Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

CUKUP SATU SUARA WANITA, TAK HARUS RIBUAN BURUH & MAHASISWA

Jika melihat fakta terkini nampaknya sulit terjadi. Bahkan mustahil terjadi di negeri yang katanya menerapkan demokrasi. Mereka justru tak mendengar suara rakyatnya. Bukankah sudah banyak tokoh akademisi juga tokoh agama yang bersuara namun tak didengar? Bahkan sudah ribuan buruh dan mahasiswa turun ke jalan untuk memprotes pun juga tak didengar. Lalu apakah mungkin sang kepala negara mau mendengar suara seorang wanita?
Oleh: Wahyudi al Maroky (Dir. Pamong Institute)

Suatu ketika Sang Kepala Negara berpidato di hadapan publik. Ia mengumumkan Undang-Undang yang Baru. Namun seorang wanita segera bersuara dan memprotesnya. Mendengar protes dan nasihat itu, Sang Kepala Negara pun langsung membatalkannya. Pernyataannya, mungkinkah itu terjadi kini?

Jika melihat fakta terkini nampaknya sulit terjadi. Bahkan mustahil terjadi di negeri yang katanya menerapkan demokrasi. Mereka justru tak mendengar suara rakyatnya. Bukankah sudah banyak tokoh akademisi juga tokoh agama yang bersuara namun tak didengar? Bahkan sudah ribuan buruh dan mahasiswa turun ke jalan untuk memprotes pun juga tak didengar. Lalu apakah mungkin sang kepala negara mau mendengar suara seorang wanita?

Soal seorang wanita yang suaranya didengar kepala negara itu memang benar pernah terjadi. Bukan sekedar dongeng sebelum tidur. Bukan pula sekedar kisah cerita dalam komik Shinchan. Tapi, kisah ini benar-benar terjadi. Bahkan tercatat rapi dalam sejarah peradaban manusia. Ya, terjadi di abad ke-7 yang lalu. Kisahnya tercatat dalam buku The Golden Story of Umar.

Pada Abad Ke-7 lalu, tercatatlah seorang kepala negara yang hendak mengeluarkan Hukum Baru. Kepala negara itu sangat disegani diberbagai penjuru negeri. Ia sangat baik dalam memimpin dan melayani rakyatnya. Ia tak punya catatan kroupsi sebagaimana kebanyakan para pemimpin di zaman now. Dialah Khalifah Umar yang dijuluki oleh Rasulullah SAW sebagai al Faruq (Pembeda).

Sejarah telah mencatat bagaimana khalifah Umar begitu berlapang dada ketika menerima kritik. Bahkan ia mengubah keputusannya ketika mendengar nasihat dari seorang wanita. Kala itu Khalifah Umar ingin mengatur biaya Mahar bagi laki-laki yang akan menikahi wanita. Ini disebabkan kala itu banyak laki-laki yang masih bujang. Istilah kaum milenial kini masih banyak pemuda Jomblo. Para lelaki itu ingin menikah namun tak sanggup membayar mahar yang diajukan oleh para wanita.

Sebagai Kepala Negara yang juga memikirkan nasib kaum pemuda jomblo ingin menikah maka Khalifah Umar ingin mengatur agar Mahar tidak terlalu mahal. Dalam suatu kesempatan, Khalifah Umar berpidato di depan publik dan menetapkan mahar untuk para wanita sekitar 400 dirham. Namun saat itu juga ada seorang Wanita yang langsung memprotesnya.

Dengan keberanian dan penuh percaya diri, Wanita itu mengkritik Khalifah Umar dihadapan publik. "…Hai amirul mukminin engaku melarang orang-orang memberikan mahar lebih dari 400 dirham kepada istri-istri mereka?"

Khalifah Umar pun menjawab "Iya".

Lalu di balas oleh Wanita itu “Wahai Umar, engkau tidak berhak menetapkan demikian. Bukankah engkau telah mendengar firman Allah:

“Kalian telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak (sebagai Mahar). Karena itu, janganlah kalian mengambil kembali darinya barang sedikitpun.” (TQS an-Nisa’ [4]: 20).

Mendengar kritik di muka publik itu, bagaimanakah sikap Khalifah Umar? Apakah Ia merasa malu dan marah? Apakah Ia segera memerintahkan para pengawalnya untuk menangkap wanita itu lalu dikriminalisasi dan berujung ditahan/penjara?

Sungguh, apa yang terjadi diluar dugaan. Ketika diingatkan dengan ayat al Quran itu Umar langsung beristighfar, lalu berkata, “Wanita itu benar dan Umar yang salah.”

Adakah Pemimpin zaman now seperti itu?

Khalifah Umar bukanlah seorang presiden yang pura-pura demokratis tapi marah bila dikritik. Betapa banyak para aktivis dan ulama di era Rezim demokrasi yang dikriminalisasi dan ditangkap? Bahkan sekedar menyampaikan dakwah islam, syariah, khilafah, jihad, jilbab, dll pun sudah dituduh radikal lalu difitnah intoleran dan tak sedikit yang dikriminalisasi dan dipenjara. Apalagi memprotes kebijkan atau UU di muka publik. Kini sudah berapa banyak aktivis yang dikriminalisasi dan ditangkap?

Kondisi ini tentu sangat berbeda dengan sikap Khalifah Umar. Ketika ia dikritik dan dibacakan ayat al-Quran justru ia berterima kasih kepada rakyatnya. Ia malah beristighfar dan berkata "tiap orang lebih paham ketimbang Umar".

Demikianlah sepenggal kisah sejarah dalam masa khalifah umar. Beliau dikritik di hadapan publik namun justru bangga kepada rakyat yang mengkritiknya.

Tentu situasi kini jauh beda dengan kehidupan dimasa Khalifah Umar. Wanita yang mengkritik Khalifah Umar tentu karena ia hafal ayat al Quran. Beda dengan zaman sekarang para wanita lebih banyak yang hafal lirik lagu pop dan lagu dangdut ketimbang ayat-ayat Quran. Bahkan lebih hafal lagu-lagu K-Pop ketimbang ayat quran. Lalu, bagaimana mau mengkritik presiden bedasar ayat Quran?

Sebaliknya Sang Khalifah Umar pun sebagai pihak yang dikritik juga hafal ayat-ayat Quran. Sehingga wajar jika bergetar hatinya ketika ada yang membacakan ayat Quran. Meski oleh seorang wanita atau oleh anak muda sekali pun.

Bahkan tercatat pula dalam kisah yang lain ketika Khalifah Umar dikritik seorang pemuda. Suatu ketika Khalifah Umar berpidato/khutbah dihadapan rakyatnya.

Dalam khutbahnya Khalifah Umar berkata, "wahai manusia, siapa pun diantara kalian yg melihat kebengkokan dalam diriku (dalam karakter, kebijakan dan sikap), maka biarkan dia meluruskan kebengkokan itu".

Seketika itu munculah seseorang dari tengah-tengah masyarakat yang hadir. Orang itu dengan lantang berteriak, "Demi Allah, seandainya kami melihat kebengkokan itu ada padamu maka akan kami luruskan, bahkan dengan pedang kami."

Mendengar ancaman pedang itu, bagaimana sikap Khalifah Umar ketika itu? Ternyata Khalifah Umar tidak mengirim polisi dan pengawalnya untuk menangkap orang itu. Beda seperti apa yang dialami oleh para aktivis di era demokrasi. Biasanya langsung ditangkap, lalu orang itu dikaitkan dengan organisasi tertentu. Selanjutnya di-stigmatisasi dengan istilah intoleran, radikal, teroris, dll.

Dalam perspektif islam, melakukan dakwah dan memberikan nasihat termasuk mengkritik penguasa adalah kewajiban. Jadi ketika wanita mengkritik khalifah Umar dengan menyampaikan ayat Quran, hakekatnya ia sedang menjalankan kewajiban besar, bukan sekedar menuntut Hak. Demikian pula ketika seorang mengancam akan meluruskan Umar dengan Pedangnya. Hal itu mesti dipandang sebagai wujud kecintaan dan koreksi agar pemimpin tidak tergelincir pada kemaksyiatan dan kezaliman.

Sikap Khalifah umar yang mudah menerima kritik ini karena terjadi sinyal yang sama antara pengkritik dan yang dikritik. Keduanya sama-sama hafal ayat Quran. Tentu kondisi kini sangatlah berbeda. Dimana orang yang hafal Quran malah dituding sebagai agen radikal atau yang diduga akan membawa paham radikal. Tentu akan jadi sulit diterima jika dikritik dengan menyampaikan ayat Quran.

Semoga para pemimpin negeri ini bisa mencontoh sikap Khalifah Umar yang hatinya lembut ketika dibacakan ayat-ayat al Quran. Sehingga ia mudah menerima nasihat, saran dan kritik yang disampaikan demi kebaikan bersama. Tak perlu harus ada ribuan buruh, pemuda dan mahasiswa yang turun ke jalan untuk protes dan menasihati. Cukuplah suara seorang wanita atau seorang pemuda sudah didengar demi kebaikan bersama.

*)Disarikan dari Buku The Golden Story of Umar bin Khaththab.

NB: Penulis pernah Belajar Pemerintahan pada STPDN 1992 angkatan ke-4, IIP Jakarta angkatan ke-29 dan MIP-IIP Jakarta angkatan ke-08.

Post a Comment for "CUKUP SATU SUARA WANITA, TAK HARUS RIBUAN BURUH & MAHASISWA"