Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Benarkah Kemenangan Biden, Harapan Baru umat Islam?

Biden mengatakan kepada jutaan muslim bahwa dia berharap sekolah-sekolah di AS mengajarkan lebih banyak tentang Islam. "Sebuah hadis dari Nabi Muhammad mengatakan, 'Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika dia masih tidak mampu maka dengan hatinya,'" ujar Biden yang mengutip salah satu hadis riwayat Muslim itu

Oleh Hanin Syahidah

Joe Biden memenangkan Pemilihan Presiden Amerika Serikat mengalahkan petahana Donald Trump, Sabtu (7/11/2020) dan dia menjadi Presiden ke-46 AS. CNN juga mengabarkan dia menang setelah mendapatkan 20 suara tambahan dari Pennsylvania. Saat naskah ini ditulis electoral college votes-nya tembus 284, sementara Trump 214. (Tirto.id, 8/11/2020)

Dalam pidato pertamanya dia menyampaikan, "Saya berjanji untuk menjadi presiden yang berupaya untuk tidak memecah belah, tetapi mempersatukan, yang tidak melihat negara bagian merah dan negara bagian biru, tetapi hanya melihat Amerika Serikat, Ini adalah waktu untuk menyembuhkan Amerika, " tambah Biden.(CNN Indonesia.com, 8/11/2020)

Memang banyak pihak termasuk rakyat Amerika sendiri berharap ada perubahan yang positif atas kemenangan Biden. Bahkan tak ketinggalan euforia itu dirasakan oleh muslim Amerika hingga dunia, karena sebelumnya pada masa Trump permusuhan terhadap umat Islam sangat menguat. Sehingga Biden benar-benar memanfaatkan kondisi itu dengan janji kampanyenya di depan umat Islam.

Lebih dari itu dia juga mengutip salah satu hadis Rasul dalam kampanyenya. Sebagaimana dikutip berbagai media, Biden telah memuji Islam sebagai salah satu agama yang agung. Biden mengatakan kepada jutaan muslim bahwa dia berharap sekolah-sekolah di AS mengajarkan lebih banyak tentang Islam. "Sebuah hadis dari Nabi Muhammad mengatakan, 'Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika dia masih tidak mampu maka dengan hatinya,'" ujar Biden yang mengutip salah satu hadis riwayat Muslim itu.(Kompas.com, 25/7/2020)

Pengamat luar negeri dari LIPI, Siswanto menilai narasi Islam yang dibawakan Biden cukup otoritatif terhadap umat Islam yang kerap dirugikan selama kepemimpinan Trump. "Trump sangat diskriminatif kepada Muslim dan ugal-ugalan, maka akan sangat tidak masuk akal jika Muslim di AS memilihnya kembali menjadi presiden," kata dia. (Republika.id, 13/11/2020)

Ini pulalah yg menjadi munculnya harapan baru bagi umat Islam Amerika, bahkan dunia terkait perlakuan Amerika ke depan kepada umat Islam. Atau negara-negara berkembang yang di bawah pengaruhnya, baik dalam ataupun luar negeri, termasuk Indonesia.

Praktisi dan Pengajar Hubungan Internasional Dinna Prapto Raharja menilai kemenangan Joe Biden di Pilpres Amerika Serikat (AS) bisa membawa dampak positif bagi kerja sama ekonomi antara AS-Indonesia dengan syarat Indonesia segera melakukan pergerakan sebelum pelantikan tanggal 20 Januari mendatang. Karena Biden cenderung akan melakukan pendekatan multilateral pada negara-negara sekutunya, sementara Indonesia tidak masuk dalam sekutu strategisnya, sehingga akan terjepit dalam ketidak jelasan negosiasi.(kompas.com, 8/11/2020)

Sekjen Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) Zaenal Muttaqin juga menyambut baik terpilihnya Joe Biden karena diharapkan dapat mengembalikan perjuangan dalam menegakkan HAM di dunia, termasuk di Indonesia. (BBC.com, 10/11/2020)

Namun berbeda dengan Ekonom Senior, Faisal Basri. Ia menilai kemenangan Biden tak akan lebih menguntungkan Indonesia. Biden memiliki kebijakan fiskal yang berlawanan dengan Trump. Partai Demokrat lebih hati-hati dalam menahan defisit fiskal.

Faisal menyebut Partai Demokrat yang mengusung Biden, lebih 'ribet' dalam persyaratan bisnis bilateral. Menurut dia itu karena dalam menjalin hubungan bilateral, Demokrat kerap memasukkan isu kemanusiaan (human rights) dan energi terbarukan. Ini jauh berbeda dengan Trump yang cenderung menekankan keuntungan bisnis semata. (CNN Indonesia, 8/11/2020)

Sementara itu, respon dari Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Abdul Mu’ti menilai, Joe Biden yang diumumkan sebagai pemenang dalam pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) 2020 akan lebih akomodatif terhadap multikulturalisme dan umat Islam. Namun, lanjut dia kebijakan global Biden akan relatif sama dengan pendahulunya, Trump. (Republika.co.id, 8/11/2020)

Jadi, meskipun ada optimisme atas kemenangan Biden tetap tidak bisa dimungkiri realitas berbicara lain. Karena sejatinya Amerika sebagai negara adikuasa yang berbasis ideologi Kapitalis - sekuler tidak ditentukan hanya siapa presidennya, tetapi sistem yang dijalankan baik di dalam dan luar negeri. Ideologi Kapitalisme lebih mengutamakan aspek materi dalam kebijakan bernegara, demokrasi. Kebebasan menjadi sistem politiknya, maka wajar saja janji-janji kampanye demi memperoleh suara adalah satu hal yang sangat wajar. Namun, belum tentu terealisisasi.

Pada faktanya imperialisme (penjajahan) ke negara-negara lain tetap jadi metode politik luar negeri AS, dengan dalih kerja sama bilateral, multilateral di segala bidang, mereka mengeruk kekayaan, menekan dan menginterversi negara-negara yang bekerjasama dengan AS.  Jadi sama saja, apakah Donald Trump ataukah Joe Biden yang jadi Presiden, itu tidak mengubah kebijakan luar negerinya secara signifikan. Yang berbeda hanya cara pendekatannya saja, dengan soft power atau hard power. Misalnya gaya ugal-ugalan yang Trump lakukan selama ini sudah sangat membuat tertekannya komunitas muslim d AS, termasuk kebijakan terhadap Palestina.

Biden mengambil isu tersebut sebagai peluang kampanye untuk mengambil hati pemilih muslim dengan mengaduk-aduk emosi umat Islam. Sehingga mereka sebenarnya hanya memilih pilihan dari yang terburuk. Karena hegemoni tetap terjadi kepada umat Islam atau negara-negara berkembang. Siapa pun presiden yang terpilih pada dasarnya tidak mengubah apa pun yang menjadi prinsip sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan). Mulai dari Demokrasi sebagai sistem politiknya dan Kapitalisme sebagai ekonomi yang akan menghasilkan kehidupan yang permisif dan hedonis (bebas, serba boleh).

Langkah Biden hanyalah cara memainkan permasalahan rakyat untuk mempengaruhi pemilihnya. Dengan tujuan mendapatkan keuntungan yang besar. Inilah penyakit sistem Kapitalisme yang melanda dunia. Apakah akan selamanya umat ini tertipu dengan gaya Kapitalisme dengan berbagai wajah? masihkah umat Islam ini berharap pada Kapitalisme yang selalu merusak dan merugikan hidup umat? Tidak adakah sistem hidup alternatif yang lain menyejahterakan?

Jika kita telisik Islam sebagai agama yang Allah turunkan sejatinya sangat lengkap dan paripurna sebagai way of life. Cukuplah firman Allah mengingatkan kita

".........Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman" (TQS AnNisa' 141).

Sejatinya sistem yang akan membebaskan umat Islam dari hegemoni sistem Kapitalisme hanyalah sistem Islam yang dibangun dari akidah Islam. sebagaimana Allah berfirman:

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik". (TQS. An-nur: 55) []

Wallahu a'lam bi ash-shawab

Post a Comment for "Benarkah Kemenangan Biden, Harapan Baru umat Islam?"