Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Umar dan Umar

biografi sahabat Rasulullah yang juga seorang Khalifah, Omar bin Khattab

Oleh: Babenya Hamizan

Di Ramadhan 1441 Hijr ini, sinema tv nasional kembali semarak dengan tayangan Islami. Diantaranya kembali mengudara tayangan terkait sejarah Islam, yakni serial biografi sahabat Rasulullah yang juga seorang Khalifah, yakni Omar bin Khattab (semoga Allah meridhoi beliau).

Mari tarik mundur sedikit ke belakang untuk melihat hikmah dari kisah Umar bin Khattab. Secara singkat, Umar bin Khattab adalah salah seorang pemuka bangsa Quraisy yang saat di masa Jahiliyah beliau selalu dinantikan kehadirannya dalam setiap forum pembesar Quraisy. Forum musyawarah mereka berada dalam Darun Nadwah, tempat pembahasan beragam topik dan kebijakan politik untuk di sekitaran Makkah, kehadiran Umar, kewibawaan dan kebijaksanaan nya selalu di nantikan disana sebagai pemutus sebuah kebijakan yang akan diberlakukan bagi penduduk Makkah.

Pada masa jahiliyah di Makkah, Umar bin Khattab yang memiliki wibawa dikenal juga memiliki watak keras bahkan pernah mengubur anak perempuannya hidup-hidup. Anggapan masyarakat di masa itu, memiliki anak perempuan adalah kehinaan sebab perempuan tidak bisa diajak berperang ketika dewasa.

Dari beberapa pembesar Quraisy dalam forum Darun Nadwah, tersebut juga nama Umar bin Hisyam. Seorang yang memiliki kekuasaan di wilayah Makkah saat itu, memiliki banyak pengaruh dan pengikut yang tunduk dalam kekuasaannya. Ketika itu pemerintahan Makkah memiliki pembagian tugas yang dipegang beberapa kabilah/marga untuk mengurus masyarakat Makkah, diantaranya sebagian kekuasaan dipegang Umar bin Hisyam.

Ia juga seorang ahli hukum dan selalu berlaku adil dalam setiap keputusannya. Ia begitu dihormati dan disegani oleh kaumnya. Karena itulah, orang-orang Quraisy memberinya julukan Abul Hakam yang artinya "Bapak Kebijaksanaan".

Sampai tibalah hadirnya Rasulullah SAW di tengah masyarakat Makkah membawa ajaran baru yang berbeda dari kebiasaan masyarakat Makkah saat itu. Beliau menyerukan untuk menyembah Allah saja, mencela dan mencerca sesembahan berhala dan melarang praktik ribawi yang saat itu sangat marak di Makkah serta melarang minum khamr.

Seketika kedua Umar ini sontak merasa terusik, kenyamanan dan kekuasaan mereka jelas terganggu dengan kehadiran Rasulullah. Sentimen negatif, propaganda dan provokasi disematkan kepada Rasulullah yang sebelumnya dinisbatkan sebagai orang yang paling terpercaya sewilayah Makkah menjadi dijuluki ahli sihir dan dukun serta pemecah belah suku Quraisy. Beliau diburu oleh segenap pemuka Quraisy termasuk Umar bin Khattab dan Umar bin Hisyam. Sampai terjadi tekanan dan intimidasi kepada Rasulullah serta para sahabat permulaan yang memeluk Islam, bahkan keluarga Yasir hingga berujung wafat sebagai syuhada. Dalam kondisi ini kemudian Rasulullah berdoa memohon pertolongan Allah. Rasulullah SAW berdoa agar Islam diperkuat oleh salah satu dari dua Umar.

Bagi Umar bin Khattab, Rasulullah adalah pengganggu yang harus segera dilenyapkan, hingga suatu saat Umar yang tanpa sengaja mendengar bacaan Surat Thaha yang dibacakan oleh adik kandungnya dan memuji kandungan syair dari langit yang sangat indah ini. Dengan segenap kecerdasan Umar, beliau seketika memutuskan untuk memeluk Islam. Tanpa ragu beliau segera mengumumkan sudah masuk Islam ke penduduk Makkah. Sejak memeluk Islam, sekalipun Umar tidak pernah kembali lagi masuk Darun Nadwah. Beliau menjadi mulia dan dimuliakan dengan Islam serta menjadi pelindung dakwah Rasulullah yang setia.

Sampai tibanya kaum muslimin pindah hijrah dari Makkah ke Yatsrib secara sembunyi sembunyi, namun Umar tidak demikian. Umar justru mengumumkannya di depan Ka’bah. “Barang siapa yang ingin anaknya menjadi yatim, istrinya menjadi janda dan orang tuanya tak lagi memiliki anak, silakan temui aku di lembah belakang kota Mekkah!” teriak Umar menantang seluruh orang kafir Quraisy. Namun, tidak ada yang berani melayani tantangannya.

Lain halnya dengan Umar bin Hisyam, ia dengan segenap tenaganya berupaya tetap melawan Rasulullah. Diantaranya menyiksa Bilal dengan menindih batu besar di tengah terik matahari dan membunuh Sumayyah, mereka semua yang memeluk Islam mendapatkan siksaan. Namun secara diam-diam Umar bin Hisyam ini tidak jarang sembunyi-sembunyi mendengarkan lantunan al Quran di luar rumah Rasulullah, sebab kekagumannya atas kandungan Al Quran dan tidak jarang ditampakkan langsung mukjizat Rasulullah SAW. Dari situ ia dijuluki Abu Jahal (Bapak Kebodohan) sebab enggan menerima kebenaran ajaran Rasulullah.

Konsekuensi Abu Jahal jika menerima ajaran Rasulullah adalah ia akan kehilangan pangkat dan kekuasaan di lingkungan suku Quraisy dan melawan adat kebiasaan masyarakat Makkah yang sangat buruk, penuh dengan perilaku ribawi, menyembah berhala dan kebiasan minum khamr. Sampai akhirnya Abu Jahal terbunuh dalam perang Badar dalam kehinaan.

Umar bin Khattab kelak memiliki anak yang sangat cerdas periwayat ribuan hadits, yakni Ibnu Umar (semoga Allah meridhoi keduanya). Ibnu Umar masih anak-anak ketika berinteraksi dengan Rasulullah, dari interaksi itulah beliau mendalami ilmu dan meriwayatkan ribuan hadits.

Umar bin Hisyam juga memiliki anak lelaki bernama Ikrimah, usia Ikrimah sekitar 30 tahun ketika masa dakwah Rasulullah di Makkah, di masa jahiliyah Ikrimah juga memusuhi Rasulullah. Namun kemudian memeluk Islam setelah pembebasan Makkah oleh Rasulullah SAW dan para sahabat. Ikrimah kemudian menjadi pembela setia Rasulullah yang pada akhirnya menjadi syuhada di perang Yarmuk yang dimenangkan kaum muslimin.

Pada saat perang Yarmuk meletus dengan hebatnya dan pasukan Romawi yang dipimpin Kaisar Hiraklius (alias Hercules) hampir mengalahkan pasukan Islam, maka singa buas Ikrimah pun bangkit dan berkata: “Minggirlah, wahai Khalid bin Walid, biarkan aku menebus apa yang telah aku dan ayahku lakukan. Dulu aku memusuhi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah sekarang aku akan lari dari pasukan Romawi ? Demi Allah tidak, selamanya tidak akan terjadi !”(semoga Allah meridhoi beliau).

Pakar sejarah menyebutkan, bila saja perang Yarmuk tidak dimenangkan oleh kaum muslimin atas Romawi, maka peradaban manusia akan mundur 30 tahun lebih lambat dari sekarang, sebab Yarmuk adalah pintu bagi terbukanya akses penyebaran cahaya Islam ke penjuru pelosok dunia.

Post a Comment for "Umar dan Umar"