Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

JANGAN JADIKAN PEMUDA INDONESIA BERKETUHANAN YANG BERKEBUDAYAAN K-POP DAN DRAKOR

Menggemparkan! Wapres RI baru-baru ini menghimbau kepada kaum muda Indonesia untuk menjadikan K-Pop dan Drama Korea (Drakor) sebagai inspirasi dalam meningkatkan kreatifitas.
Oleh : Aji Putra Sudarsono

Menggemparkan! Wapres RI baru-baru ini menghimbau kepada kaum muda Indonesia untuk menjadikan K-Pop dan Drama Korea (Drakor) sebagai inspirasi dalam meningkatkan kreatifitas.

Hal ini dikatakan Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin saat mengapresiasi peringatan 100 tahun kedatangan orang Korea ke Indonesia. Dia pun berterima kasih kepada orang Korea.

Acara tersebut diperingati pada Minggu, 20 September 2020. Ma'ruf Amin menilai peringatan ini merupakan salah satu bentuk penguatan hubungan baik antara kedua negara, Indonesia dan Korea. (Liputan6.com, 21/09/2020).

Menurut dia, budaya Korea yang didiseminasi di Indonesia melalui K-Pop (musik pop Korea) dan K-Drama (film drama Korea) memiliki potensi untuk meningkatkan kreativitas generasi muda Indonesia dalam membawa budaya Indonesia untuk go international. (Liputan6.com, 21/09/2020).

Ma'ruf juga melihat peluang tren K-Pop dan Drama Korea yang menjamur jadi potensi untuk dijadikan inspirasi bagi generasi muda Indonesia dalam membawa budaya Indonesia ke kancah internasional.

"Maraknya budaya K-pop diharapkan juga dapat menginspirasi kreativitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri," kata Ma'ruf. (cnnIndonesia.com,20/09/2020).

Sebelumnya telah diberitakan bahwa PDIP menggagas RUU HIP. Pada RUU HIP tersebut, diusulkan, dalam Bab II Pasal 7 yang berbunyi:

(1) Ciri pokok Pancasila adalah keadilan dan kesejahteraan sosial dengan semangat kekeluargaan yang merupakan perpaduan prinsip ketuhanan, kemanusiaan, kesatuan, kerakyatan/demokrasi politik dan ekonomi dalam satu kesatuan.

(2) Ciri pokok Pancasila berupa trisila, yaitu: sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, serta ketuhanan yang berkebudayaan.

(3) Trisila sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terkristalisasi dalam ekasila, yaitu gotong-royong.

Merujuk laman resmi DPR, RUU HIP tersebut setidaknya sudah dibahas tujuh kali. Satu rapat tak jelas dihadiri oleh siapa dan apa pembahasannya walaupun bersifat terbuka, sedangkan dua rapat bersifat tertutup.

Cacat Hukum RUU HIP

RUU HIP tidaklah penting untuk dibuat dan disahkan, karena RUU ini tidak mendesak. Dan juga banyak pasal karet yang multitafsir.

Disamping itu norma hukum ada tingkat dan juga jenjang. Pancasila merupakan pemegang tertinggi dari norma hukum di Indonesia, sementara UU adalah rincian norma yang lebih konkret. Maka tidak tepat jika UU justru memuat materi muatan norma tertinggi dan pastinya berpotensi menimbulkan kerancuan.

Sedangkan dalam pasal 7 bahwa Pancasila akan diperas menjadi Trisila dan Ekasila. Hal ini sangat bertentangan dengan Ketetapan MPR No. XVIII/MPR/1998 tentang pencabutan ketetapan MPR RI No. II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Kemudian tentang penegasan Pancasila sebagai dasar negara dinyatakan dalam Undang Undang Dasar 1945.

Dan juga tidak layak isi pidato Soekarno tentang Pancasila yang dapat diperas menjadi Trisila dan Ekasila dijadikan bunyi pasal.

Terlebih lagi posisi Ketuhanan pada Trisila ditempatkan pada bagian akhir. Disamping itu pula kata Ketuhanan Yang Berkebudayaan sangat bertentangan dengan Pancasila yang berlaku seperti yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945.

Cacat Hukum K-Pop dan Drakor Sebagai Inspirasi Pemuda

Himbauan Wapres kepada kaum muda Indonesia untuk menjadikan K-Pop dan Drama Korea (Drakor) sebagai inspirasi dalam meningkatkan kreatifitas sangatlah bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia.

Ini memperlihatkan bahwa dalam menjalankan roda pemerintahan, Wapres tidak faham hukum perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

Secara khusus Indonesia telah memiliki Undang-Undang yang mengatur Kepemudaan, yaitu dalam UU No. 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan.

Dalam UU tersebut pada Bab VI Penyadaran

Pasal 22 :

1. Penyadaran kepemudaan berupa gerakan pemuda dalam aspek ideologi, politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pertahanan, dan keamanan dalam memahami dan menyikapi perubahan lingkungan strategis, baik domestik maupun global serta mencegah dan menangani risiko.

2. Penyadaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) difasilitasi oleh Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, dan organisasi kepemudaan.

Pasal 23

Penyadaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 diwujudkan melalui:

1. Pendidikan agama dan akhlak mulia,

2. Pendidikan wawasan kebangsaan,

3. Penumbuhan kesadaran mengenai hak dan kewajiban dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,

4. Penumbuhan semangat bela negara,

5. Pemantapan kebudayaan nasional yang berbasis kebudayaan lokal,

6. Pemahaman kemandirian ekonomi; dan/atau

7. Penyiapan proses regenerasi di berbagai bidang.

Dengan mengacu pada UU ini, bahwa penyadaran gerakan pemuda dalam hal sosial budaya seperti yang termaktub pada pasal 22 ayat 1 dengan mengedepankan aspek pendidikan agama dan akhlak mulia, serta pemantapan kebudayaan nasional yang berbasis kebudayaan lokal. Seperti yang termaktub pada pasal 23 ayat 1 dan 5.

Dari sini jelas bahwa K-Pop dan Drakor tidak hanya bertentangan dengan pendidikan agama dan akhlak mulia saja, melainkan juga bertentangan dengan kebudayaan lokal.

Pemuda Dalam Pandangan Islam

Pemuda memiliki andil besar dalam sejarah kebangkitan negara. Maju mundurnya negara tergantung pada kondisi para pemudanya. Jika pemudanya memiliki jiwa yang maju, jiwa besar, dan jiwa kepemimpinan, maka negara itu akan maju, besar dan mampu memimpin peradaban dunia.

Melalui Islam, para pemuda dengan karakteristiknya akan berhasil menyingkirkan segala macam bentuk kekuatan kedzaliman.

Islam telah memberikan kisah teladan para pemuda gua (ashabul kahfi) yang terkenal kokoh iman dan teguh pendirian dalam memegang prinsip kebenaran.

نَّحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِٱلْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ ءَامَنُوا۟ بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَٰهُمْ هُدًى‎

"Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk." (QS. Al-Kahfi : 13)

Teladan pemuda idaman juga telah dipertunjukkan oleh Nabi Ibrahim ketika masa remajanya. Seperti tertera di dalam firman Allah SWT,

قَالُوا۟ سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبْرَٰهِيمُ‎

Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim". (QS. Al-Anbiya : 60)

Islam memiliki peran penting dan posisi strategis, untuk membangkitkan pemuda agar berperan sesuai dengan apa yang diharapkan dari mereka, dan agar menjadi penjaga bagi agama mereka (Islam).

Pemuda dalam Islam adalah orang-orang yang taat kepada Allah Ta’ala. Tidaklah mereka mendengar perintah syariat, kecuali mereka akan menjadi yang terdepan dalam melaksanakannya. Tidaklah mereka mendengar suatu larangan, kecuali mereka akan menjadi yang terdepan dalam menjauhinya.

Pemuda semacam ini berhak untuk mendapatkan pahala yang banyak pada hari kiamat, di bawah naungan Allah SWT ketika panas matahari didekatkan di atas kepala manusia.

Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إِلا ظِلُّهُ ‎: الإِمَامُ الْعَادِلُ ، وَشَابٌّ نَشَأ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ ‎…

“Tujuh (golongan) yang Allah naungi di hari yang tidak ada naungan melainkan naungan dari-Nya, (yaitu) pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Tuhannya … ” (HR. Bukhari dan Muslim).

Itulah pemuda dalam Islam yang senantiasa menjadikan syari'at Islam sebagai inspirasi dalam kreatifitas perkembangannya.

Kesimpulan

Secara sistematis terlihat jelas ada upaya negara untuk menjauhkan orang-orang, khususnya para pemuda dari agamanya.

Hal ini terlihat dari ingin dihapuskannya faktor Ketuhanan dari kehidupan. Yang kemudian disusul dengan menjadikan budaya asing (seperti K-Pop dan Drakor) sebagai standar peningkatan krearifitas pemuda.

Upaya ini akan terus berlangsung selama Islam tidak dijadikan sebagai dasar negara.

Karena Islam memiliki aturan yang bersumber dari Dzat Yang Maha Memgetahui kekurangan manusia.

Melalui negara Khilafah, khalifah akan menjadikan syari'at Islam sebagai dasar dalam pembentukan dan pengembangan pemuda. Sehingga akan menghasilkan para pemuda yang memiliki Kepribadian Islam, yang senantiasa menjadikan hukum syara' sebagai pedoman hidupnya.

Dan para ulama juga memiliki peran yang tak kalah penting untuk mewujudkan para pemuda menjadi generasi emas dengan Islam, bukan dengan yang lain. Karena sangat aneh jika ada seorang ulama yang ingin mencetak generasi muda menjadi generasi emas dengan budaya kafir yang bertentangan dengan Islam.

Khalifah dan Ulama akan bekerja sama dalam membangun negara dan pemuda. Karena ulama dalam negara Islam, berfungsi sebagai pengontrol bagi penguasa dalam menjalankan amanah pengurusan rakyat.

Maka dari itu patut kita renungkan apa yang dikatakan oleh Al-Imam Al-Ghazali

إنّما فسدت الرعية بفساد الملوك، وفساد الملوك بفساد العلماء، فلو لا القضاة السوء والعلماء السوء لقل فساد الملوك خوفا من إنكارهم

Sesungguhnya rusaknya rakyat dikarenakan rusaknya penguasa. Rusaknya penguasa dikarenakan rusaknya Ulama. Andai saja tidak ada hakim yang jahat dan ulama yang jahat, pasti akan sangat sedikit kerusakan pada penguasa, dikarenakan takut dari mengingkarinya. Wallahu a'lam

Post a Comment for "JANGAN JADIKAN PEMUDA INDONESIA BERKETUHANAN YANG BERKEBUDAYAAN K-POP DAN DRAKOR"