Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

TRANSNASIONALISME ISLAM

Oleh : DR. Moeflich Hasbullah (Sejarawan, UIN SGD)

Ada sebutan yang kurang enak dan tidak proposional atas gerakan dakwah Islam yaitu istilah "Islam transnasional." Istilahnya sendiri itu istilah akademik, netral, tapi sering dimaknai negatif ketika "yang baik dan benar" itu adalah yang "Islam nasional." Penekanan berlebihan pada Islam nasional berdampak penegatifan pada Islam internasional atau transnasional. Islam transnasional seolah tidak sah ada di negeri ini, seolah anak haram. Ini harus diluruskan karena selain ahistoris, juga mereduksi sifat Islam sendiri yang oleh Allah diturunkan bersifat universal, global, internasional, transnasional, untuk seluruh alam.

Allah mengatakan dan semua orang tahu, Islam adalah "rahmatan lil 'alamin" (rahmat bagi seluruh alam), dan prinsip utama itulah yang didakwahkan oleh semua pendakwah: ulama, kyai, pemikir, intelektual, cendekiawan, ustadz, mubaligh dst. Artinya, Islam itu untuk seluruh manusia, bukan untuk orang Arab saja, untuk Indonesia saja, atau sebuah bangsa tertentu.

Nabi Muhammad SAW adalah "khatamun nabiyyin" (penutup dari semua nabi) sejak Nabi Adam AS hingga Nabi Isa As. Terakhir yang diturunkan Allah ke bumi itu artinya, Nabi Muhammad SAW diutus untuk seluruh umat manusia.

Kedua dasar itu menunjukkan Islam adalah agama universal, untuk seluruh manusia, ajaran internasional, agama transnasional. Sebenarnya ini tak perlu dijelaskan karena sudah tahu semuanya. Yaa taukid sajalah 😊

Kemudian kita lihat fakta-fakta historis sosiologisnya.

Ketika awal-awal Islam masuk ke Nusantara yang datang dari jazirah Arab pada abad ke-7, dan juga ke wilayah-wilayah lain di muka bumi, jelas itu sebagai kekuatan internasional, sebagai dakwah transnasional. Sifat Islam yang datang ke semua penjuru dunia, itu menunjukkan Islam sebagai agama transnasional. India, Cina, Islam, Barat, atau Hindu, Budha dan Islam yang memenuhi pelabuhan, perairan dan kepulauan Nusantara sejak awal abad pertama hingga abad ke-20, dan juga Kristen yang dibawa kolonial dari Eropa, semuanya adalah ajaran dan kekuatan-kekuatan transnasional.

Islam itu mengajarkan cinta tanah air. Membela tanah air dan bela negara itu wajib. "Hubbul wathan minal iman" itu konsep dan ajaran mencintai tanah air atau tempat kelahiran. Memang tidak logis orang tidak mencintai tanah airnya sendiri. Tapi, bukan nasionalisme dalam pengertian Barat yang sekuler. Cinta tanah air menjadi keliru ketika menjadi nasionalisme yang berlebihan yang konsekuensinya harus menolak dakwah Islam yang sifatnya internasional transnasional alias global.

Menolak transnasionalisme Islam pasti dan akan terus-menerus berhadapan dengan Islam sendiri sebagai ajaran transnasional. Cinta negara adalah wajib bila pada tempatnya dan ketika berlebihan menjadi salah. Apa ukurannya "cinta negara berlebihan"? Banyak. Disini dua saja.

Pertama, ketika cinta negara menjadi kehilangan akal sehat, kenormalan dan kejernihan berpikir. Pada negara salah kelola, bentuk tanggung jawabnya harus diwujudkan dalam bentuk koreksi dan kritik. Itulah kecintaan. Yang diam dan manut itu bukan cinta tapi turut merusak negara karena negara itu bukan milik individu dan golongan tapi milik semua. Kritik dan koreksi pada kesalahan adalah ekspresi cinta.

Kedua, secara agama, ketika cinta negara bertentangan dengan keimanan dan harus menolak apalagi anti pada ajaran agama sendiri yang secara ajaran, tidak mungkin agama mengajarkan kecintaan berlebihan pada negara. Bukan negaranya dan cintanya yang salah tapi pikirannya yang salah, berlebihannyalah yang salah, tidak proposionalnya itulah yang salah.

Ketika seorang Muslim, siapa saja, menolak faham Islam transnasional, sebenarnya tanpa sadar dia sedang menolak ajaran yang sedang dipeluknya sendiri yaitu Islam sebagai agama transnasional. Semangat yang berlebihan pada faham yang salah pasti menimbulkan paradoks, lucu dan ironis. Ini sejenis konflik batin dalam diri yang bila tidak disadari, apalagi lama, bisa menimbulkan penyakit.

Islam itu mengajarkan keseimbang hidup sebagai ciri kesempurnaan ajarannya. Apapun yang berlebihan dalam Islam adalah negatif dan salah. Makan berlebihan, tidur berlebihan, belajar berlebihan, baik berlebihan, cinta berlebihan, sedih berlebihan, benci berlebihan, semangat berlebihan, dermawan berlebihan, sedekah/infaq berlebihan, menolong berlebihan, menyumbang berlebihan, dakwah berlebihan bahkan ibadah berlebihan, semuanya negatif dan salah. "Kaleuleuwihi" kata orang Sunda, "teer laa luuu ..." kata Bang Haji Oma Irama. Islam itu mengajarkan pasisme (pas), tepatisme (tepat), akuratisme, proporsionalitas dan segala sesuatu pada tempatnya.

Sebutan transnasional pada kegiatan dakwah Islam itu keliru dan tidak benar karena menempelkan sifat yang tidak perlu, yang sudah built-in atau bagian tak terpisahkan dari Islam itu sendiri, yaitu transnasional. Dan, menjadi lebih salah ketika dibarengi dengan kebencian karena cinta tanah air yang berlebihan tadi. Tanpa sadar, itu nasionalisme ekstrim, nasionalisme radikal. Begitulah nasionalisme sekuler. Nasionalisme religius akan menempatkan nasionalisme pada tempatnya yaitu berdasarkan ajaran agama.

Marilah belajar pada secangkir kopi yang selalu menyuguhkan keseimbangan antara manis dan pahit menjadi sebuah ramuan yang sedap, menyegarkan pikiran dan menghidupkan adrenalin 😊😁☕️🚬🚬🚬
DR. Moeflich Hasbullah (Sejarawan, UIN SGD)

Post a Comment for "TRANSNASIONALISME ISLAM "