Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mau dibawa kemana kegelisahan umat

terlihat jelas atmosfer eforia yang memenuhi segenap bangsa saat penyambutan kepulangan HRS yang bukan saja dipenuhi oleh mereka anggota front pembela islam, melainkan juga para simpatisan, oposisi independen, juga rakyat biasa yang tidak sama sekali berkepentingan politis.

Penulis : Dian fitriani (penggiat opini media literasi)

Banyak rasa yang akan tumbuh dari kekecewaan, terlepas apakah itu hasil dari pelarian atau murni tumbuh secara natural, namun yang perlu kita garis bawahi, kekecewaan itulah yang menjadi faktor utama beralihnya kepercayaan seseorang, sebab tak bisa kita pungkiri, ketika merasa dikhianati, dikecewakan dan dibohongi maka tentu dengan sendirinya kita akan mencari pengganti yang dirasa cukup mampu mengisi kekosongan.

Dan inilah yang tengah terjadi di bumi pertiwi tercinta ini, terlihat jelas atmosfer eforia yang memenuhi segenap bangsa saat penyambutan kepulangan HRS yang bukan saja dipenuhi oleh mereka anggota front pembela islam, melainkan juga para simpatisan, oposisi independen, juga rakyat biasa yang tidak sama sekali berkepentingan politis.

Kerumunan manusia yang hendak menyambut kepulangan habib diketahui telah memadati Bandara Soekarno Hatta sebelum HRS tiba. Mereka bahkan sudah berada di lokasi sejak pagi. HRS mendarat tepat waktu di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Selasa pagi, 10 November lalu.

Dilansir dari laporan tribunstyle.com, HRS mendarat di terminal kedatangan internasional sekitar pukul 09.00 WIB dan diperiksa kelengkapan dokumen kesehatannya sekira pukul 09.15 WIB. Habib datang bersama keluarganya dan keluar dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 09.30 WIB. Kedatangannya di Tanah Air pun langsung disambut histeris oleh ribuan simpatisannya yang sudah menunggu sejak pagi hari di Bandara Soekarno-Hatta. Adegan saling tarik menarik baju gamis serba putih yang dipakai habib pun tak terhindarkan lagi. Kawalan ketat dan aksi dorong-mendorong pun selalu terjadi selama habib menuju ke mobil jemputannya untuk kembali ke rumahnya di bilangan Petamburan, Jakarta Barat.Usai Rizieq angkat kaki dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, ribuan simpatisan pun langsung membubarkan diri dan seketika bandara langsung sepi pada selasa, 10 November silam, tepatnya pada pukul 10.00 WIB.

Atmosfer kegembiraan umat tampak jelas terlihat dari reaksi yang begitu antusias dalam penyambutan habib Rizieq, entah apakah hanya kerinduan semata karena bertahun lamanya umat tak jumpa, ataukah memang antusias ini mengisyaratkan berbagai kegelisahan yang sedikit demi sedikit menguap, seolah meneriakkan harapan besar akan kedatangan beliau yang disemogakan dapat membawa perubahan, setelah sekian lama umat terombang-ambing oleh kehausan oligarki dalam berpolitik, setelah bertahun lamanya penantian tokoh revolusioner yang diharap dapat menyatukan suara umat, apakah ini semua hasil dari makar rezim yang perlahan menumpuk kekecewaan umat hingga begitu dalam sehingga momen kepulangan HRStak boleh dilewatkan untuk dijadikan monumen ekspresi umat akan kekecewaan terhadap rezim.

Setelah beragam fitnah yang dilancarkan oleh berbagai pihak demi menahan kepulangan habib rizieq, dari kasus chat pornografi hingga dugaan penghinaan Pancasila, bahkan diketahui bahwa HRS mengaku telah dicekal oleh pemerintah arab saudi atas perintah pemerintah Indonesia, dikutip dari replubika.com “sejak satu tahun yang lalu, saya tidak diperkenankan untuk keluar dari arab saudi.”. meski pemerintah membantah akan pernyataan habib, namun kembali lagi bahwa masyarakat dapat menilai siapakah yang selama ini bersifat paling agresif dan represif, tersirat ketakutan akan terancamnya kekuasaannya diambil alih oleh satu orang yang dihormati oleh sejuta umat.

Maka tentu mengetahui berbagai tindakan represif rezim yang terlihat dari gelagat menahan-nahan kepulangan habib ini tak pelak lagi disebabkan karena kekhawatiran akan beralihnya kepercayaan rakyat, namun kini kita telah menyaksikan bahwa hal itu benar-benar terjadi, tepat 10 November silam yang bertepatan dengan hari pahlawan, namun umat tak lagi peduli dengan peringatan hari pahlawan yang hanya menjadi agenda tanpa ruh, sebab umat telah menyaksikan kepulangan sang tokoh yang dianggap akan menjadi pahlawan yang dirasakan secara empiris, diakui atau tidak, rakyat kini sedikit demi sedikit mencari sendiri jawaban akan kegelisahan mereka selama ini sehingga secara mandiri mengusung tokoh revolusioner bangsa terlepas apakah tokoh itu seorang ulama yang sama sekali tidak memiliki andil dalam ketatanegaraan, meski ada di antara rakyat yang menjadikan ini sebagai momen pelarian atas kekecewaannya terhadap rezim, namun kini tak lagi menjadi soal, yang saat ini seharusnya menjadi pertanyaan dan umat harus menjawabnya yakni akan ke mana arah perubahan selanjutnya, setelah kita mengetahui bahwa bangsa ini tak butuh hanya sekedar reformasi tapi revolusi, lantas revolusi seperti apa?

Akan dibawa ke mana kegelisahan umat saat ini?

Apakah umat akan diharapkan satu suara dalam pemilihan umum guna memilih pemimpin yang adil

Namun apakah yang kita butuh kan hanya sekedar tokoh yang adil nan bijaksana?

Ataukah justru yang kita butuhkan adalah sistem yang memungkinkan kesejahteraan umum terlaksana?

Yang bukan hanya sistem yang menjadikan orang adil sebagai pemimpin dan menutup kemungkinan akan terjadinya kezaliman dan kekuasaan oligarki, bahkan sistem pemerintahan yang fitrah, yang di ridhoi oleh sang pencipta alam semesta.

Jika memang yang kita butuhkan adalah revolusi sistem pemerintahan, lantas sistem pemerintahan apakah itu?

Dalam surah Al-baqarah ayat 30, Allah.SWT berfirman :

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٠

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.'" Mereka berkata, "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau!" Tuhan berfirman, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.”

Ada sepenggal ayat dari Firman-Nya (إني جاعل في الأرض خليفة) menurut Ibnu Jarir, dari Al-Hasan Al-Bashri dan Qatadah mengatakan bahwa maksud Allah Ta’ala berfirman kepada para malaikat adalah Dia memberitahukan hal itu kepada mereka. Ibnu Jarir mengatakan artinya adalah Allah Ta’ala akan menjadikan di muka bumi seorang khalifah dari-Ku yang menjadi pengganti-Ku dalam memutuskan perkara secara adil di antara semua makhluk-Ku. Khalifah tersebut adalah Adam dan mereka yang menempati posisinya dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala dan pengambilan keputusan secara adil di tengah-tengah umat manusia.

Maka, apabila kita meyakini bahwa Allah Swt adalah satu-satunya Tuhan yang pantas disembah, tiada keraguan atas wahyunya yang diturunkan melalui rasulnya menjadi nash yakni al-qur’an dan as-sunnah, tentu tidaklah pantas mengingkari perintah Allah yang terkandung dalam surah Al-Baqarah ayat 30. Dari ayat tersebut sudah jelas bahwasanya Allah telah menurunkan solusi atas segala permasalahan di muka bumi yakni dengan adanya seorang khalifah yang mengatur perkara manusia berlandaskan wahyu, maka jika menjawab pertanyaan tentang akan di bawa ke mana arah perubahan yang diharapkan dapat menuntaskan segala permasalahan yang tengah melanda umat? Maka jawabannya kembalikan dunia kepada sistem yang shahih, sistem yang fitrah, yakni berasas qiyadah fikriyah islamiyah, bermabda islam, dan tentu di bawah naungan sistem pemerintahan islam yakni daulah al islamiyah, yang bukan hanya mewujudkan kesejahteraan namun juga akan mewujudkan bukti akan kebenaran fungsi islam yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Wallahu a’lam bisowab.

Post a Comment for "Mau dibawa kemana kegelisahan umat"