Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Urgensitas Mempelajari Sejarah Islam di Indonesia

Sebelum kedatangan Islam ke Nusantara atau Indonesia hari ini, Nusantara pada saat itu didominasi oleh agama Hindu dan Budha.

Oleh: N. Vera Khairunnisa

Sebelum kedatangan Islam ke Nusantara atau Indonesia hari ini, Nusantara pada saat itu didominasi oleh agama Hindu dan Budha. Adanya kerajaan Budha Sriwijaya dan Hindu Majapahit menjadi bukti yang tertoreh dengan sangat jelas dalam sejarah. Namun lihat hari ini, syukur alhamdulillah kita adalah muslim. Tinggal di sebuah negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Mengapa ini terjadi? Ini tentu menjadi hal yang sangat penting untuk dikaji.

Hanya saja memang, ketika berbicara sejarah, maka diperlukan banyak referensi yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sebab, seringkali sejarah itu dipengaruhi oleh pihak yang berkuasa pada setiap masa, demi kepentingan politik mereka. Sehingga kebenaran sejarah ada yang ditutupi bahkan dihilangkan.

Mengkaji sejarah sebetulnya tidak cukup ditulis dalam satu lembar artikel. Termasuk membahas sejarah masuknya Islam ke Nusantara. Sebab ceritanya sangat panjang. Tulisan ini hanyalah secuil kisah yang barangkali bisa menjadi pemicu bagi kita untuk bisa lebih memperdalam lagi mempelajari sejarah, khususnya tentang Islam di Nusantara.

Awal masuknya Islam ke Nusantara

Ada beberapa pendapat mengenai kapan tepatnya Islam masuk ke Nusantara. Di antaranya yang mengatakan bahwa Islam masuk pada abad ke 13 M, dibawa oleh pedagang asal Gujarat, India. Ini adalah pendapat Prof Christian Snouck Hurgronye, sebagai kepala Kantor Penasihat Urusan Arab dan Islam di Hindia Belanda yang dilontarkan pada 1809.

Namun, dalam seminar Masuknya Islam di Indonesia 17–20 Maret 1963 di Medan, pendapat Snouck dan para orientalis Belanda itu dibantah keras. Seminar empat hari yang dihadiri para sejarawan, ilmuwan dari berbagai perguruan tinggi dan tokoh ulama se-Indonesia menyimpulkan, Islam untuk pertama kali telah masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijriah langsung dari Arab. Sedangkan daerah pertama yang didatanginya adalah pesisir Sumatra.

Pendapat Snouck yang menyebutkan Islam berasal dari India, kata Hamka dalam prasarannya di seminar itu, merupakan jarum halus untuk menentang pengaruh Arab yang ia dapati ketika Aceh berperang melawan Belanda.

Sedangkan Mr. Hamid Algadri dalam bukunya ‘Politik Belanda terhadap Islam dan Keturunan Arab di Indonesia’, menilai pernyataan Snouck itu terkait dengan sikap Belanda terhadap keturunan Arab di zaman kolonial yang berusaha memisahkan mereka dari bangsa Indonesia. Sedangkan Snouck bertindak sebagai ilmuwan yang ingin mengabdikan ilmunya untuk kepentingan kolonialisme Belanda di Indonesia. Yakni membebaskan orang Indonesia dari Islam. (republika.co.id, Bukti-Bukti Islam Sampai ke Indonesia Sejak Abad Pertama Hijriyah, Alwi Shahab)

Hubungan Kerajaan Budha Sriwijaya dengan Khilafah Bani Umayyah

Setelah Islam masuk ke Indonesia, maka ajarannya yang rasional dan sesuai fitrah sangat menarik perhatian raja-raja di Indonesia. Sebagai bukti, yaitu adanya hubungan Kekhilafahan Bani Umayyah yang pada saat itu dipimpin oleh Umar bin Abdul Aziz dengan kerajaan Sriwijaya yang dipimpin oleh Raja Sri Indrawarman, dituangkan Fatimi dalam karyanya yang berjudul The Two Letters From The Maharaja To The Khalifah. Sebuah tulisan khusus yang mengkaji surat dari Maharaja kepada khalifah.

Dan di sanalah akan dijumpai kisah dari Nu’aym bin Hammad yang telah mengabadikan surat tersebut. Namun, menurut Fatimi surat ini mengindikasikan kesamaan yang benar-benar mirip.

“Nu’aym bin Hammad telah menulis, “Raja al-Hind mengirim surat untuk Umar bin ‘Abd Aziz, sebagai berikut: Dari Raja yang merupakan keturunan dari seribu raja, yang permaisurinya juga, adalah keturunan seribu raja, yang di dalam kandangnya memiliki seribu gajah, dan yang memiliki wilayah dua sungai yang mengairi tanaman gaharu, yang terdapat tanaman herbal, pala, dan kamper yang keharumannya menyebar ke jarak dua belas mil. Untuk Raja Arab, yang tidak menyekutukan Allah dengan yang lainnya. Saya telah mengirimkan kepada Anda, hadiah, yang tidak banyak, tetapi (hanya) sebuah salam dan saya berharap bahwa Anda dapat mengirimkan kepada saya seseorang yang bisa mengajari saya Islam dan memerintahkan saya dalam Hukum Islam, [atau dalam versi lain: Mungkin mengajari saya Islam dan menjelaskan kepada saya, perdamaian.

Fatimi juga menunjukkan bukti lain yang dikutip oleh Ibn Taghri-Berdi dari karya seorang periwayat yang handal, yang tak lain adalah Ibnu Asakir (499/1105-571/1176):

“Saya telah mengirim Anda hadiah batu mulia amoer, wewangian, kamper. Terimalah, dan jadikan aku sebagai saudara dalam Islam”

Surat tersebut terjadi pada tahun ke 99 H, atau 717-718 M. Lebih dalam lagi Fatimi meyakinkan kita bahwa surat yang ditulis oleh Umar bin ‘Abd ‘Aziz tidak saja mengajak masuk Islam. Namun, khalifah menginginkan mereka juga memberikan kesetiaan kepada Khilafah Bani Umayyah. (republika.co.id, Korespondensi Sriwijaya dengan Khilafah Bani Umayyah, Rizka K. Rahmawati, S Hum)

Menurut Prof Dr Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam disebutkan, pada sekitar 717 Masehi, diberitakan ada sebanyak 35 kapal perang dari Dinasti Umayyah hadir di Sriwijaya. Hal ini semakin mempercepat perkembangan Islam di Sriwijaya. Lalu pada 718 M, Sri Indrawarman akhirnya mengucap dua kalimat syahadat. Sejak itu kerajaannya disebut orang sebagai “Kerajaan Sribuza yang Islam”.

Berdirinya Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia

Perlahan tapi pasti, seiring semakin masifnya dakwah diterima, maka berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Dalam berbagai literasi disebutkan bahwa kerajaan Islam pertama adalah kerajaan Perlak atau Perelak yang terletak di wilayah Aceh Timur berdiri pada tahun 840-1292. Raja pertama dari kerajaan ini adalah Sultan Alaidin Syed Maulana Abdul Aziz Syah. Kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan Budha pun berganti menjadi berbagai kesultanan Islam.

Kerajaan-kerajaan Islam tersebut pernah mengalami kejayaan, hingga akhirnya runtuh akibat tidak mampu menghadapi penjajahan Belanda. Kekhilafahan Turki Utsmani saat itu pun sedang mengalami kemunduran sehingga tidak mampu membantu Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan negara. Bahkan puncaknya, Turki Utsmani runtuh tahun 1924 M.

Namun jauh sebelum itu terjadi, ada peran Khilafah dalam membantu salah satu Kesultanan di Indonesia, tepatnya yaitu Kesultanan Aceh untuk melawan penjajah. Sultan Alauddin Ri'ayat Syah pemimpin Kesultanan Aceh Darussalam mengirim surat kepada Turki Utsmani yang dipimpin Sultan Sulaiman al-Qanuni. Dalam suratnya Sultan Alauddin Ri'ayat Syah meminta bantuan untuk menghadapi Portugis yang sedang merebut bandar-bandar atau kota pelabuhan dan akan menyerang Aceh Darussalam.

Beberapa tahun kemudian Turki Utsmani mengirim 15 kapal perang kecil dan dua kapal perang besar beserta pasukan militer dan perlengkapannya ke Aceh Darussalam. Semua kapal perang dan pasukan tersebut dipersiapkan untuk membantu Aceh Darussalam melawan Portugis.

Urgensitas Memahami Sejarah

Pentingnya memahami sejarah masuknya Islam ke Nusantara, agar kita menyadari bahwa:

Pertama, Negara Islam atau Khilafah memiliki peran yang sangat krusial bahkan paling utama bagi tersebarnya rahmat Islam ke seluruh alam. Terbukti, keberadaan khilafah yang ada pada saat itu, mampu merubah Indonesia yang sangat kental dengan agama Hindu dan Budha menjadi negara yang bermayoritaskan Islam hingga hari ini.

Kedua, kita pun jadi semakin tahu bahwa berbeda dengan ideologi lain, yang datang ke Nusantara untuk menjajah, merampas harta kekayaan negara dan menjadikan masyarakatnya budak. Namun Islam hadir sebagai penerang, yang memberikan petunjuk atas kesesatan manusia, menghapuskan kedzaliman dan menegakkan keadilan. Bahkan justru hadir memberikan bantuan untuk melawan penjajahan.

Oleh karena itu, mempelajari sejarah masuknya Islam ke Indonesia seharusnya memunculkan semangat keislaman yang lebih bergelora. Sebagai rasa syukur kepada Allah, bahwa kita telah terselamatkan dari agama nenek moyang Indonesia yang sesat.

Terakhir, setelah kita tahu bahwa khilafah memiliki peran yang sangat penting untuk menyebarkan Islam ke seluruh alam, maka sudah semestinya kita ikut andil berjuang menegakkan khilafah. Agar Islam bisa menyebar luas ke seluruh dunia, dari ujung Barat hingga Timur. Dari Amerika Utara hingga ke Australia. Dari Utara ke Selatan, atau Rusia hingga Afrika Selatan. Wallahua'lam.

Post a Comment for "Urgensitas Mempelajari Sejarah Islam di Indonesia"