Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

MENCINTAI NABI ﷺ SECARA LUAR BIASA BELAJAR DARI KHALIFAH UMAR

Dikisahkan dari Abdullah bin Hisyam, ia berkata “Suatu ketika kami bersama Nabi Muhammad ﷺ . Dia kemudian memegang tangan Umar bin Khaththab. Umar kemudian berkata, “wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari apa pun, kecuali diriku.” Nabi ﷺ bersabda, “tidak! Demi zat yang memiliki jiwa ini, (tidak sempurna Imanmu) hingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri.” Umar berkata, “Sekarang, Demi Allah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari diriku sendiri.” Nabi ﷺ bersabda, “sekarang (engkau memiliki iman yang sempurna), wahai Umar (HR. Bukhari, 6632)
Oleh: Wahyudi al Maroky (Dir. Pamong Institute)

Ketika kita ditanya, apakah sangat mencintai Nabi ﷺ ? Dengan cepat kita bisa jawab, tentu sangat mencintai. Jika ditanya seberapa besar cinta kita? Kita pun bisa menjawab, sangatlah besar. Jauh lebih besar dari Gunung Merapi di Jawa atau Puncak Jaya di Papua atau Gunung Himalaya, dll.

Namun ketika ditanya apakah lebih dicintai dari anak, istri atau ibu anda? Maka jawaban sesungguhnya ada di lubuk hati terdalam dari masing-masing kita.

Oleh karenanya kita perlu belajar mencintai Nabi ﷺ secara benar. Bukan sekedar cinta biasa yang mudah lentur dan luntur oleh godaan harta, tahta dan cinta lainnya. untuk bisa mencintai secara luar biasa maka kita tak cukup menggunakan cara yang biasa-biasa saja. Kita perlu cara yang luar biasa dan juga belajar dari sosok manusia yang juga luar biasa.

Dalam catatan sejarah, banyak sosok yang bisa kita contoh cara mereka mencintai Nabi ﷺ secara luar biasa. Kali ini kita coba belajar bagaimana Sosok Umar Bin Khaththab mencintai Nabi ﷺ. Kecintaan Beliau kepada Nabi ﷺ bukanlah cinta biasa namun cinta yang sangat luar biasa. Bukan seperti cinta kaum milenial kini yang kebanyakan cinta sekuler.

Cinta Umar pada Nabi ﷺ tak sebatas di bibir saja. Tak sekedar diucapkan, namun juga direalisasikan dengan amal dan perbuatan. Umar berupaya sekuat tenaga mencintai segala hal yang dicintai dan yang diinginkan oeh Nabi ﷺ .

Dikisahkan dari Abdullah bin Hisyam, ia berkata “Suatu ketika kami bersama Nabi Muhammad ﷺ . Dia kemudian memegang tangan Umar bin Khaththab. Umar kemudian berkata, “wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari apa pun, kecuali diriku.”

Nabi ﷺ bersabda, “tidak! Demi zat yang memiliki jiwa ini, (tidak sempurna Imanmu) hingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri.” Umar berkata, “Sekarang, Demi Allah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari diriku sendiri.” Nabi ﷺ bersabda, “sekarang (engkau memiliki iman yang sempurna), wahai Umar (HR. Bukhari, 6632)

Belajar dari Cinta Umar kepada Nabi ﷺ , dapat kita pilah menjadi tiga perkara penting. Dimulai dari Cinta yang terkait dengan Iman yang sempurna, juga Ucapan dan tindakan atau amal. Dapat kita uraikan, sbb;

PERTAMA, Mencintai Nabi ﷺ demi meraih manisnya IMAN. Dengan Cinta kepada Nabi ﷺ kita dapat meraih kesempuranaan iman dan merasakan Manisnya iman. Cinta kepada Allah dan Nabi ﷺ merupakan wujud kesempurnaan iman seseorang. Bahkan dengan itu, seseorang bisa merasakan manisnya iman. Tentu hanya bisa dirasakan bagi mereka yang beriman.

Nabi ﷺ bersabda: “Tiga perkara, yang barang siapa memilikinya, ia dapat merasakan manisnya iman, yaitu cinta kepada Allah dan Rasul melebihi cintanya kepada selain keduanya, cinta kepada seseorang karena Allah dan membenci kekafiran sebagaimana ia tidak mau dicampakan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari Muslim).

Bagi insan beriman akan menempatkan cinta pada Nabi ﷺ diatas segalanya. Cinta pada Nabi ﷺ melebihi cintanya pada anak, istri, ibu dan ayah serta keluarganya. Bahkan melebihi cinta pada dirinya sendiri.

Wujud nyata cinta pada Nabi ﷺ adalah mengimani dan menerima serta mengikuti seluruh syariat yang dibawanya secara utuh. Mengimaninya bermakna menerimanya tanpa ada keraguan sedikitpun. Justru setiap ajaran lainnya akan diukur apakah sesuai dengan ajaran yang diimaninya itu. Bukan sebaliknya syariat yang diimani itu harus disesuaikan dengan ajaran manusia lainnya atau ajaran ditempat ia berada.

KEDUA, Mencintai Nabi ﷺ dibuktikan dengan lisan (ucapan). Ucapan seseorang dapat mencerminkan isi hatinya. Demikian juga cinta kita pada Nabi ﷺ mestinya dapat tercermin dalam setiap ucapan kita. Apa yang keluar dari mulut kita adalah kalimat yang baik, yang tak boleh bertentangan dengan apa saja yang pernah diucapkan Nabi ﷺ.

Wujud cinta Nabi ﷺ dalam lisan kita dapat diwujudkan antara lain;

1) banyak menyebut nama Nabi ﷺ

2) banyak bersholawat pada Nabi ﷺ

3) menjaga ucapan agar tak bertentangan dengan ucapan (hadits-hadits) yang mulia Nabi ﷺ.

4) mencintai apa saja doa dan ucapan yang dicintai Nabi ﷺ ,

5) demikian pula sebaliknya membenci apa saja yang dibenci Nabi ﷺ .

KETIGA, Mengamalkan apa saja yang diajarkan Nabi ﷺ . Selain meyakini dan menerima apa saja yang datang dari Nabi ﷺ maka ada kewajiban lain yakni melaksanakan apa saja yang perintahkan oleh Nabi ﷺ . Ini merupakan manifestasi dari cinta. Menerima apa saja yang diajarkan/diperintahkan maupun yang di larang Nabi ﷺ . Semuanya diterima dan diamalkan tanpa pilih-pilih.

Sebagaimana yang termaktub dalam Firman Allah SWT, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (TQS. Al Hasyr: 7)

Dalam hal ini semua yang diperintahkan Nabi ﷺ maka dilaksanakan oleh Umar. Ia tidak memilih mana yang disukai atau yang tak disukai. Semua yang datang dari nabi ﷺ ia terima dengan lapang dada dan amalkan dengan sebaik-baiknya. Hal ini sebagaimana tercatat dalam sebuah kisah.

Suatu ketika Umar melaksanakan ibadah haji. Dia melakukan seluruh manasik haji sama persis seperti yang dikerjakan Nabi ﷺ . Sampai kemudian ia mendatangi hajar aswad dan menciumnya. Umar berkata, “sungguh, aku tahu engkau hanyalah batu yang tidak memberi bahaya atau manfaat. Kalau saja aku tidak melihat Rasulullah menciummu, aku pasti tidak akan menciummu.” (The Golden Story… hal. 85).

Dalam kisah ini, Umar melaksanakan apa saja yang dicontohkan Nabi ﷺ. Bahkan meski mencium hajar aswad sekalipun ia jalani demi Cintanya pada Nabi ﷺ. Begitu pula dalam hal kepemimpinan pemerintahan, Khalifah Umar tak bergeser sedikit pun dari al Quran dan Sunnah Nabi ﷺ. Ia tak mengubah sistem pemerintahan yang diwariskan Nabi ﷺ dan dilanjutkan oleh Khalifah Abu Bakar itu. Ia tak mengubahnya menjadi sistem Kerajaan (otokrasi) atau sistem Republik (demokrasi). Ia tetap mempertahankan warisan sistem khilafah itu hingga akhir hayatnya.

Kiranya para pemimpin negeri ini bisa mencontoh sikap Khalifah Umar. Ia yang begitu disegani kawan dan lawan, namun hatinya lembut penuh cintanya pada Nabi ﷺ yang dilandasi iman. Dengan mencintai Nabi ﷺ, akan dicintai oleh Allah SWT. sebagaimana berfirmanNya:

"Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian" (TQS Ali-Imran [3]: 31).

Wujud mencintai Nabi Muhammad ﷺ, berarti menerima warisannya, menjaganya dan menerapkannya segala sayarianya secara kaffah dalam segala aspek kehidupan kita. Jadi kalau ada yang mengaku cinta Nabi Muhammad ﷺ, tetapi menolak syariah islam kaffah maka itu cinta palsu.

Semoga dengan mencintai Nabi ﷺ, kita dan negeri ini akan dicintai oleh Allah SWT. Dijauhkan dari berbagai bencana dan musibah. Serta dilimpahkan keberkahan hidup dari langit dan bumi, buah kecintaan kita pada Nabi Muhammad ﷺ. Aamiin.

*)Disarikan dari Buku ¬_The Golden Story of Umar bin Khaththab._

NB: Penulis pernah Belajar Pemerintahan pada STPDN 1992 angkatan ke-4, IIP Jakarta angkatan ke-29 dan MIP-IIP Jakarta angkatan ke-08.

Post a Comment for "MENCINTAI NABI ﷺ SECARA LUAR BIASA BELAJAR DARI KHALIFAH UMAR"