendera kuning. Tapi ini biar yang rumah batu dan masih bagus kalau pasang bendera kuning di kasi dapat bantuan,” ungkapnya, saat ditemui di Desa Mantigola, Minggu, (18/10/2020).

Sementara itu, kondisi dan keadaan fisik rumah Hatima, tiang kayu penyangga yang menancap di laut sudah tidak kokoh lagi, dikhawatirkan roboh ketika angin kencang. Di sisi lain, dapur yang menjadi tempat ia memasak terlihat sudah tak layak lagi difungsikan.

Namum miris, harapannya untuk mendapat bantuan bedah rumah tersebut sirna ketika dirinya tidak terakomodir sebagai penerima BSPS tahap kedua. Sehingga ia hanya menjadi penonton melihat rumah-rumah tetangganya yang dibedah. (Zonasultra.Com 21 oktober 2020).

Seakan tak percaya, sekilas membaca berita tersebut, betapa sangat buruk jika dugaan tersebut benar adanya. Sulit tuk dibayangkan, namun itulah kenyataannya. Luka hati rakyat selalu terenggut, rakyat hanya dapat mengelus dada merasakan ketidakadilan. Dari mana rakyat akan memperoleh kesejahteraan dan ketentraman hati. Jika, watak calon pemimpin saat ini banyak tergambar sangat tidak bisa merangkul tuk kesejahteraan rakyatnya. Betapa sangat menyedihkan, suara para pedagang kaki lima, petani, nelayan dan rakyat kecil pada saat pemilu pilkada akan sangat bernilai tetapi setelah pemilu seakan nasib mereka tak diperdulikan.

Seharusnya itu semua tidaklah terjadi, bukankah sudah sangat jelas prinsip demokrasi dan makna yang terkandung dalam pancasila yang dimiliki bangsa Indonesia? yang seharusnya itu semua dimiliki dalam pribadi para pemimpin maupun para calon pemimpin kita yang kemudian dicontohkan kepada rakyatnya. Namun, sepertinya prinsip dan makna tersebut sudah mulai terkikis dari kebanyakan sosok pemimpin negeri kita tercinta ini. Betapa tidak, ketidakadilan dari pemangku kekuasaan selalu terjadi, begitu pula kasus tindakan korupsi masih saja merajalela dan mirisnya, pelaku- pelakunya yah, mereka- mereka yang duduk di kursi kekuasaan.

Mengingat prinsip demokrasi yang menyatakan bahwa pemerintahan berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Pemilu ini hadir sebagai salah satu produk penerapan prinsip demokrasi itu sendiri. Pelaksanaan pemilu ini sebagai bentuk dari implementasi kebijakan kebebasan, keadilan, dan kesetaraan kesempatan bagi rakyat untuk bisa berpartisipasi aktif dalam menentukan jalannya pemerintahan. Namun saying, memang sepertinya saat ini rakyat mulai merasa sulit untuk menemukan, memilih sosok pemimpin yang diidolakan, adil, arif, bijaksana, amanah dan bertanggung jawab, terkadang rakyat sering merasakan manis diawal namun pahit dikemudian.

Terutama janji- janji yang disuguhkan oleh mereka para pasangan calon seringkali diingkari setelah sudah duduk dikursi kekuasaan , terlebih terasa aneh ketika pada saat akan pemilu terdapat berseliweran datang bantuan baik berupa uang atau yang lainnya seperti apa yang dialami oleh Hatima , tidak mendapatkan bantuan rumah tersebab karena diduga tidak mendukung petahana yang akan bertarung dipilkada Desember 2020 mendatang. Pastinya, masih banyak rakyat yang bernasib sama seperti Hatima warga kabupaten wakatobi tersebut, dan itulah gambaran pemimpin yang hanya akan memanfaatkan jabatan sebagai mencari kedudukan dan harta semata.

Miris, bantuan berupa rumah sudah seharusnya diberikan kepada rakyat karena merupakan kewajiban dari penguasa sebagai periayah. Sehingga, tidak menunggu adanya momen pemilihan untuk bisa menikmati bantuan itu. Namun, sayangnya melihat kondisi saat ini dimana banyak pemimpin rakyat yang tersandung berbagai macam masalah selain tidak terwujudnya janji-janji yang telah diberikan pada masyarakat, korupsi, dan yang lebih menyakitkan adalah kurang berpihaknya pemimpin sebagai wakil rakyat terhadap rakyatnya, inilah yang menjadi momok yang menjenuhkan bagi masyarakat. Sesungguhnya kita sangat membutuhkan pemimpin yang tidak hanya berfokus untuk menduduki kursi kebesaran kepemimpinan demi kekuasaan semata, serta pemimpin yang bukan hanya mencari popularitas atau ketenaran dan kekayaan saja, bertebar janji tanpa bukti disaat kampanye ramai tebar simpati, tetapi pada saat menjadi pemimpim menjadi sepi. Kita butuh pemimpin yang memiliki hati tulus ikhlas untuk mengayomi rakyatnya.

Namun, sosok seperti itu tidaklah cukup, sebab saat ini kita masih bersama dengan sistem yang memisahkan peran agama dari kehidupan(kapitalis-sekuler). Sekalipun sosok ulama yang menjadi penguasanya, dengan sendirinya sifat mulianya pun akan terkikis oleh sistem yang membahayakan ini. Ganasnya sistem ini dapat mengubah banyak sosok pribadi manusia yang baik dan benar menjadi buruk, tak heran jika tingkat keburukan di negeri ini tak pernah mereda, mulai dari individu, masyarakat, negara hingga pemerintahan. Masihkah kita sudi dengan sistem ini ? hanya ada satu nama sistem yang kita tidak akan dibuat bingung dan kecewa untuk memilih pemimpin di dalamnya. Kita akan merasakan ketentraman, perlindungan baik didunia maupun diakhirat, yaitu sistem yang diwariskan oleh baginda besar kita manusia termulia Nabi Muhammad Saw. yah, itulah sistem Islam.

Telah sekian puluh tahun sistem ini terkubur, namun sejarah kegemilangannya tak pernah tertandingi oleh sistem yang lain. Sosok para pemimpin yang amat sangat berkesan keunggulannya yang dapat membawa umat manusia kedalam cahaya kemuliaan. Sangat berbeda jauh dengan sistem saat ini yang hanya membawa banyak manusia ke dalam jurang kehinaan. Jelas sangat jauh berbeda, sebab asas dasar sistem Islam adalah Al-quran dan as-sunnah sedang sistem kapitalis- sekuler berdasar atas manfaat dan hawa nafsu manusia belaka. Sangatlah keliru jika kita masih mempertahankan sistem saat ini dan mengabaikan dengan tidak memperjuangkan sistem yang telah Nabi Saw contohkan.

Pemimpin di masa Islam tegak, memahami bahwa tanggung jawab itu dunia akhirat. Artinya, di dunia dia bertanggung jawab atas nasib rakyat. Dia wajib menjaga agama rakyatnya supaya tetap dalam tauhid dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Dia juga wajib memelihara agar urusan sandang, pangan, dan papan rakyatnya bisa tercukupi. Demikian juga kebutuhan kolektif mereka seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan terjaga. Sehingga, rakyat bisa mengeluh kepada Imam daerah bilamana kebutuhan mereka tak tercukupi atau kepada Imam negara ketika Imam daerah abai pemeliharaan terhadap kebutuhan mereka. Mereka juga paham bahwa tanggung jawab mengurus urusan rakyat ini akan dimintai pertanggungjawabannya hingga ke akhirat. Sehingga pemimpin dalam sistem islam akan dapat tumbuh dan berkembang dalam kebaikan dan kebenaran karena ketakwaannya rasa cinta, dan rasa takut kepada Allah Swt.

Rasulullah Saw. menegaskan dalam sebuah riwayat hadits, “Tidaklah seorang manusia yang diamanati Allah SWT untuk mengurus urusan rakyat lalu mati dalam keadaan dia menipu rakyatnya melainkan Allah mengharamkan surga bagi dia.” (HR. Bukhari).

Khalifah Umar r.a, pernah berkata : “Aku sangat khawatir akan ditanya Allah SWT kalau seandainya ada keledai terpeleset di jalanan di Irak, kenapa aku tidak sediakan jalan yang rata”. Ungkapan tersebut menunjukkan kesadaran khalifah Umar bin Khaththab yang sangat tinggi terhadap nasib rakyatnya. Kalau keledai jatuh saja beliau sangat takut, apalagi bila manusia yang jatuh akibat jalan yang tidak rata, atau tersakiti hati mereka.

Allah memerintahkan seorang penguasa untuk bersikap lemah lembut dan tidak menyusahkan rakyatnya. Diriwayatkan dari Aisyah : Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda : “Ya Allah, barangsiapa memimpin umatku, lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkan dia. Barangsiapa memimpin umatku lalu dia lemah lembut terhadap mereka, maka bersikaplah lemah lembut terhadapnya.“ (HR. Muslim)

Allah pun memerintahkan seorang penguasa agar menjadi pemberi kabar gembira dan agar dia tidak menimbulkan antipati. Diriwayatkan dari Abu Musa, dia berkata: dulu Rasulullah Saw jika mengutus seseorang dalam suatu urusan, beliau bersabda : “Berilah kabar gembira dan jangan menimbulkan antipati. Mudahkanlah dan jangan mempersulit".

Itulah kesempurnaan Islam dalam mengatur kehidupan manusia yakni harus berdasar kepada Al- quran dan as-sunnah. Seperti disebutkan dalam Surat Al-Hajj ayat 41 yang artinya, “(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar, dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”.

Nah, sudah saatnya kita kembalikan urusan kita dari sistem yang buruk (kapitalis- sekuler ) kepada jalan sistem Islam yang mulia yang menerapkan Islam secara kaffah. Wallahua'lam Bissawab.

1 comment for "Pemimpim Idola Hanya Tumbuh Dalam Sistem Islam"