Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Fetishism Disorder: Akar Masalah dan Solusi

pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang pria bernama Gilang. Pria yang diketahui masih aktif sebagai mahasiswa di Universitas Airlangga ini menjalankan aksinya dengan cara meminta para korbannya untuk membungkus diri dengan kain jarik dengan dalih untuk kepentingan penelitian. Para pakar psikolog menyebut kelainan yang dilakukan Gilang tersebut dengan istilah fetishistic disorder

Jagat maya dihebohkan oleh kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang pria bernama Gilang. Pria yang diketahui masih aktif sebagai mahasiswa di Universitas Airlangga ini menjalankan aksinya dengan cara meminta para korbannya untuk membungkus diri dengan kain jarik dengan dalih untuk kepentingan penelitian. Para pakar psikolog menyebut kelainan yang dilakukan Gilang tersebut dengan istilah fetishistic disorder.

Dikutip dari psychologytoday.com (23 Februari 2019), Fetish atau Fetishism adalah satu penyimpangan seksual dimana seseorang memerlukan benda atau bentuk tertentu baik itu bagian tubuh manusia maupun benda mati untuk merasakan rangsangan seksual.

Ahli psikolog social dari Fakultas Psikologi Universitas Pancasila, Dr. Ade Iva Wicaksono M.Psi, saat dihubungi Okezone, Jumat (31/7/2020), menjelaskan bahwa Fetishistic disorder adalah ketertarikan seksual yang sangat intense pada benda- benda tidak hidup semisal sepatu, celana dalam wanita, bra atau bagian tubuhnya, semisal rambut hingga kaki, dan selalu diiringi dengan fantasi.

Kasus ini sebenarnya bukan hal baru. Banyak sekali jenis kelainan seksual lain yang semakin meresahkan yang sedang menjangkiti manusia hari ini. Ada apa dibalik fenomena tersebut? Apa solusi tuntas mengatasinya? Tulisan ini mencoba mengurainya.

Fetishism, Penyakit Masyarakat 

Adanya rangsangan seksual pada diri seseorang sesungguhnya adalah hal yang fitrah. Namun jika keberadaannya menjadi liar tak terkendali dan menelan korban maka hal tersebut tak lagi bisa disebut sebuah kenormalan.

Kondisi masyarakat yang sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) memang berpotensi besar untuk memunculkan warga yang ‘sakit’ seperti Gilang. Tentu, di luar sana masih banyak Gilang-gilang lain yang belum terekspose. Tak heran ini terjadi sebab pola hidup yang bebas antara pria dan wanita bisa berujung pada rasa jenuh dari pria/wanita terhadap lawan jenisnya. Aurat diobral di mana-mana. Tidak ada sesuatupun dalam diri wanita yang dianggap privacy lagi. Jadilah para lelaki merasa bosan melihat ‘pemandangan’ yang itu-itu saja. Keindahan tubuh wanita bukan lagi menjadi hal yang menarik bagi pengidap fetish ini. Imbasnya nafsu seksual mereka berfantasi kemana-mana, bahkan hingga pada benda-benda yang secara nalar tidak pantas dijadikan sarana membangkitkan syahwat.

Masyarakat Indonesia yang memang terkenal latah suka ikut-ikutan, jelas sangat gampang terkena penyakit ini. Karena coba-coba, dorongan ekonomi bahkan hingga pelecehan seksual ketika masih kecil menjadi sebagian faktor pendorong munculnya kelainan seksual pada diri seseorang. Yang lebih parah adalah ketika problem masyarakat ini dianggap biasa atau bahkan lebih buruk lagi dihormati eksistensinya sebagai pilihan pribadi seseorang atas nama Hak Asasi Manusia dan wajib di lindungi dalam atmosfer demokrasi.

Biang Kerok Merebaknya Fetishism

Perilaku menyimpang seksual ini sangat meresahkan sebab bentuk rangsangan yang diburu para pengidap fetish sagat beragam, mulai dari pakaian dalam wanita, terangsang saat melihat kotoran (muntah, ingus, urina bahkan tinja), menyiksa fisik orang lain hingga memutilasi bagian tertentu dari tubuh orang atau diri sendiri (tribunnewsmaker.com 1/08/2020)

Menurut para pakar psikolog beberapa faktor penyebab munculnya fetishistic disorder ini, diantaranya traumatic di masa lalu, lemahnya pondasi agama yang ditanamkan keluarga, kehilangan orang yang sangat dicintai hingga kekecewaan mendalam pada pasangan yang mendorong seseorang mencari objek lain untuk memuaskan hasrat seksualnya. Ada pula yang menyatakan, fetish mungkin saja berasal dari pengalaman seksual saat masa puber dan remaja. Jika suatu objek pernah menjadi hal yang menyenangkan saat seseorang mengenal seks di masa remaja, boleh jadi ia akan mengaitkan objek itu dengan seks, dan penggunaannya berlanjut seiring berjalannya waktu.

Dari semua peluang kemungkinan itu, yang paling besar pengaruhnya adalah sistem yang mapan di masyarakat bernama kebebasan. Kebebasan bersikap menjadi salah satu pilar dari sistem, yang jelas terlihat kerusakannya, yang bernama demokrasi. Sistem usang inilah yang menjadi dewa di mana-mana, disanjung dan dipuja. Di bawah lindungan demokrasi, manusia jadi bebas berbuat apa saja.

Sekulerisme adalah biang kerok selanjutnya yang berusaha memisahkan peran agama dari kehidupan. Sekularisme inilah asas dari kapitalisme yang sangat memuja kesenangan jasadi sebagai puncak kebahagiaan tertinggi. Persoalan ingat mati apalagi akhirat terasa sangat jauh dari pikiran mereka. Yang penting saat ini having fun dulu saja.  Tak heran jika dalam sistem kapitalisme sekuler keanehan perilaku seks tumbuh pesat bak cendawan di musim hujan, tentu ini tak lepas dari adanya pembiaran dan pembelaan.

Islam Solusi Berbagai Masalah Sosial

Bertolak belakang dengan sekulerisme, islam memiliki konsep yang mulia dalam menjaga interaksi pria dan wanita. Adanya aturan tentang khalwat, menutup aurat, menjaga pandangan, mengenal mahram dan menjauhi segala pemicu perbuatan zina adalah beberapa perkara diantara penjagaan islam terhadap perilaku menyimpang seksual. Hal inilah yang menjadi palang pertama yang ampuh menghindarkan manusia dari perilaku menyimpang termasuk dalam hal seksual. Islam menganggap keberadaan naluri seksual (gharizatun Nau’) adalah sesuatu yang fitrah pada diri seorang hamba karena Allah sendiri yang menganugrahkannya demi melestarikan jenis manusia.

Menurut pandangan islam Fetish sama halnya dengan onani atau masturbasi. Yang berbeda hanyalah jenis objek yang digunakan saja. Intinya sama, yakni objek tersebut mereka gunakan sebagai pemuas birahi dengaan cara berfantasi membayangkan dia sedang melakukan hubungan seksual bersama orang yang dia inginkan hingga mencapai titik mastrubasi. Dalam islam onani hukumnya haram, karena menyalurkan gharizah nau bukan pada tempatnya.

Islam memandang bahwa kenikmatan jasadiyah bukanlah hal tertinggi yang harus diraih seorang hamba, sebab yang tertinggi yang harus diraih dalam setiap aktivitas hamba adalah keridhaan Allah SWT. Dengan demikian fantasi seks tidak dibiarkan berkelana tak tentu arah. Boleh saja berfantasi, selama hal tersebut masih dalam batasan syara’ dan dilakukan dalam rangka membangkitkan syahwat kepada pasangan yang sah (suami/istri).

Dengan menempatkan ridha Allah sebagai tujuan tertinggi di dunia, manusia otomatis terhindar dari memfokuskan diri pada pencarian kenikmatan jasadiyah semata hingga berujung pada menghalalkan segala cara agar terpuaskan kenikmatan jasadiyahnya. Kalaupun ada kenikmatan jasadiyah yang dirasakan, maka islam memandang itu hanyalah sebuah efek samping dari dijalankannya syariah Allah berupa pernikahan.

Demikianlah sempurnanya syariah islam mengatur segala aspek kehidupan manusia, termasuk di dalamnya pemenuhan naluri seksual seseorang. Hanya dengan mengembalikan pengaturan interaksi social kepada islam saja maka segala kerusakan akibat perilaku menyimpang seksual di tengah masyarakat hari ini bisa diberantas sampai ke akarnya.[]

Oleh: Ummu Alya
Praktisi Pendidikan, Pengamat Masalah Sosial

Post a Comment for "Fetishism Disorder: Akar Masalah dan Solusi"