Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Muhammad Al-Fatih Simbol Kemenangan Islam

Buku Muhammad Al-Fatih 1453 adalah satu dari sekian banyak buku yang mengisahkan kehebatan Muhammad Al-Fatih. Banyak penulis telah mengisahkan kehidupan dan perjuangannya dalam berbagai versi. Sebut saja buku Muhammad Al-Fatih: Sang Penakluk yang Diramalkan karya Dr. Ali Muhammad Ash-Shallibi, The Great of Shalahuddin Al-Ayyubi & Muhammad Al-Fatih karya Rizem Aizid, Muhammad Al-Fatih: Sang Penakluk Konstantinopel karya John Freely, dan masih banyak buku Muhammad Al-Fatih lainnya. Buku-buku tersebut telah lama beredar di tengah masyarakat tanpa ada yang mempermasalahkan.
Oleh:Wity (Aktivis Muslimah Purwakarta)

Di tengah rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, segala upaya untuk menumbuhkan semangat literasi tentu patut diapresiasi. Termasuk apa yang dilakukan oleh Kepala Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Muhammad Soleh. Beliau menginstruksikan agar seluruh siswa SMA/SMK se-provinsi Bangka Belitung membaca buku "Muhammad Al-Fatih 1453" karya Felix Y Siauw, sebagaimana tertuang dalam Surat bernomor 420/11.09.F DISDIK tertanggal 30 September 2020 (viva.co.id, 2/10/2020).

Sayang, niat baik tersebut tampaknya membuat sekelompok orang kebakaran jenggot dan memaksa kepala dinas membatalkan instruksinya. Bahkan, sang Kepala Dinas pun mendapat semprotan dari Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Basarah. Politikus PDIP tersebut mempermasalahkan buku Muhammad Al-Fatih 1453 karena penulisnya adalah tokoh Hizbut Tahrir. Basarah pun mengatakan masih banyak buku yang mengisahkan tokoh-tokoh pahlawan nasional yang lebih layak dibaca ketimbang kisah “tokoh asing”.

“Saya tidak habis pikir, jika alasan mewajibkan buku tokoh bangsa asing ini adalah agar para siswa meneladani kepahlawanan dan kepemimpinan tokoh-tokoh di masa lalu, padahal masih banyak keteladanan dan ketokohan pahlawan nasional yang layak di baca,” kata Basarah (cnn.com, 3/10/2020).

Sentimen Terhadap Pejuang Islam Kaffah

Buku Muhammad Al-Fatih 1453 adalah satu dari sekian banyak buku yang mengisahkan kehebatan Muhammad Al-Fatih. Banyak penulis telah mengisahkan kehidupan dan perjuangannya dalam berbagai versi. Sebut saja buku Muhammad Al-Fatih: Sang Penakluk yang Diramalkan karya Dr. Ali Muhammad Ash-Shallibi, The Great of Shalahuddin Al-Ayyubi & Muhammad Al-Fatih karya Rizem Aizid, Muhammad Al-Fatih: Sang Penakluk Konstantinopel karya John Freely, dan masih banyak buku Muhammad Al-Fatih lainnya. Buku-buku tersebut telah lama beredar di tengah masyarakat tanpa ada yang mempermasalahkan.

Tampak jelas bahwa penolakan atas buku Muhammad Al-Fatih 1453 adalah karena penulisnya yang notabene tokoh Hizbut Tahrir. Sedangkan Hizbut Tahrir merupakan partai politik yang konsisten menyuarakan Khilafah. Siapapun dapat menyimpulkan bahwa penolakan atas buku Muhammad Al-Fatih 1453 adalah bentuk sentimen terhadap kelompok pejuang Islam Kaffah. Sungguh! Ini menunjukan kedangkalan berpikir. Bukankah lebih bijak bila kita tidak mempersoalkan siapa penulisnya, melainkan apa yang ditulisnya?

Muhammad Al-Fatih Bukan Sekadar Tokoh Islam

Muhammad Al-Fatih 1453 adalah buku sejarah yang dikemas dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Wajar bila Kepala Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Muhammad Soleh, menginstruksikan agar seluruh siswa SMA/SMK se-provinsi Bangka Belitung membacanya.

Di samping itu, kisah Muhammad Al-Fatih sangat layak dijadikan inspirasi. Di usianya yang masih muda ia telah menjadi khalifah pada masa Khilafah Utsmaniyah. Ketakwaan dan kejeniusannya merancang strategi perang telah menghantarkannya menjadi panglima terbaik, penakluk Konstantinopel. Semasa hidupnya, ia tidak pernah meninggalkan salat fardu, salat sunah, salat tahajud, dan berpuasa. Sejak ia berusia delapan tahun, ia telah menghafal Alquran dan menguasai tujuh bahasa berbeda, yaitu Arab, Latin , Yunani, Serbia, Turki, Parsi dan Ibrani.

Muhammad Al-Fatih bukanlah sekadar tokoh Islam. Ia adalah simbol bahwa janji Allah itu pasti, bisyarah Rasul-Nya adalah nyata. Ratusan tahun sebelum Konstantinopel ditaklukkan, Rasul saw. pernah bersabda:

“Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR Ahmad)

Ini harusnya menjadi motivasi bagi seluruh umat Islam, bahwa ketika Allah dan Rasul-Nya menjanjikan sesuatu, maka pasti akan terwujud. Pun demikian ketika Rasulullah saw. menyampaikan bisyarah, bahwa kelak akan ada kembali khilafah yang mengikuti manhaj kenabian, sebagaimana terdapat pada penggalan hadits berikut:

“… Lalu akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan. Ia juga ada dan atas izin Allah akan tetap ada. Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR Ahmad, Abu Dawud ath-Thayalisi dan al-Bazzar).

Hal ini juga menjadi peringatan bagi para pembenci khilafah, bahwa sekeras apapun kalian berusaha menghalangi tegaknya khilafah, pada akhirnya hanya akan berujung pada kesia-siaan. Jadi, akankah Anda tetap menolak khilafah?[]

Post a Comment for "Muhammad Al-Fatih Simbol Kemenangan Islam"