Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KOMUNISME PKI, PDIP, DAN BAHAYA IMPERIALISME KAPITALISME GLOBAL

Politisi PDIP, Arteria Dahlan menyebut Isu PKI Barang Mati. Dia meminta masyarakat tak usah gaduh. Pernyataan tersebut, muncul dalam tayangan program Indonesia Lawyers Club ILC TV One tadi malam, Selasa (29/9/2020).

Oleh : Ahmad Khozinudin | Sastrawan Politik

Politisi PDIP, Arteria Dahlan menyebut Isu PKI Barang Mati. Dia meminta masyarakat tak usah gaduh. Pernyataan tersebut, muncul dalam tayangan program Indonesia Lawyers Club ILC TV One tadi malam, Selasa (29/9/2020).

Dalam tayangan Indonesia Lawyers Club ILC TV One, yang mengambil tema seputar polemik seputar ideologi PKI di Tanah Air, Arteria Dahlan secara lugas menegaskan bahwa isu PKI tidak lagi relevan dan hanya merupakan 'barang mati'. Ia menilai bahwa 'berulangnya' pembahasan mengenai isu ideologi PKI alias ideologi komunisme adalah sebuah gagasan yang membuat bangsa ini tidak bisa 'move on'.

Jika menyimak realitas kekinian, pendapat Arteria Dahlan tak sepenuhnya keliru. Mengingat, saat ini Indonesia sedang menerapkan sistem sekulerisme demokrasi yang merupakan sistem politik yang diadopsi ideologi Kapitalisme.

Dunia Islam, dimanapun berada saat ini terjebak dalam dua kutub ideologi kufur, sosialisme komunisme dan kapitalisme demokrasi. Kaum muslimin terjebak dalam pertarungan dua kutub ideologi ini. Umat Islam tak mampu berdikari, mengambil sikap politik yang steril dari intervensi dua ideologi ini.

Saat ini, problem Pilkada ditengah pandemi, rencana pengesahan RUU Cipta Kerja, perubahan UU Minerba, yang menyebabkan negeri ini dicengkeram oleh kapitalisme global, bukan dilakukan oleh kaum komunis. Mereka, merampok kekayaan alam Indonesia, mengadu domba rakyat agar tak sempat memikirkan hal itu, dan terus memproduksi narasi agar rakyat tak menjadikan kapitalisme demokrasi sebagai musuh bersama. Padahal, bahaya kapitalisme demokrasi tak kalah bahayanya ketimbang bahaya komunisme PKI.

Pemilu 2019 yang menyebabkan 894 petugas KPPS meninggal dunia, adalah tumbal Demokrasi. Pembelahan rakyat pada kutub 'Cebong Kampret' adalah ulah demokrasi. Maraknya penghinaan dan pelecehan terhadap ulama, simbol dan ajaran Islam, adalah ulah demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan, termasuk kebebasan menista agama.

Semua kengerian yang ditimbulkan kapitalisme demokrasi, tak kalah mengerikan ketimbang pembantaian para jenderal, ulama dan santri yang dilakukan oleh komunisme PKI. Pembantaian umat manusia yang dilakukan rezim komunis Lenin, Stalin, Pol Pot, masih kalah ketimbang kekejaman imperialisme kapitalisme Amerika.

Jutaan penduduk Irak dibantai Amerika berdalih demokrasi. Bom Atom meluluhkan Hiroshima dan Nagasaki, dilakukan dengan dalih menyelamatkan dunia. Tragedi Afganistan, dan Suriah, itu semua ulah Imperialisme kapitalisme demokrasi.

Jadi dari sisi ancaman, Komunisme masih dibawah bahaya kapitalisme, setidaknya untuk saat ini dimana Ideologi Negara dikuasai kapitalisme demokrasi. Jika komunisme masih dalam bentuk 'bahaya laten', kapitalisme demokrasi telah diterapkan dan menimbulkan kerusakan yang nyata.

Hanya saja bukan berarti ideologi komunisme termasuk PKI telah mati. Ideologi tidak pernah mati, yang ada hanyalah pasang surut pergerakannya.

Dan hari ini, petunjuk yang mengarah pada kembalinya komunisme PKI begitu nyata. Sampai disini, publik justru heran kenapa Arteria Dahlan dan PDIP secara umum justru mengumbar narasi "Komunisme PKI bukan ancaman". Pada saat yang sama, PDIP justru sering menuduh dan menggaungkan narasi islamophobia. Mengumbar ketakutan akan kembalinya kebangkitan Islam.

Padahal, agama Islam adalah Rahmat bagi semesta alam. Mayoritas penduduk di negeri ini, termasuk anggota PDIP beragama Islam. Kenapa justru mengumbar ketakutan pada agama sendiri ?

Dalam isu komunisme PKI, sikap PDIP memang penuh kontroversi. Semestinya, jika PDIP tidak pro komunisme PKI, tak perlu bersifat reaktif ketika muncul gerakan publik yang mengingatkan bahaya kebangkitan komunisme PKI.

Ribka Tjiptaning, anggota PDIP justru merasa bangga menjadi anak PKI. Pernyataan ini jelas menimbulkan praduga, ada hubungan apa antara PKI dan PDIP ?

Kembali ke gerakan Islam, baik ideologi komunisme maupun kapitalisme demokrasi, keduanya berbeda pandangan tentang beberapa hal namun akan bersepakat dalam hal memusuhi Umat Islam. Karena itu, bagi umat Islam selain wajib waspada atas potensi kebangkitan komunisme PKI juga wajib menyadari bahwa saat ini yang eksis dan merusak negeri ini adalah ideologi kapitalisme demokrasi.

Tidak ada jalan lain, kecuali memperjuangkan ideologi Islam dan menerapkannya dalam kehidupan nyata. Ideologi Islam hanya bisa tegak, jika umat Islam memiliki satu Negara yang menerapkan hukum Islam secara kaffa. Itulah, Negara Khilafah. [].

Post a Comment for "KOMUNISME PKI, PDIP, DAN BAHAYA IMPERIALISME KAPITALISME GLOBAL"