Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KENGERIAN DI BALIK KEMEGAHAN KAPITALISME

Jika ditanya negara mana saat ini yang berhasil mencapai kemakmuran? Siapapun akan langsung menjawab negara Amerika dan Eropa. Fakta yang terlihat memang demikian, Kapitalisme dengan landasan kebebasan ekonominya telah mampu menciptakan kemakmuran yang ditandai dengan pesatnya pembangunan, kemajuan teknologi, dan tingginya pendapatan setiap warganya.

Oleh : Layli Ummu Jundi

Jika ditanya negara mana saat ini yang berhasil mencapai kemakmuran? Siapapun akan langsung menjawab negara Amerika dan Eropa. Fakta yang terlihat memang demikian, Kapitalisme dengan landasan kebebasan ekonominya telah mampu menciptakan kemakmuran yang ditandai dengan pesatnya pembangunan, kemajuan teknologi, dan tingginya pendapatan setiap warganya.

Sebagaimana yang diulas oleh dua orang ilmuwan Amerika yaitu Daron Acemoglu dan James Robinson dalam bukunya yang berjudul "Why Nation Fail". Hasil analisa mereka bahwa akar penyebab gagalnya negara mencapai kesejahteraan adalah karna sistem politik dan ekonomi yang ekstraktif, yaitu yang hanya memperkaya segelintir penguasanya. Sementara rakyat, tidak diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam politik sekaligus dalam kegiatan ekonomi. Hasilnya, rakyat tidak ada dorongan untuk memperoleh kekayaan dan mereka cukup pasrah dengan kemiskinan yang melanda mereka. Sebaliknya, negara yang menganut sistem politik inklusif akan memberi kesempatan pada warganya untuk berperan aktif dalam politik dan juga dalam kegiatan ekonomi. Rakyat dengan sistem ini akan terdorong untuk berusaha mencapai kemakmuran.

Acemoglu dan Robinson menguatkan pendapatnya dengan menyajikan contoh dua negara yang sangat dekat namun sangat berbeda dalam hal kemakmuran yaitu Nogales yang terbelah menjadi Nogales Utara (Arizona) dengan kondisi lebih makmur dibandingkan Nogales Selatan (Sonora). Begitupun Korea yang terbagi menjadi Korea Selatan di mana kondisinya lebih sejahtera dibandingkan Korea Utara.

Tapi, benarkah kemakmuran yang dicapai berbanding lurus dengan peradaban yang dihasilkan? Apakah benar dorongan meraih kekayaan akan mewujudkan kesejahteraan hakiki?

Michael J Sandel dalam bukunya "What Money Can't Buy" telah menyajikan berbagai fakta mengerikan hasil peradaban Kapitalisme yang menuhankan materi. Benarlah slogan "Ada uang, maka semua urusan selesai". Karna saat ini fakta yang terjadi segalanya bisa dibeli dengan uang, semua bisa dijual. Bukan hanya benda mati berupa kekayaan, bahkan anggota tubuh pun termasuk dalam komoditas yang bisa dihargai. Inilah yang oleh Om Sandel disebut sebagai The Era of Market Triumphalism. Pasar yang seharusnya hanya menjadi tempat pertukaran barang dan jasa, kini lebih dari itu, pasar telah merasuk dalam jiwa manusia, menjadi sebagai satu-satunya cara hidup manusia. Efeknya, yang ada di dalam otak manusia saat ini adalah bagaimana menghasilkan uang dan uang, tanpa melihat lagi batasan moral, mana yang boleh dijual dan mana yang tidak.

Beberapa fakta yang mengerikan itu diantaranya : biaya up grade penjara, penyewaan rahim, penyewaan bagian kepala atau anggota tubuh lain untuk dipasangi sebuah iklan, dan lain-lain. Bahkan yang paling mengerikan adalah penjualan polis asuransi jiwa seorang karyawan di perusahaan. Jika karyawan tersebut meninggal, maka perusahaan lah yang akan mengklaim asuransi karyawan tersebut. Alasannya adalah karna karyawan merupakan bagian dari aset perusahaan yang selama ini dibiayai dan diberikan pelatihan. Lihatlah , betapa kematian seseorang pun bisa dijadikan lahan untuk meraih keuntungan.

Inilah Kapitalisme, yang berlandaskan sekulerisme. Ketika aturan diserahkan kepada manusia, maka yang dihasilkan adalah berbagai kerusakan. Mulai dari kerusakan alam akibat eksploitasi, sampai kepada kerusakan moral akibat krisisnya rasa peduli dan harga diri. Kemegahan yang tampak menjulang ternyata rapuh di bagian landasan.

Maka, mau sampai kapan kita biarkan Kapitalisme ini berkuasa? Mau berapa banyak lagi kengerian demi kengerian yang akan kita saksikan?

Hanya Islam lah yang mampu menciptakan sebuah peradaban mulia. Islam memandang manusia sebagaimana layaknya manusia yang memiliki kebutuhan baik materi dan non materi. Islam pun memberikan aturan dan terhadap kepemilikan, batasan mana yang boleh dijadikan komoditas dan mana yang tidak, serta menjelaskan aturan mengenai cara memperoleh harta atau kekayaan yang diperbolehkan. Islam juga memiliki aturan terkait distribusi kekayaan (harta) di antara manusia agar tidak menumpuk hanya di kalangan tertentu saja. Semua aturan ini berasal dari Sang Pencipta yang sudah tentu layak diterapkan bagi manusia yang akan melahirkan keberkahan dan kelestarian bahkan bukan bagi manusia saja, tapi juga bagi seluruh alam semesta.

Mari, saatnya tinggalkan peradaban sampah Kapitalisme yang mengerikan, dan beralih kepada aturan Islam.

"Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Ar-Rûm [30]:41)

Depok, 9 November 2020

#InsightOWOB : Why Nation Fail dan What Money Can't Buy

Post a Comment for "KENGERIAN DI BALIK KEMEGAHAN KAPITALISME"