Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Memprediksi sikap Perancis ke depan

Jika umat Islam konflik dengan Perancis, maka harus diingat saat ini umat Islam itu tidak cuma bermasalah dengan Perancis. Di Eropa secara umum punya masalah. Di Amerika juga punya masalah. Di India juga punya masalah. Di Cina juga punya masalah. Di Indo-China (Asia Tenggara termasuk Phipilina) juga punya masalah. Di Rusia (Chechnya) dulu pernah punya masalah. Ini situasi yang amat tidak nyaman buat umat Islam. Cilakanya justru di Timteng tempat Hostnya umat Islam justru disana pula masalah besar berada.
Perancis itu bukan kita, Indonesia. Kita negara agamis, 95%-99% masyarakat kita anggap agama itu penting. Klo di Perancis anggap agama sama sekali tidak ada holly-nya. Jadi, bagi masyarakat mereka agama adalah obyek belaka. Namanya obyek yah tetap aja obyek meskipun si obyek bisa jadi pelaku, tapi dia bukan subyek. Kadang malah agama cuma dijadikan penyerta pembicaraan belaka, kadang dijadikan obyek pesakitan.

Buat masyarakat Perancis semua itu biasa aja. Mereka tidak sedang menghina agama tapi memang mereka ndak anggap agama perlu ditempatkan secara terhormat. Sejak Aufklärung dan/atau Renaissance, agama itu sudah tamat buat masyarakat Perancis. Sesungguhnya itu berlaku di Eropa, terutama Eropa Utara, tapi Perancis lebih ekstrim dari pada negara-negara Eropa Utara.

Baik ku-share sedikit pengalamanku tentang di Eropa. Belasan tahun lalu saat masih mahasiswa praktikum di kota Saarbrücken. Saat jalan-jalan di kota, aku diberi sebuah buku yang bagus dalam sebuah stand di trotoar. Saat kubuka ternyata itu Bible. Nah, saat sama ada orang Jerman dikasih buku yang sama. Begitu dia lihat itu Bibble, enteng aja di depan yang memberi itu Bibble dimasukin tempat sampah yang ada beberapa meter di depannya. Wah, klo aku ra sanggup seperti itu. Bibble yang ada padaku, kubawa pulang. Lalu ada kotak tempat donasi buku maka Bibble tersebut kumasukkan ke kotak Donasi.

Beberapa waktu yang lalu di Hamburg, sekelompok orang Islam (kalau dari atributnya Salafy), imigran Arab kasih-kasih Quran di pinggir jalan. Aku sudah tahu itu Quran. Seorang Jerman, entah dia sudah tahu atau belum, bisa jadi dia tidak tahu karena memang ndak pernah lihat Quran. Wajar kadang orang ndak tahu Quran akibat ndak perduli, maka dia terima aja itu pemberian sambil jalan. Saat jalan dia buka itu Quran, sepintas, lalu itu Quran langsung dia buang ke tempat sampah dengan acuh.

Si imigrant Salafy lihat lalu marah dan amat ngamuk. Dia sempat memaki karena kitab sucinya dibuang ke tempat sampah. Saat makian keluar, justru orang2 yang dengar “menyalahkan” (dalam bentuk ekspresi ndak senang) ke si muslim yang memaki. Bagi mindset orang Jerman selama membuang “sampah” pada tempatnya tidak salah. Tapi memaki orang di depan umum dengan bahasa makian itu bisa masalah. Bagiku yang tahu mindset Jerman dan tahu mindset Islam, segera itu Quran dari tempat sampah kuambil, kumasukin tasku, lalu kubawa pergi meninggalkan tempat insiden. Aku ndak mau terlihat terlibat dalam insiden perang mulut tsb, malu ah.

Jadi disini ada 2 mindset yang amat bertentangan: yang Eropa sekularis, mereka ndak anggap agama penting sama sekali sehingga saat buang ke tempat sampah yah santai aja. Jelas itu berangkat dari mindset bahwa agama bukan sesuatu yang penting. Sementara yang Islam anggap agama segala-galanya dan bahkan satu-satunya yang terpenting.

Hanya bagiku sederhana saja: dimana bumi di pijak, disana langit dijunjung. Jika di Indonesia atau di Arab misalkan, yah orang Eropa Sekular Liberal itu harus beri hormat dan beri respect pada nilai local wisdom yang ada dimana dia berada. Tapi saat di Eropa maka orang agama yang menyesuaikan dengan value mereka yang anggap agama tidak penting. Jadi, misalkan mereka buang Bibble atau Quran ke tempat sampah yo ojo diamuk toh. Dimaklumi wae, lalu diambil aja kitab suci tsb untuk kita simpan dan pastikan jangan jatuh lagi ke tangan seperti mereka: iso sakit hati nantinya.

Nah, masalahnya bagaimana jika umat Islam ndak terima dengan apa yang dilakukan oleh Perancis. Klo menurutku Perancis ra bakal merubah valuenya. Dia akan tetap seperti itu di negaranya. Bagi mereka itu negaranya maka mereka ndak akan merubahnya. Mereka ra perduli umat Islam marah-marah. Itu feeling-ku tentang Perancis.

Terus bagaimana jika Umat Islam melakukan teror diulangi lagi seperti pemenggalan kemarin. Ini kejadian yang ke-3 kalinya yaitu pertama saat serangan langsung ke Kantor Charlie Hebdo, lalu saat guru dipenggal, lalu kemarin saat gereja diserang dan ada yang dipenggal. Menurutku: Perancis akan membalasnya menekan imigran muslim yang dia anggap radikal. Amat mungkin mesjid-mesjid akan makin diawasi. Para pengkotbah agama akan diawasi, dll. Perancis ndak akan mengalah menurutku.

Bagaimana dengan Eropa lain, jika serangan teror seperti pemenggalan TIDAK terulang lagi di Perancis, atau jika TIDAK ada serangan mematikan lagi maka Eropa yang lain akan diam saja terhadap apa yang dilakukan Perancis. Tapi jika ada serangan mematikan terjadi lagi, maka Eropa lain akan dibelakang Perancis menjadikan Islam sebagai « common enemy ».

Nah, itu situasinya. Sekarang tinggal kita lihat bagaimana reaksi Umat Islam dalam sikapi ini. Apakah ke depankan (1) dialog persahabatan dengan Perancis dan Barat, atau kah (2) lawan Perancis dfengan Boykott misalkan sehingga Perancis mau rubah sikapnya, atau (3) ajak Perancis dan Barat adu diskursus dan dialektika tentang agama, atau (4) terror dibalas terror, atau (5) malah umat Islam diam saja dan anggap selama di Perancis itu akan jadi urusan Perancis.

No (1), (2) dan (3) itu yang elegant untuk membentuk “kompromi social” baru. Meskipun aku ndak yakin Perancis yang begitu PeDe tunduk mau kompromi, atau malah Perancis yang mendominasi. No (4) kayaknya ini yang bakal terjadi. (5) Kayaknya ini yang menjadi akhir cerita. Pada akhirnya umat Islam dunia akan menerima sikap Perancis seperti agama Kristen juga menerima sikap Perancis.

Bagaimana jika no (4) terjadi? Jika ini terjadi, tampaknya Umat Islam akan menderita.

Kita lihat fakta telanjang, terhadap Israel (yang kecil mungil liliput saja) saja umat Islam tidak berdaya. Negara-negara Islam Arab sekarang mulai memilih untuk duduk bersama dengan Israel. Kita di Indonesia bisa ndak paham kenapa kok mau2nya negara-negara Arab yang kita bela saat bermusuhan dengan Israel, justru mereka duluan yang memutuskan berteman dengan Israel. Hanya persoalan seperti ini memang tidak mudah diterima secara hati. Ini ada itung-itungan rasionalnya.

Jika umat Islam konflik dengan Perancis, maka harus diingat saat ini umat Islam itu tidak cuma bermasalah dengan Perancis. Di Eropa secara umum punya masalah. Di Amerika juga punya masalah. Di India juga punya masalah. Di Cina juga punya masalah. Di Indo-China (Asia Tenggara termasuk Phipilina) juga punya masalah. Di Rusia (Chechnya) dulu pernah punya masalah. Ini situasi yang amat tidak nyaman buat umat Islam. Cilakanya justru di Timteng tempat Hostnya umat Islam justru disana pula masalah besar berada.

Berangkat dari itu lah maka Perancis yang Pede dengan tradisi Renaissance dan Aufklärung-nya, akan tetap PeDe mempertahankan itu. Feelingku Perancis tidak akan mengubah sikapnya tentang Kebebasan Sekularis. Yang dilakukan Perancis dalam waktu dekat akan meng-ekspos secara terbuka proses pengadilan pada para keluarga atau mereka yang terlibat membantu pemenggalan.

Lalu media-media Perancis dan Barat akan memberitakan secara detail. Di-blejeti secara detail kehidupan value imigran yang notabene muslim dan attitude keagamaan keluarga dan pihak2 yang mendukung si pemenggal, dari sisi dark side. Lalu akan terbangun ToMA (Top of Mind Awarness) di seluruh dunia tentang kebarbaran dan kebiadaban itu. Saat sama Cina misalkan akan gunakan momentum ini untuk memberikan pukulan akhir Uighur untuk dieliminasi.

Bagaimana dengan Turki? Jika Erdogan turun dari jabatan (dan peluang turunnya amat tinggi), lalu yang naik ke pemerintahan misalkan oposisi saat ini, maka Turki akan ke barat. Turki dan Eropa akan ngekek-ngekek berakrab ria. Itu akan sama dengan saat ini Arab ngekek-ngekek dengan Israel. Perancis dan Eropa amat sangat tahu itu. Saat sama mereka amat PeDe dengan value Sekular dan Libertinya.

Jadi, yah kita nikmati saja mungkin ke depannya akan lebih panas. Buka hati seluas samudera sehingga jenengan tetap tenang terhadap hal ini. Semoga semua akan berakhir baik...

#dariTepianLembahSungaiRheinRuhr

Ferizal Ramli

Post a Comment for "Memprediksi sikap Perancis ke depan"