Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Standar Ganda, Sudikah Kita?

Standar ganda kembali ditampakkan oleh rezim Kapitalis-Sekuler. Lewat peristiwa datangnya Etnis Rohingya VS datangnya TKA China ke Indonesia, seharusnya cukup membuka mata dan menyadarkan kita akan rusaknya sistem yang tidak manusiawi ini.

Penulis : Restu Adelia ( Aktivis muslimah )

Standar ganda kembali ditampakkan oleh rezim Kapitalis-Sekuler. Lewat peristiwa datangnya Etnis Rohingya VS datangnya TKA China ke Indonesia, seharusnya cukup membuka mata dan menyadarkan kita akan rusaknya sistem yang tidak manusiawi ini.

Fakta mengungkap bahwa ketika imigran Rohingya yang terombang-ambing di atas kapal hendak mendekati perairan Indonesia (Aceh Utara) untuk meminta bantuan makan dan minum, pihak yang berwenang menolaknya dengan alasan kekhawatiran akan mewabahnya Covid-19 di Aceh Utara.

“Kami menolak, namun malam ini mereka (Etnis Rohingya) akan dikawal oleh Pol Airud dan besok akan diganti oleh Lanal, dan Basarnas,” kata Danrem 011 Lilawangsa, Kolonel Inf Sumirating Baskoro, Rabu (24/6) dini hari.

Dikatakan Danrem, alasan pihaknya tidak membolehkan Imigran Rohingya masuk ke wilayah tersebut, karena dikhawatirkan mewabahnya Covid-19 di Lhokseumawe, dan Aceh Utara.

“Karena ini lagi masa pandemik, jangan sampai masuk 100 nanti masuk lagi seribu jiwa lain, sehingga mengancam kesehatan penduduk di Aceh Utara dan sekitarnya,” ungkapnya. (ajnn)

Mari bandingkan fakta ke-1 dengan fakta ke-2, jelas sekali perbedaan perlakuan pemerintah Indonesia dalam menyambut datangnya TKA China ke Indonesia.

“Ratusan TKA China itu datang untuk bekerja di PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI), sebuah perusahaan modal asing (PMA) yang perizinannya diterbitkan pemerintah pusat.

"Kita di sini, yah namanya investor kita harus jaga harmonisasi. Agar pengangguran bisa berkurang. Ini sebuah kesyukuran karena perusahaan internasional datang berinvestasi Rp42 triliun," kata Gubernur Sultra, Ali Mazi (cnn)

Sampai sini, terlihatkah perbedaan yang mencolok? Standar ganda yang diberlakukan oleh pemerintah Indonesia dalam menerima “tamu” dari luar, sungguh memprihatinkan.

Ini semua bisa terjadi karena adanya kepentingan yang berbeda. TKA China disambut masuk ke wilayah Indonesia, padahal China adalah negara asal virus Covid-19. Sedangkan etnis Rohingnya yang lama terasing di lautan, ditolak dengan tegas kedatangannya. Sebetulnya apa yang melandasi stadar ganda tersebut?

Jawabannya adalah, karena rezim saat ini menganut sistem Kapitalisme-Sekulerisme, dimana standar perbuatannya adalah azas manfaat, untung-rugi, semua dinilai berdasarkan materi. Jika hal itu menguntungkan, maka akan diterima. Namun jika hal itu dianggap merugikan, maka akan ditolak. Begitulah ketika aturan diserahkan kepada manusia, menstandarkan perbuatannya pada hawa nafsu semata. Tidak heran, kedatangan etnis Rohingnya ditolak oleh negara karena tidak ada timbal balik (materi) yang akan didapat, malah dinilai hanya akan merugikan negara, seperti menyiapkan bantuan, mengeluarkan budget untuk logistik mereka dsb. Giliran TKA China yang datang, mereka diterima dengan alasan menjaga harmonisasi, investasi. Lagi-lagi semua hanya untuk materi.

Sungguh betapa rendah standar perbuatan para pemuja materi, mereka menyampingkan ridho Allah hanya demi secuil materi yang didapat. Cinta mereka pada dunia sungguh telah membunuh rasa kemanusiaan dan persaudaraan. Padahal Rasulullah menggambarkan eratnya persaudaraan kaum muslimin, bagaikan satu tubuh:

''Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Ini hanya satu dari banyaknya standar ganda yang nyata-nyata diberlakukan oleh rezim. Jika kita teliti lebih dalam, hal ini juga banyak terjadi di bidang sosial, pendidikan, ekonomi, hukum dlsb. Tidakkah kita tergerak untuk melakukan perubahan?

Kapankah kita akan menyadari bahwa sebanyak apapun materi yang didapat tidak akan bisa membeli ridho Allah?

Padahal standar perbuatan manusia haruslah disandarkan pada ridho Allah, karena kelak kita akan dihisab berdasarkan hukum Allah.

Ridho Allah hanya bisa diraih lewat ketaqwaan secara menyeluruh. Baik ketaqwaan individu, masyarakat dan negara yang menerapkan aturan yang datang dari Allah Al-Khaliq. Itulah sebenar-benar taqwa, sebaik-baik tujuan hidup, dan sebaik-baik standar dalam berbuat. Wallahu a’lam

Post a Comment for "Standar Ganda, Sudikah Kita?"