Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

HOW CHALIPHATE RISE AGAIN ? AFTER DEMOCRACIES DIE ?

Oleh : Ahmad Khozinudin | Sastrawan Politik

Ternyata ribut-ribut soal buku berjudul "How Democracies Die", yang ditulis oleh Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, belum juga berakhir. Penulis kira, hanya Prof Suteki yang membuat artikel ciamik tentang ulasan buku tersebut.

Dari Kota Pelajar, dari Kota yang penulis kelak akan kembali ke sana, menikmati perjalanan santai di Malioboro dan menikmati Angkringan Sego Kucing juga Sego Gudeg. Ya, Ust Yuda Pedyanto, seorang penulis yang juga penulis kenal, ternyata juga membuat ulasan atas buku yang ditulis oleh dua orang ilmuwan politik dari Harvard University itu.

Menariknya, ada cerita 'Donatur Buku Online' dalam ulasannya, sehingga ada beberapa orang komunitas pencinta buku bisa mengakses versi pdf buku berjudul "How Democracies Die". Buku yang mendadak kondang, pasca beredarnya foto Gubernur DKI Jakarta bersama buku tersebut.

Buku ini jelas buku berkelas, bukan komik si Juki yang konon Tuan Presiden untuk membacanya hingga harus mengerenyutkan dahi. Buku yang membongkar aib demokrasi secara lugas, dan up date sesuai konstelasi politik kekinian

Penulis tak ingin mengulangi resensi buku tersebut. Hanya saja penulis tertarik dengan akhir dari artikel Ust Yuda Pedyanto.

"Akhirnya saya jadi bertanya-tanya; jika seruan dakwah penegakkan Islam kaffah dalam bingkai Khilafah saat ini terus mendapat dukungan umat; mungkinkah hal ini menjadi jalan keluar atas ancaman demokrasi yang destruktif tadi? Dan mungkinkah dalam waktu yang tidak terlalu lama, narasi-narasi “How Democracies Die” akan segera digantikan dengan narasi-narasi “How Khilafah Rise”?

Nah, disitulah poin yang menarik untuk diulas. Akan ada semacam hipotesa dari pernyataan tersebut :

Pertama, apakah kebangkitan Khilafah akan sejalan dengan Kebangkitan Demokrasi ?

Kedua, apakah kebangkitan Khilafah justru akhir dan kematian bagi Demokrasi ?

Ketiga, mungkinkah ada kompromi antara Demokrasi berkedaulatan rakyat dengan Khilafah yang mengadopsi hukum Islam, kedaulatan Allah SWT ?

Penulis sebelumnya telah menulis artikel dengan judul "Demokrasi Pasti Mati" sebagai respons atas viralnya buku Steven Levitsky and Daniel Ziblatt. Pada pokoknya, penulis memberikan kesimpulan sebagai berikut :

Pertama, bahwa demokrasi meletakkan kedaulatan di tangan rakyat, pada tataran norma idealitanya.

Kedua, pada tataran realitanya, kedaulatan demokrasi ada pada kapital, ada pada kelompok oligarki, bukan ditangan rakyat.

Ketiga, Islam melalui sistem Khilafah (barat : Chaliphate) telah meletakkan kedaulatan ditangan Syara' yang bersumber dari kedaulatan Allah SWT.

Keempat, baik demokrasi ideal yang meletakkan kedaulatan ditangan rakyat maupun demokrasi dalam praktikal yang meletakkan kedaulatan ditangan kapital, keduanya haram dalam timbangan Syara'.

Dalam Islam hanya Allah SWT yang berhak memerintah dan melarang manusia, memberi sanksi atas pelanggaran perintah dan larangan Allah SWT. Dan Khilafah, adalah negara yang menegakkan kedaulatan Syara', kedaulatan hukum Allah SWT.

Jadi, Khilafah tak akan tegak bersamaan dengan membaiknya demokrasi, tak bisa pula berkompromi dengan demokrasi. Khilafah tegak dan berdiri berdasarkan logika kedaulatan Syara' dan atas dukungan umat dan Ahlun Nusroh.

Jadi, Khilafah tak bisa dan tak akan dapat diwujudkan melalui Demokrasi. Baik demokrasi ideal maupun demokrasi praktikal.

Khilafah akan kembali tegak mengikuti metode perjuangan Rasulullah Saw ketika berdakwah di Mekkah hingga mendapatkan kekuasaan di Madinah. Jadi, ketika Khilafah tegak di suatu wilayah negeri kaum muslimin, itu menjadi tanda matanya demokrasi di wilayah tersebut.

Selanjutnya, Kekhilafahan Islam akan menyatukan kembali negeri kaum muslimin dan membunuh ide kedaulatan rakyat, dan digantikan dengan praktik kedaulatan syariat Islam yang ditegakkan oleh institusi Khilafah. Jadi, tak usah menangisi kondisi demokrasi yang hampir mati, akan tetapi berbahagialah akan kabar kembalinya Daulah Khilafah. [].

Post a Comment for "HOW CHALIPHATE RISE AGAIN ? AFTER DEMOCRACIES DIE ?"