Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Utang Membengkak, saat Wabah Melonjak

Utang Membengkak Saat Wabah Melonjak

Seiring dengan upaya untuk menangani wabah covid-19 dimasa pandemi kini utang luar negeri Indonesia semakin membengkak. Bank Indonesia (BI) mencatat pembengkakan utang luar negeri (ULN) Indonesia pada akhir April 2020 menjadi sebesar USD400,2 miliar. ULN terdiri dari sektor publik yakni pemerintah dan bank sentral sebesar USD192,4 miliar dan sektor swasta termasuk BUMN sebesar USD207,8 miliar. (Jakarta, 15/062020/ASIATODAY.ID).

Kementerian keuangan mencatat total pembiayaan utang neto pemerintah hingga Mei 2020 mencapai Rp 360,7 triliun. Jumlah ini meningkat 35,8% dibanding periode yang sama tahun lalu. Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan kenaikan realisasi pembiayaan hingga Mei 2020 antara lain disebabkan oleh defisit anggaran yang meningkat. Pada periode yang sama, defisit APBN membengkak 42,8% menjadi Rp 176,9 triliun atau 1,1% terhadap PDB. "Dengan defisit yang naik, realisasi pembiayaan meningkat. SBN neto kami sudah terbitkan Rp 369 triliun, sedangkan pinjaman turun Rp 8,3 triliun," ujar Sri Mulyani dalam konferensi video. (Selasa,16/06/2020/Kadata.co.id).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, pemerintah telah menarik utang untuk membiayai defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Mei 2020 sebesar Rp356,1 triliun.(16/06/2020/VIVAnews).

Disisi lain, ada wacana penilaian terhadap pemerintah tahun ini ketika berencana menambah utang baru yang amat besar. Nilainya sangat ambisius yakni mencapai Rp1.006 triliun. Jumlah itu mencapai tiga kali lipat dari utang setiap tahun, dengan dasar  Perpu No 1 Tahun 2020 dan dengan dalih menghadapi wabah corona.

Pada saat yang sama, lanjut dia, Pemerintah menanggung beban utang luar negeri yang sangat besar. Demikian juga utang BUMN luar negeri yang juga besar. Hal yang juga paling mengkhawatirkan adalah jika  Pemerintah gagal membayar dana  publik yang dipakai oleh APBN.

"Mereka itu seperti dana Haji, dana Jamsostek, Asabri, dana Taspen, dana perusahaan asuransi, dana perbankkan yang selama ini ditelan didalam surat utang negara (SUN)," sebut pengamat muda itu.

"Jika ini terjadi maka akan bertambah banyaklah dana masyarakat yang menjadi korban gagal bayar, setelah jiwasraya dan kasus skandal asuransi dan perusahaan keuangan lainnya," jelas Daeng.(13/05/2020/BisnisNews.Id).

Disaat menghadapi kesulitan untuk mencukupi kebutuhan hidup dalam sistem kehidupan kapitalis solusi berhutang dengan berbasis bunga atau riba selalu menjadi pilihan bahkan ditawarkan. Tak heran seiring dengan penanganan wabah kini pemerintahpun tidak berfikir panjang untuk mensolusi permasalahan defisit dengan cara berhutang. Baik untuk defisit anggaran periode sebelumnya atau mengalokasikan secara efisien untuk membiayai kebutuhan rakyatnya dimasa pandemi wabah yang terlihat masih melonjak. Hingga akhirnya menunjukkan adanya fakta bahwasanya utang kini kian membengkak.

Dengan membengkaknya utang luar negeri suatu negara, sebenarnya justru membuat keberadaan negara tersebut serasa kehilangan kedaulatan. Bahkan, bisa menjadi sebab sebagai alat penjajahan ekonomi bagi negara lain. Dimana negara lain tadi akan berpotensi dalam mempengaruhi kebijakan-kebijakan dalam negerinya. Bahkan kebijakan yang dibuat akan jauh dari pemenuhan untuk kemaslahatan rakyat karena telah dikendalikan oleh asing.

Lain halnya, Negara dalam sistem Islam yang selalu berusaha menjaga kedaulatan. Akan memanfaatkan sumber daya alam yang ada secara optimal untuk kemaslahatan rakyat. Tidak akan mengambil utang luar negeri yang justru membawa pada posisi kehinaan. Terlebih dengan adanya utang yang berbasis bunga atau mengandung riba, itu merupakan hal yang ditinggalkan karena keharamannya.

Dengan begitu, pemerintah saat ini tatkala mengambil utang luar negeri yang berbasis bunga atau mengandung riba sebagai solusi itu merupakan tindakan keharaman yang akan mendatangkan adzab dari Allah Swt. Sebagaimana  Rasulullah saw. bersabda :

« إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِيْ قَرْيَةٍ، فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ 

Jika zina dan riba telah tersebar luas di satu negeri, sungguh penduduk negeri itu telah menghalalkan adzab Allah bagi diri mereka sendiri (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani).

Dilain sisi, perekonomian yang dibangun di atas pondasi utang berbasis bunga atau riba tidak akan pernah stabil. Perekonomiannya rapuh akan mudah goyah bahkan terjatuh dalam krisis-krisis yang terus terjadi secara berulang. Bahkan, terpuruk karena harus menanggung beban utang yang terus bertambah karena bunganya terus membengkak tanpa henti.

Akibatnya, kesejahteraan yang merata untuk rakyat tidak bisa dirasa. Karena rakyat telah ikut serta menanggung beban utang luar negeri suatu negara yang terus membengkak. Dengan merasakan naungan hidup dalam sistem kapitalis yang kian memalak rakyat, kini akankah kita mempertahankan atau marilah kita melirik sistem Islam yang terbukti mensejahterakan. Sejarah telah mencatat 1400 tahun lamanya peradaban Islam mengatur 2/3 wilayah dunia dengan sistem ekonomi Islam yang mensejahterakan.  Wallahu'alam bi-ashowab.[]

Oleh Oleh : Watini Alfadiyah, S. Pd.
Praktisi Pendidikan dan Pengamat Sosial

Post a Comment for "Utang Membengkak, saat Wabah Melonjak"