Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

YANG ISLAMI JUGA PERLU NEGARA

"Mari membangun Indonesia, sebagai negara Islami, bukan negara Islam. Agar semua umat Islam bisa di Indonesia bisa berkontribusi, masuk dari berbagai pintu, jangan ekslusif." tulis Mahfud MD dalam sambutan pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemuda Muhammadiyah secara virtual pada Minggu (27/09/2020) (kompas.com, 28/09/2020). Menurut Mahfud, Indonesia adalah negara inklusif. Semua perbedaan primordial digabung menjadi satu. Karena itu Mahfud meminta Pemuda Muhammadiyah berdakwah di jalan tengah, tidak menjadi Islam ekstrem. Mencermati pidato Mahfud MD tersebut, ada beberapa hal yang perlu dikritisi.
Oleh: Yasmin Ramadhan (Komunitas Muslimah untuk Peradaban)

"Mari membangun Indonesia, sebagai negara Islami, bukan negara Islam. Agar semua umat Islam bisa di Indonesia bisa berkontribusi, masuk dari berbagai pintu, jangan ekslusif." tulis Mahfud MD dalam sambutan pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemuda Muhammadiyah secara virtual pada Minggu (27/09/2020) (kompas.com, 28/09/2020).

Menurut Mahfud, Indonesia adalah negara inklusif. Semua perbedaan primordial digabung menjadi satu. Karena itu Mahfud meminta Pemuda Muhammadiyah berdakwah di jalan tengah, tidak menjadi Islam ekstrem.

Mencermati pidato Mahfud MD tersebut, ada beberapa hal yang perlu dikritisi.

Pertama, tak ada negara Islami. Jika yang dimaksud membumikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara, itu pun perlu peran negara.

Misal, adanya peraturan pemerintah memakai kerudung bagi perempuan yang berada di instansi publik, kantor, sekolah, perguruan tinggi. Dengan adanya perda ini, perempuan menutup auratnya dengan kerudung ketika bekerja, ke sekolah, maupun ke kampus.

Atau perlunya aturan larangan miras untuk mencegah orang mengkonsumsi minuman keras (miras). Efek merusak akal dari miras akan mengganggu stabilitas masyarakat.

Bagaimana dengan generasi yang mengalami degradasi moral? Seks bebas, amoral, hedonis, tawuran, narkoba, membayangi potret generasi penerus bangsa. Perlu ketegasan dari negara untuk memutus mata rantai peredaran narkoba. Perlu upaya serius dari negara untuk menutup akses seks bebas dan budaya hedonis.

Mengimplementasikan akhlak dan ibadah sehingga terkesan negara Islami, ternyata memerlukan peran negara. Misal untuk wudhu perlu air suci dan bersih. Jika negara tak hadir mengalirkan air bersih ke rumah-rumah, tentu akan sulit bagi warga negara yang hendak melaksanakan shalat.

Akhlak jujur yang hendak diintegrasikan pada generasi, memerlukan figur pemimpin yang juga jujur dan bersih, tidak korupsi. Begitu juga dengan akhlak amanah dan menepati janji, jelas memerlukan keteladanan pemimpin. Sehingga tak terjadi ambigu dari nilai-nilai moral tersebut.

Kedua, tak ada Islam ekstrem. Islam yang dibawa Rasulullah Saw hanya satu, yaitu Islam rahmatan lil 'aalamiin. Islam yang menjadikan Al-Qur'an dan As-sunah sebagai standar kehidupan pribadi, masyarakat hingga bernegara.

Mirisnya, saat ini Islam justru dipangkas hanya pada kehidupan pribadi. Kemudian melabeli radikal bagi yang ingin menerapkan Islam dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Padahal syariat Allah untuk urusan individu hanya sekitar 20%, sisanya memerlukan peran negara dalam pelaksanaannya. Misal, keharaman riba, khamr, zina, serta perintah jihad.

Sebutan Islam ekstrem sejatinya dari Barat, musuh Islam. Cara Barat mencegah kebangkitan Islam. Karena ketika Islam diterapkan secara kaffah maka seketika itulah akan berdiri sebuah sistem yang menandingi hegemoni Barat saat ini. Bahkan berpotensi meruntuhkan sistem kapitalisme yang tak manusiawi. Jelas hal ini akan meresahkan Barat yang masih ingin terus merampok kekayaan negeri-negeri muslim.

Dengan melihat dua poin di atas, tidakkah lebih baik menjadikannya negara Islam. Karena "nanggung", mau jadi islami juga perlu negara. Konsekuensi syahadat juga mewajibkan kita taat pada syariat Allah secara kaffah. Dan hanya negara Islam yang menerapkan syariat Islam secara kaffah.

Jika alasannya karena keragaman, maka sesungguhnya negara Islam yang didirikan oleh Rasulullah di Madinah juga memiliki keberagaman agama juga Bani. Namun bisa dirangkul dan diterapkan syariat Allah dalam kehidupan masyarakat dan negara.

Sudah semestinya akal manusia yang terbatas ini tunduk pada petunjuk Allah. Secara nash Syara' telah banyak perintah Allah untuk berhukum hanya pada hukum yang dibawa Rasulullah. Secara historis telah terbukti bahwa negara Islam mampu menaungi manusia dengan berbagai macam keragamanya selama 14 abad. Membentang dari jazairah Arab hingga Eropa. Bahkan Nusantara pun pernah mengecap manisnya interaksi dengan negara Islam, Daulah Khilafah Islamiyyah. Wallahu a'lam []

Post a Comment for "YANG ISLAMI JUGA PERLU NEGARA"