Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Anak Dan Prostitusi: Antara Gaya Hidup atau Jebakan Sistem ?

Hari anak adalah acara yang diselenggarakan pada tanggal yang berbeda-beda di berbagai tempat di seluruh dunia. Di Indonesia, Hari Anak Nasional diperingati setiap 23 Juli sesuai keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984. Perayaan ini bertujuan untuk menghormati hak-hak anak di seluruh dunia. Hanya saja tak bisa di pungkiri bahwa kejahatan terhadap anak masih menjadi sebuah persoalan krusial di banyak Negara termasuk negeri ini

Oleh : Mariana, S.Sos | Pemerhati Sosial dan Politik

Hari anak adalah acara yang diselenggarakan pada tanggal yang berbeda-beda di berbagai tempat di seluruh dunia. Di Indonesia, Hari Anak Nasional diperingati setiap 23 Juli sesuai keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984. Perayaan ini bertujuan untuk menghormati hak-hak anak di seluruh dunia. Hanya saja tak bisa di pungkiri bahwa kejahatan terhadap anak masih menjadi sebuah persoalan krusial di banyak Negara termasuk negeri ini.

Dilansir oleh Suara.com, 16 Juli 2020, Kasus prostitusi anak yang terjadi di Penginapan Ghozy Kota Toboali Kabupaten Bangka Selatan berhasil dibongkar Kepolisian Daerah Kepulauan Bangka Belitung (Polda Babel). Dalam kasus tersebut polisi mengamankan tiga warga Toboali, masing-masing berinisial EL (17) yang masih berstatus pelajar SMP, kemudian perempuan berusia 16 tahun, sebut saja namanya Bunga dan AN (21) ibu rumah tangga.

Kondisi di atas tentu sangat miris, mengingat anak adalah aset bagi tumbuh kembangnya peradapan suatu Negara, jika anak terus menerus dibiarkan atau terjebak dalam hedonisme yang menawarkan sejumlah receh atau di paksa terlibat dalam arus prostitusi maka dampaknya akan sangat buruk. Selain masa depan yang suram, potret buruk generasi akan menghambat terbentuknya generasi emas yang di cita-citakan.

Membongkar kasus prostitusi yang melibatkan anak tidaklah cukup sebab ini hanya persoalan kuratif, ada usaha proaktif yang harus dilakukan oleh bebarapa pihak:

Pertama: Keluarga, sejak dini anak harus di berikan eduaksi dan sosialisasi mengenai nilai dan norma agama. Anak tidak boleh dibiarkan berucap ataupun berperilaku yang dapat melanggar moralitas dan akhlak mulia. Tata cara berbusana yang sopan yakni yang tidak menampakkan aurat harus dibiasakan.

Selain itu, yang harus dilakukan orang tua adalah memisahkan kamar tidur anak laki-laki dan perempuan, begitupun dengan sesama anak laki-laki maupun perempuan harus dipisahkan tempat tidurnya. Bahkan perlu memperkenalkan status mahram dan non mahram pada anak.

Yang lebih penting anak diajarkan untuk melihat dan tertarik pada aktivitas yang bermanfaat untuk pikiran dan perilakunya, misalnya membaca dan memahami Alqur’an, mambaca sirah Rasulullah dan para sahabat, biografi orang-orang terkenal, sains dan teknlogi yang bermanfaat untuk kehidupan serta di arahkan untuk tidak menonton tayangan yang dapat memberikan stimulus negatif bagi pikirannya.

Kedua: Pengawasan masyarakat, sebagai salah satu media kontrol, maka kedudukan masyarakat adalah melakukan proteksi atau perlindungan anggota-anggota yang ada didalamnya, begitupun dengan makanisme jalannya pemerintahan dan negara yang dilakukan oleh penguasa, jika para penguasa lalai dalam mengurusi rakyatnya maka masyarakat harus melakukan koreksi, sekalipun hal itu dapat membenturkan dengan kepentingan penguasa.

Masyarakat tidak boleh diam, jika ada kebijakan yang justru akan membahayakan anggota masyarakat baik fisiknnya, pikirannya, jiwanya maupun agamanya, sebab jika sebuah kebijakan yang keliru dibiarkan secara terus menerus maka ini akan menjadi sebuah kebiasaan, contohnya tontonan yang merusak anak, yang penuh adegan pornografi dan pornoaksi, kekerasan, miras, pacaran hingga hamil di luar nikah, ini seharusnya tayangan-tayangan tidak layak untuk ditonton.

Pun dengan istilah lokalisasi zina, maupun legalisasi pergaulan atau seks bebas atas dasar keinginan bersama atau suka sama suka. Ketika masyarakat hanya diam dan tidak peduli maka yang akan terjadi anak akan terus menjadi korban. Pemikiran anak akan terus menerus disuguhi dengan pemahaman keliru bahwa tubuhnya adalah haknya dan pergaulan bebas adalah hal biasa. Maka masyarakat  tidak boleh membiarkan hal itu terjadi, harus ada nasehat dan  koreksi untuk perbaikan terutama sistem dan kebijakan Negara.

Ketiga: Aturan yang diterapkan Negara. Ironi memang ketika Negara menerapkan paham Kapitalisme Liberal, sebab masyarakatnya di buat bebas tanpa ada campur tangan agama, asalkan bernilai manfaat dan tidak merugikan orang lain, ujung-ujungnya yang dikejar adalah keuntungan materi tidak perduli itu baik atau buruk, sehat atau tidak , tidak diperhitungkan lagi bahaya kedepannya yang jelas nilai instan dari manfaat yang akan diperoleh berupa pundi-pundi kekayaan.

Jadilah anak korban dari penerapan buruk kapitalisme yang mengutamakan materi, bahkan dalam kehidupan sosial pun seseorang akan dinilai statusnya dari jumlah materi yang dimilikinya. Sehingga setiap orang yang berpikiran kapitalis akan mengejar ketinggian materi bagaimanapun caranya dan apapun jenis pekerjaannya. Bukan hanya individu bahkan negarapun orientasinya profit, sehingga segala kebijakan di ukur dari manfaat yang diperoleh jadilah tontonan pornografi dan pornoaksi maupun perzinahan menjadi sesuatu yang legal atas dasar mendatangkan keuntungan materi.

Sehingga ketika marak perzinaan atas suka sama suka, Negara lepas tangan bahkan bisa jadi melegalkan apalagi kalau mendatangkan keuntungan materi, pun ketika ada yang terdampak penyakit menular karena pergaulan bebas, Negara tidak peduli sebab itu dilakukan secara sadar oleh individunya.

Maka bisa jadi, eksploitasi anak marak disebabkan karena abainya Negara mengurusi rakyatnya. Anak menjadi korban jahatnya para kapitalis yang memanfaatkan anak untuk keuntungan materi, anak menjadi korban New Imprealisme alias Imprealisme gaya baru.

Dulu banyak anak yang dipaksa untuk menajdi budak libido ketika penjajah menyerang secara fisik, tapi saat ini dimana penjajahan secara fisik tidak ada, maka penjajah menyerang melalui budaya, mental, dan pemikiran.

Sejak dini sebagian anak, mungkin telah terdidik dengan didikan penjajah yakni bermental kapitalis, sarat dengan sekulerisme menihilkan peran agama. Kalau tidak ada uang tidak akan eksis, tujuan hidup adalah uang atau modal, jadinya dengan serangan pemikiran seperti itu maka anak akan terayu bahwa uang adalah segala-galanya, sehingga tanpa dipaksa bisa jadi seorang anak akan terbujuk untuk menjadi prostitusi demi uang. Inilah yang disebut new imprealisme dalam budaya dan pemikiran.

Maka anak perlu ditolong dengan melibatkan ketiga aspek yaitu Keluarga yang berperan memberikan edukasi sejak dini tentang nilai moralitas dan akhlak mulia yang harus dimiliki anak. Kemudian masyarakat yang berperan sebagai pengawas mentalitas dan perbuatan anak. Berikutnya adalah Negara sebagai media pengatur yang berperan menjaga perilaku anak agar tidak tergerus kedalam jurang kenistaan.

Hanya saja, ketika Kapitalisme maupun Sosialisme gagal menjaga harkat martabat dan kehormatan anak, maka sudah sepantasnya beralih ke sistem lain yang lebih layak menjaga dan memlihara serta melindungi pemikiran, jiwa, kehormatan, dan agama anak, itu hanya akan terjadi jika sistem yang mengaturnya adalah Islam, tentu Islam secara politik dan pemerintahan. Wallahu’alam(***)


Post a Comment for "Anak Dan Prostitusi: Antara Gaya Hidup atau Jebakan Sistem ?"