Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pseudo Science (Bagian Keempat-Kesimpulan!)

Dr. Erwin Permana (Dosen dan Peneliti Sosial Kemasyarakatan)

Oleh : Dr. Erwin Permana (Dosen dan Peneliti Sosial Kemasyarakatan)

Ada beberapa kawan yang mengomentari tulisan ketiga. Katanya, seperti menggantung tidak tuntas. Sebab hanya berakhir pada penjelasan tentang metodologi. Jika mengupas keyakinan bagaimana secara metodologis hingga sampai pada suatu keyakinan.

Tulisan keempat ini akan coba menjawab pertanyaan sekaligus menjadi kesimpulan atas tulisan sebelumnya.

Pada tulisan ke-3, penulis menyebut metode ilmiah punya kelemahan. Kelemahan yang paling mandasar adalah tidak sanggup menjawab pertanyaan besar "mengapa"?

Padahal pertanyaan mengapa merupakan pertanyan sangat fundamental seorang peneliti dan selalu menggelayut dipikiran banyak orang. Wilayah kerja metode ilmiah menjawab seputar pertanyan "apa"?

Meski Hawking dan teori Big Bang, dianggap mampu menjelaskan proses terbentuknya semesta yang disebut berasal dari materi yang terkekang. Dia tidak secara tuntas bisa menjelaskan "mengapa" semesta terbentuk?

Temuan Hawking akan terlihat ringkih jika diberikan beberapa pertanyaan "mengapa". Misalnya, mengapa tiba-tiba ada materi terkekang? Darimana asal muasal materi terkekang itu? Selanjutnya, mengapa tiba-tiba meledak dahsyat? Siapa yang meledakkan? Energi super dahsyat itu berasal dari mana? Mengapa setelah meledak hasilnya alam semesta yang tertata rapi? Siapa yang menyusun hingga jadi begini indah?

Maka, terlihat sangat memaksakan jika teori Big Bang disebut teori asal muasal alam semesta. Teori Big Bang hanya menjelaskan "apa" yang terjadi, bukan menjelaskan "mengapa" terjadi.

Ujungnya, manusia tidak akan dapat menemukan kebenaran yang pasti tentang terciptanya alam semesta. Kalaupun ada kesimpulan, kesimpulannya relative. Manusia jadi meraba-raba, alam semesta ini kemungkinan ada dengan sendirinya tanpa penciptaan atau kemungkinan ada pencipta.

Teori Big Bang, menjelaskan bahwa alam semesta mengembang. Antara satu planet dengan planet lain makin lama makin menjauh. Maka secara rasional jika ditarik mundur kebelakang, semua planet akan berkumpul disatu titik dengan volume nol, dengan kepadatan yang tak terhingga (Triono, 2017).

Volume nol itu menunjukkan bahwa alam semesta awalnya tidak ada, kemudian diadakan dan terus mengalami pengembangan. Jadi Teori Big Bang dengan dibantu metode rasional akan dapat difahami bahwa alam semesta dulunya tidak ada, kemudian ada yang menciptakan, yaitu Tuhan.

Tuhanlah yang menciptakan semua yang ada di alam semesta ini. Termasuk manusia dan seluruh makhluk didalamnya. Tidak ada satupun manusia yang sanggup menciptakan walau setetes air, segumpal tanah, seberkas cahaya atau sesuatu apapun.

Yang dilakukan oleh manusia hanya merubah satu bentuk kebentuk lain.Dengan cara melebur, mencampur, mereaksikan, menggabungkan, merangkaikan berbagai unsur tanpa henti sepanjang waktu. Ini semua wilayah kerja metode ilmiah. Sedangkan semua unsurnya berasal dari alam yang diciptakan Tuhan.

Metodologi ilmiah tidak perlu digugat, dipertanyakan atau dimusuhi. Karena tanpanya, science yang diperlukan manusia tidak akan berkembang dahsyat. Bersandingnya kata Metode dan Ilmiah, juga sudah benar.

Pertanyaan mendasar yang belum terjawab, "mengapa" diciptakan? Inilah pertanyaan yang tak pernah dijawab secara pasti oleh ilmuwan saat ini. Karena memang ini bukan wilayah Ilmiah. Tapi akal dapat membantu manusia.

Untuk menjawab "mengapa", tidak bisa tidak akal manusia harus mencari informasi yang berasal dari Pencipta itu. Fakta menunjukkan bahwa informasi dari Pencipta disebut Kitab Suci. Akal bertugas meneliti kitab suci yang benar-benar berasal dari Tuhan. Kitab suci yang bebas dari intervensi makhluk (Mudhary, 2008).

Satu-satunya kitab suci yang bebas dari berbagai macam intervensi adalah Alqur'an. Alqur'an yang ada hari ini merupakan Alqur'an yang sama dengan zaman Nabi. Tanpa perubahan satu hurufpun.

Alqur'an bukan saja menjawab pertanyan besar "mengapa"?, Tapi juga mejawab dua pertanyaan besar lain. Yakni setelah diciptakan mau kemana? Dan peran signifikan apa yang harus dilakukan?

Selamat mempelajari dan mendalami Alqur'an!

Post a Comment for "Pseudo Science (Bagian Keempat-Kesimpulan!)"