Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

DAKWAH TIDAK HARUS MENUNGGU ILMU SUNDUL LANGIT

Semoga Allah menerangi wajah seseorang yang mendengarkan sesuatu dari kami, kemudian dia menyampaikan apa yang dia dengar. Boleh jadi, orang yang diberitahu lebih tahu ketimbang yang mendengar (menyampaikan dari Nabi)." (Hr. At-Tirmidzi)

Oleh KH. Hafidz Abdurrahman | Khadim Ma'had Syaraful Haramain

Suatu ketika Nabi bersabda:

بلغوا عني ولو أية

"Sampaikan dariku, meski (kamu hanya menguasai) satu ayat." (Hr. Bukhari)

Tak hanya itu, Nabi juga mendoakan orang yang menyampaikan Islam, yang mendakwahkan Islam, meski ilmunya tidak banyak:

 نَضَّرَ اللهُ امرأً سمِعَ منَّا شيئًا فبلَّغَهُ كما سمِعَهُ ، فرُبَّ مُبَلَّغٍ أوْعَى من سامِعٍ

"Semoga Allah menerangi wajah seseorang yang mendengarkan sesuatu dari kami, kemudian dia menyampaikan apa yang dia dengar. Boleh jadi, orang yang diberitahu lebih tahu ketimbang yang mendengar (menyampaikan dari Nabi)." (Hr. At-Tirmidzi)

Ini adalah doa Nabi untuk para pengemban dakwah, meski ilmunya tidak seberapa. Bahkan, boleh jadi mustami' (pendengar)-nya lebih hebat daripada dirinya.

Maka, berdakwah tidak harus menunggu ilmu sundul langit. Seberapa pun ilmunya, dakwah tetap wajib sesuai dengan kadar ilmu yang dimiliki.

Ini tidak berarti boleh serampangan dan ngawur. Karena ada perintah lain, agar melakukan tatsabbut (pembuktian) terlebih dulu maklumat yang diterima sebelum disampaikan. Misalnya, kutipan ayat, hadits, kitab, dan tentu hukum dan pemikirannya itu sendiri. Baru setelah itu disampaikan.

Karena ini amanah ilmu dan agama dari Allah dan Rasul-Nya.[]

Post a Comment for "DAKWAH TIDAK HARUS MENUNGGU ILMU SUNDUL LANGIT"