Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mau Perubahan, Kubur Sistem Rendahan

Pandemi akan bersinambung tanpa henti karena terpengaruh oleh sistem yang karut-marut. Berbeda sekali dengan sistem Islam yang tidak menghiraukan saban daerah menanggung kesulitan selama belajar daring.  Dalam Islam, sebelum sekolah tatap muka dibuka, pandemi harus diselesaikan terlebih dahulu dengan cara memisahkan yang sehat dan yang sakit.

Oleh : Annisa Mutiani (Pembina Smart With Islam Kabupaten Bandung)

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim mengatakan kebijakan pembelajaran tatap muka berlaku mulai semester genap tahun ajaran 2020/2021.

Lanjutnya, keputusan pembukaan sekolah akan diberikan kepada tiga pihak, yakni pemerintah daerah, kantor wilayah (kanwil), dan orang tua melalui komite sekolah. (CNN Indonesia)

Meskipun pembukaan sekolah tatap muka yang akan dimulai pada Januari mendatang dilakukan dengan sejumlah syarat, namun kebijakan ini tetap menyisakan kekhawatiran dalam diri masyarakat.

Pasalnya sampai saat ini, pandemi Covid-19 belum juga berakhir. Dengan demikian, jika sekolah luring ditetapkan, maka akan menuai risiko besar.

Sejauh ini, masyarakat belum mampu menerapkan protokol kesehatan dengan baik di lingkungan tempat tinggalnya. Bahkan, ketika menjumpai tempat publik pun sangat jarang yang menerapkan physical distancing.

Lebih-lebih, angka penyebaran Covid-19 belum menunjukkan penurunan. Per 25 November 2020 saja jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia sejumlah 511.836 kasus dengan 429.807 sembuh dan 16.225 meninggal.

Apa yang akan terjadi jika siswa yang tidak dalam pantauan orang tua akan bebas berkeliaran dan mengabaikan protokol kesehatan? Jelas, akan banyak yang terjangkiti virus corona.

Bila hal itu terjadi, mikroorganisme yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang ini akan menular ke tubuh orang-orang terdekat.

Seharusnya negara berpikir mendalam terkait kebijakan yang dikeluarkan apakah akan menciptakan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat ataukah tidak?

Sayangnya, rezim kapitalis-sekuler yang sektoral tidak mau berusaha keras untuk mengurusi urusan masyarakat dengan baik dan benar.

Pandemi akan bersinambung tanpa henti karena terpengaruh oleh sistem yang karut-marut. Berbeda sekali dengan sistem Islam yang tidak menghiraukan saban daerah menanggung kesulitan selama belajar daring.

Dalam Islam, sebelum sekolah tatap muka dibuka, pandemi harus diselesaikan terlebih dahulu dengan cara memisahkan yang sehat dan yang sakit.

Untuk masyarakat yang di lingkungannya terbebas dari virus, boleh menerapkan KBM secara face to face. Sedangkan untuk masyarakat yang terinfeksi virus, hendaknya diisolasi hingga sembuh.

Pendidikan adalah soko guru pembangunan dan keberhasilan umat. Apabila pembelajaran daring belum efektif, maka Islam adalah solusi dari segala solusi.

Pendidikan di masa pandemi sangat membutuhkan keseriusan dari negara. Karena negara adalah raa'in (pengurus rakyat), maka setiap warga negara berhak mendapatkan jaminan kesehatan dan pendidikan yang mumpuni.

Negara kapitalis mustahil menjalankan kebijakan yang menentramkan, yang ada hanya akan memberikan kesan ‘sistem rendahan’ kepada masyarakat.

Oleh karena itu, hanya Khilafah yang mampu mengubur sistem rendahan ini dan menggantikannya dengan sistem yang datang dari Sang Maha Pengatur, Allah SWT.

Post a Comment for "Mau Perubahan, Kubur Sistem Rendahan"