Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kambing Hitamkan Paham Radikalisme, Upaya Rezim Halangi Kebangkitan Islam

propaganda atau opini untuk menyudutkan Islam dengan cara mengambinghitamkan paham radikalisme di tengah umat

Oleh: Mita Nur Annisa (Pemerhati Sosial)

Kian terlihat betapa buruknya cara pandang pemerintah yang terus membuat propaganda atau opini untuk menyudutkan Islam dengan cara mengambinghitamkan paham radikalisme di tengah umat. Mirisnya, Menteri Agama menyatakan bahwa radikal itu masuk melalui orang yang berpenampilan good looking, memiliki kemampuan agama yang baik, hafal Al-Qur’an, dan menyertifikasi penceramah. Aneh bukan. Apakah ini sebuah sikap yang tepat yang pantas beliau utarakan? Alhasil menuai kritik pedas elemen bangsa dan masyarakat.

Dilansir oleh detik.com (04/09/2020),  Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi menarik ucapannya terkait paham radikal masuk melalui orang berpenampilan menarik atau good looking dan memiliki kemampuan agama yang baik. MUI menilai pernyataan Fachrul itu sangat menyakitkan.

"MUI minta agar Menag menarik semua tuduhannya yang tak mendasar karena itu sangat menyakitkan dan mencederai perasaan umat Islam yang sudah punya andil besar dalam memerdekakan negara ini dan mengisi kemerdekaan dengan karya nyata," kata Wakil Ketua MUI, Muhyiddin Junaidi, kepada wartawan, Jumat (4/9/2020).

Muhyiddin lantas menyinggung pemahaman Menag Fachrul Razi tentang isu-isu radikal. Jangan sampai, kata Muhyiddin, Fachrul mendukung para pihak yang mempunyai agenda terselubung.

"Pernyataan tersebut justru menunjukkan ketidakpahaman Menag dan data yang tak akurat diterimanya. Seakan yang radikal itu hanya umat Islam dan para huffaz Al-Qur'an. Seharusnya Menag yang berlatar belakang militer lebih mengerti tentang peran umat Islam Indonesia dan menjadikannya sebagai rujukan untuk menciptakan stabilitas nasional, persatuan dan kemajuan di tengah kebinekatunggalikaan," kata Muhyiddin, yang juga Ketua Hubungan Kerja Sama Internasional PP Muhammadiyah.

"Menag harus banyak baca literatur yang benar, bukan ceramah yang disiapkan oleh pihak yang sengaja punya hidden agenda di negeri ini. Seharusnya ia berterima kasih dan membantu semua pihak yang mendorong proses islamisasi di kalangan generasi muda dan ghirah umat Islam yang ingin menghafal Al-Qur'an," sambung Muhyiddin.

Muhyiddin juga menyindir Fachrul yang dianggap kerap menyudutkan umat Islam sejak menjabat Menag. Padahal, kata Muhyiddin, ada pengikut agama lain juga yang melakukan gerakan radikal.

"Menag tak boleh mengeneralisir satu kasus yang ditemukan dalam masyarakat sebagai perilaku mayoritas umat Islam. Sejak jadi Menag, yang dijadikan kambing hitam adalah umat Islam. Ia sama sekali tak pernah menyinggung pengikut agama lain melakukan kerusakan bahkan menjadikan rumah ibadah sebagai tempat untuk mengkader para generasi anti-NKRI dan separatis radikalis yang jelas musuh bersama. Menag menghilangkan semua stigma negatif tentang umat Islam yang beramar makruf dan nahi munkar demi tegaknya keadilan dan kebenaran di negeri ini," tutur Muhyiddin.

Tidak hanya menyudutkan melalui opini yang tidak mendasar. Menag juga mulai menyertifikasi 8.200 orang penceramah ditahap awal yang dimulai pada bulan ini. Fachrul mengklaim, program tersebut bekerja sama dengan berbagai pihak. Beberapa di antaranya adalah majelis keagamaan, ormas keagamaan, Badan National Penanggulangan Terorisme (BNPT). Fachrul juga mengatakan "Mudah-mudahan dengan itu bisa mengeliminasi penyebaran (pemahaman radikal). (m.cnnindonesia.com, 03/09/2020)

Tidak hanya di kalangan penceramah, Menag memberangus radikalisme dari semua lini. Fachrul meminta seluruh kementerian, dan lembaga pemerintahan untuk tidak menerima peserta yang memiliki pemikiran dan ide mendukung paham khilafah sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ia juga meminta agar masyarakat yang mendukung ide khilafah untuk tak perlu ikut bergabung sebagai calon pegawai negeri sipil (PNS). (m.cnnindonesia.com, 02/09/2020)

Bukan hal yang baru pemerintah menghembuskan opini-opini radikalisme di tengah masyarakat untuk menyudutkan Islam, tapi hal ini sudah lama dilakukan. Radikalisme selalu dibungkus dengan hal buruk untuk dilenyapkan,Terkhusus pada umat yang paham Islam secara kaffah. Ketika umat kini mulai menyadari bahwa khilafah adalah sistem yang benar, yang dapat memberi perlindungan, kesejahteraan dan keamanan maka bagi mereka yang takut kekuasaannya tersingkirkan akan dilenyapkan. Karena itulah mereka sangat gencar dalam membuat propaganda buruk tentang khilafah yang diartikannya sebagai radikal untuk menghalangi tegaknya sistem Islam ini.

Sehingga segala hal yang dituduhkan tentang khilafah yang dianggap sebagai paham radikal sesungguhnya hanyalah sebuah kesalahan dan upaya sang pembenci Islam. Sebab jika benar-benar memahami tentang khilafah, sesungguhnya khilafah adalah sistem yang sempurna yang diturunkan Allah untuk seluruh makhlukNya. Sistem yang mampu menjaga dan melindungi, sistem yang mampu menyejahterakan, sistem yang mampu memberangus kezaliman dan kejahatan. Karena kesempurnaan sistem khilafah inilah mereka yang gila kedudukan pasti berusaha memperjuangkan mati-matian untuk menghalangi sistem ini bangkit dan tegak kembali.

Inilah buah dari sistem demokrasi yang mana segala kebijakan hanya memberi jalan luas bagi mereka yang memiliki maksud terselubung. Sehingga saat mendapatkan kekuasaan hanya digunakan untuk kepentingan para pemilik agenda. Amanah hanya sebuah amanah tak dijalankan dengan baik malah sebagai panggung permainan sang pemilik modal.

Sehingga hanya dalam sistem Islam yang sahihlah yang akan melahirkan individu yang amanah. Karena kekuasaan dan jabatan akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah Swt.

Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda: “Kalian akan berambisi untuk menjadi penguasa sementara hal itu akan membuat kalian menyesal di hari Kiamat kelak. Sungguh hal itu ( ibarat ) sebaik-baik susuan dan sejelek-jelek penyapihan" (HR. Bukhari)

Hal ini pernah dicontohkan oleh Sayyidina Umar bin Khattab RA ketika Beliau diangkat menjadi Khalifah. Langsung mengucapkan kalimat istirja. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun karena beratnya amanah ini.

Seharusnyalah para pemimpin dan pemangku jabatan di negeri ini memahami dengan benar. Agar amanah yang telah diberikan di jalankan untuk menegakkan hukum-hukum Allah Dan mewujdkan Islam yang rahmatan lil A’lamin

Wallahu A’lam Bishawaab

Post a Comment for "Kambing Hitamkan Paham Radikalisme, Upaya Rezim Halangi Kebangkitan Islam"