Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ada Misi Apa di Balik Kunjungan Menlu AS?

Di tengah pandemi Covid-19 Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo ke Indonesia mengadakan Kunjungan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi pada Kamis (29/10). Indonesia menjadi salah satu dari empat negara tujuan Pompeo dalam perjalanan pada 25-30 Oktober dan satu-satunya negara yang ia kunjungi di Asia Tenggara selain India, Sri Lanka, dan Maladewa. Kunjungan Mike Pompeo nampaknya tak terlalu mendapat sorotan dari masyarakat luas. Padahal sejatinya, kunjungan seorang tokoh yang merepresentasi negara adidaya selevel AS, tentu bukanlah sekedar kunjungan biasa.
Oleh: Luthfiah Jufri, S. Si., M. Pd. (Pemerhati Sosial Asal Konawe, Sultra)

Di tengah pandemi Covid-19 Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo ke Indonesia mengadakan Kunjungan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi pada Kamis (29/10). Indonesia menjadi salah satu dari empat negara tujuan Pompeo dalam perjalanan pada 25-30 Oktober dan satu-satunya negara yang ia kunjungi di Asia Tenggara selain India, Sri Lanka, dan Maladewa. Kunjungan Mike Pompeo nampaknya tak terlalu mendapat sorotan dari masyarakat luas. Padahal sejatinya, kunjungan seorang tokoh yang merepresentasi negara adidaya selevel AS, tentu bukanlah sekedar kunjungan biasa.

Dalam laman News Internasional Republika.co.id Kamis, 29 Oktober 2020 dengan judul Kedatangan Pompeo ke Indonesia Hasilkan Sejumlah Kesepakatan. Adapun hasil hubungan sahabat kedua Negara ini, yakni: Pertama, di bidang kesehatan, kerja sama RI dengan AS berupa penyediaan 1.000 ventilator. Kedua, di bidang ekonomi, memperkuat rantai pasokan global serta mempercepat pemulihan ekonomi serta mendorong agar bisnis AS berinvestasi lebih banyak di Indonesia termasuk untuk proyek-proyek di pulau-pulau terluar Indonesia seperti di Pulau Natuna.

Ketiga, Kerja sama memperkuat kemampuan pertahanan dan pengadaan militer untuk mencapai Minimum Essential Force, pelatihan dan latihan, sharing intelijen, dan kerja sama keamanan maritim di kawasan. Keempat, dibidang Pendidikan Retno akan mendorong finalisasi nota kesepahaman dan akan mengeluarkan visa untuk pelajar Indonesia yang telah ditahan karena pandemi Covid-19.

Selain memperkuat ke empat bidang di atas, ada poin penting yang menjadi sorotan terkait lawatan AS ke Indonesia yaitu menyoal situasi Laut China Selatan. Sebut saja pengamat International Sukawarsini Djelantik, peneliti di Parahyangan Centre for International Studies (PACIS), berpendapat AS melihat Indonesia sebagai satu kekuatan besar di ASEAN yang sangat penting untuk didekati, khususnya dalam menyikapi konflik di Laut China Selatan. Sukawarsini pun mengatakan bahwa pasti nanti akan mencari dukungan, karena posisi Indonesia yang diperhitungkan sebagai kekuatan menengah (Bbc.com, 23/10/2020).

Pernyataan Sukawarsini semakin diperkuat dengan pernyataan Retno, seperti dilansir dari laman internasional, cnnindonesia.com kamis 29 Oktober 2020 bahwa Mike Pompeo membahas mengenai perlindungan Laut China Selatan (LCS) bersama Retno Marsudi.

Apa Misi Kunjungan AS ke Indo-Pasifik?

Informasi tentang rencana kunjungan Menlu Pompeo yang dipampang di situs daring Kementerian Luar Negeri AS berkali-kali menyebut istilah 'Indo-Pasifik'. Misalnya, dalam penjelasan tentang kunjungannya ke Indonesia, disebutkan "Menteri akan pergi ke Jakarta untuk menyampaikan pernyataan publik dan bertemu dengan sejawatnya di Indonesia untuk meneguhkan visi kedua negara akan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka."

Istilah 'Indo-Pasifik' menggambarkan visi geopolitik baru Presiden AS Donald Trump untuk Asia, yang menekankan kebangkitan India di hadapan meningkatnya pengaruh China. Amerika berusaha mendapatkan dukungan dari negara-negara di kawasan tersebut yang mencakup Asia Tenggara, Asia Timur, dan India untuk memperkuat posisinya,

Menurut pandangan Sukawarsini Djelantik, Amerika memang mencoba untuk mencari pengaruh khususnya dalam konflik di Laut China Selatan. Ini penting sekali untuk stabilitas kawasan, AS melihat China bertindak semakin agresif di Laut China Selatan antara lain dengan membangun pulau-pulau buatan dan pangkalan militer dan menganggapnya sebagai ancaman (bbc.com)

AS mengenalkan konsep Indo-Pasifik (menggantikan Asia Pasifik), sebagai konsep tandingan atas gebrakan Cina yang mengusung konsep Inisiatif Satu Sabuk Satu Jalan, One Belt One Road (OBOR). Indo-Pasifik meliputi kepentingan AS untuk menggarap wilayah pesisir Barat, Asia Tenggara dan India. Sementara konsep OBOR Cina merupakan koridor ekonomi dua pertiga dari penduduk dunia dan melibatkan 70 negara.

Proyek Raksasa Cina cukup menjadikan Amerika ketar-ketir itu. China dengan segala kelebihannya, pelan tapi pasti memang telah berhasil menjadi raksasa kekuatan ekonomi yang mengancam posisi hegemoni ekonomi AS di kawasan ini.

China dalam hal ini juga nampak telah berhasil dengan segala cara, memalingkan kesetiaan negara-negara di kawasan dengan berbagai kadarnya. Hingga AS tak bisa lagi bermain sebagai penguasa tunggal yang bisa mendiktekan kehendaknya kepada negara-negara pengekor, termasuk Indonesia. Kondisi ini, tentu menjadi lonceng pertanda awal kematian hegemoni kapitalisme Barat, sekaligus pertanda awal kehidupan bagi hegemoni kapitalisme Timur.

Terlebih di Indonesia, persaingan pengaruh itu sudah nampak jelas dan di rezim saat ini, pengaruh ekspansi ekonomi China secara kasat mata lebih dominan dan masif dibanding dengan pengaruh ekonomi AS. Kecuali pada proyek-proyek tertentu seperti penguasaan sumberdaya alam berupa emas melalui Freeport dan migas oleh Chevron yang memang sudah jauh lebih dulu dikuasai AS melalui ‘kedekatannya’ dengan rezim-rezim sebelumnya. Betapa banyak proyek-proyek investasi semacam pembangunan infrastruktur yang dipandang sangat strategis dan menguntungkan secara ekonomi dan politik di masa depan justru dimainkan oleh China. Ancaman inilah yang memotivasi AS untuk mengevaluasi dan mereposisi hubungannya dengan Indonesia.

Posisi Negeri Muslim Saat Ini

Negeri-negeri Muslim saat ini berada dalam kondisi jauh dari kemandirian politik, keamanan, militer dan ekonomi. Kebijakan di berbagai aspek kehidupan dikontrol Asing dan Aseng. Bisa dibayangkan, ketika negara potensial semacam Indonesia berhasil dikunci dengan perjanjian-perjanjian yang menjerat dan sangat merugikan, baik China atau AS keduanya pasti memiliki kepentingan global terhadap Indonesia. Ibaratnya Indonesia adalah makanan lezat yang siap disantap, sumber daya alam yang melimpah seperti laut, hutan, minyak bumi, gas alam, dan batu bara merupakan harta karun yang menggiurkan bagi ke dua Negara tersebut.

Mereka akan berusaha menancapkan taringnya di Indonesia dengan mempertajam jaminan hegemoni mereka. Indonesia sebagai negeri muslim terbesar di Dunia seyogianya menjadikan Islam bukan hanya sebagai agama tetapi juga sebagai Ideologinya. Memiliki negara yang khas, negara berdasar syariat yang bersumber dari Allah Swt, menentang segala bentuk penjajahan-hegemoni dan dominasi Asing dan Aseng. Allah SWT telah menegaskan keharaman melapangkan jalan bagi kafir penjajah untuk menguasai dunia Islam, termasuk Indonesia.

Allah melarang menjadikan orang kafir sebagai penolong setia atau pelindung, menyerahkan urusan yang berkaitan dengan kaum muslim kepada mereka, dan menjadikan mereka sebagai orang kepercayaan. Sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Ali ‘Imran ayat 28 yang artinya, “Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai penolong setia atau pelindung dengan meninggalkan orang-orang beriman yang lain. Barangsiapa yang melakukannya, maka dia telah lepas dari Allah. Kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)”. Wallahu a’lam bi ash- showab.

Post a Comment for "Ada Misi Apa di Balik Kunjungan Menlu AS?"