Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tarif Listrik Melonjak Drastis, Bukti Tak Ada yang Gratis Era Kapitalis

Tarif Listrik Melonjak Drastis, Bukti Tak Ada yang Gratis Era Kapitalis

Oleh:  Iim Muslimah S. Pd

Di tengah pandemi COVID-19, masyarakat dibuat terkejut oleh lonjakan tagihan listrik PLN. Keluhan masyarakat sempat menggema di media sosial pada awal bulan ini. Kenaikan yang tidak wajar itu dialami oleh pelanggan listrik pascabayar.

Seperti yang dialami seorang pelanggan PLN bernama Dyah Rosmalawati yang kemarin sempat berbagi pengalamannya kepada detikcom. Menurut Dyah lonjakan tagihan listrik tersebut sangat tidak masuk akal.

"Naik nya tidak masuk logika saya, bisa 3 kali lipat begitu, dari bulan dari bulan April Rp 200 ribuan tapi Mei jadinya Rp 750 ribuan," ujar Dyah kepada detikcom, Senin (4/5/2020). Detik.com

Rata-rata konsumsi listrik masyarakat memang meningkat karena pemerintah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Aktivitas kerja dan belajar kini banyak dilakukan di rumah, istilah populernya Work From Home(WFH) dan School From Home.

Namun, kenaikan konsumsi listrik di rumah tangga karena WFH hanya sekitar 30 persen. Pelanggan listrik pascabayar mengeluh karena kenaikan tagihannya lebih dari itu, bahkan ada yang hampir 2 kali lipat. PLN pun dituding menaikkan tarif secara diam-diam.

Terkait hal ini, PLN menegaskan bahwa tidak ada kenaikan tarif listrik. Tapi diakui PLN, ada tambahan tagihan listrik di bulan April. Sejak bulan Maret, PLN tak lagi mengirim petugas pencatat meteran ke lapangan untuk mencegah penyebaran virus corona. Kumparan.com.

Era kapitalis tak pernah ada yang gratis

Pada awal bulan lalu presiden mengumumkan akan menggratiskan listrik untuk  golongan pelanggan dengan kapasitas daya listrik 450 Volt Ampere (VA). Data PT PLN (Persero) mencatat terdapat 24 juta pelanggan listrik 450 VA yang merupakan masyarakat golongan menengah ke bawah.

Namun ternyata gratisnya tersebut seiring dengan dinaikannya tarif listrik golongan menengah ke atas. 

Padahal  Wabah virus corona atau covid-19 tanah air berdampak pada seluruh lapisan masyarakat. Khusunya para pekerja informal seperti tukang becak,supir angkot, driver ojek, tukang parkir hingga buruh harian yang mengakibatkan pendapatnya menurun dratis, mereka harus tetap bekerja agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hal ini tidak hanya terjadi pada masyarakat kalangan menengah kebawah,  tapi juga menengah keatas.  Banyak para pengusaha yang gulung tikar karena sepinya pelanggan. Penghasilan menurun,  sedangkan pengeluaran semakin meningkat.

Namun nyatanya pemerintah justru semakin menambah beban dengan menambahkan tagihan listrik. Hal ini terjadi karena konsep untung rugi anatara pemerintah dan rakyat.  Dalam kondisi paceklik seperti ini pemerintah diduga ogah rugi akibat memberikan kompensasi pada masyarakat.  Padahal dimasa pandemi ini seharusnya masyarakat diringankan bebannya dengan minimal memberikan kompensasi listrik. 

Konsep untung rugi para penguasa ini lahir dari ideologi kapitalis.  Maka wajar di era ini tak akan ada yang gratis. 

Islam Menjamin Kesejahteraan Umat

Islam hadir tentu tidak hanya sebagai agama ritual dan moral belaka. Islam juga merupakan sistem kehidupan yang mampu memecahkan seluruh problem kehidupan. Hasil diterapkannya syariat dalam segala sendiri kehidupan inilah berbuah kesejahteraan.

Hingga 14 abad lamanya Islam mampu mensejahterakan rakyatnya sampai ke pelosok Negeri.  Bahkan Spanyol sampai berharap ditaklukan tentara kaum muslimin segera.  Ini membuktikan kesejahteraan yang didapat begitu luar biasa.  Layanan kesehatan,  pendidikan dan fasilitas lainya semuanya diberikan secara cuma-cuma oleh Negara.  Begitu pula mungkin listrik dimasa sekarang ini.  Dimana listrik menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari segi kehidupan. 

Alokasi anggaran untuk layanan ini bukan didapat dari penambahan utang luar negeri,  atau mengambil pajak rakyat. Namun dari pengelolaan sumber daya alam yang ada diNegara tersebut. 

Menurut aturan Islam, kekayaan alam adalah bagian dari kepemilikan umum. Kepemilikan umum ini wajib dikelola oleh negara dan asilnya diserahkan untuk kesejahteraan rakyat secara umum. Sebaliknya, haram hukumnya menyerahkan pengelolaan kepemilikan umum kepada individu, swasta apalagi asing.

Kepemilikan umum itu yakni air, rumput dan api. Sebagaimana Rasulullah bersabda:
Dari ibnu Abbas ia berkata, Rosulullah SAW bersabda: kaum muslimin berserikat dalam tiga hal; air,rumput (pohon), api (bahan bakar), dan harganya adalah haram. Abu sa’id berkata , yang di maksut adalah air yang mengalir.”(HR.Ibn Majah). (Isnaini Harahap, Yenni Samri Juliati Nasution, Marliyah, Rahmi Syahriza, 2015:29-30)

Untuk itu, Indonesia yang memiliki sumber daya alam yang melimpah ruah, jika SDA dikelola sesuai dengan syariat Islam akan sangat memadai untuk memenuhi kebutuhan rakyat selama masa pandemi. 

Untuk itu sudah saatnya kita kembali kepada aturan Islam yang sesuai dengan fitrah manusia karena bersumber dari Allah sebagai pencipta alam semesta. waAllahua’lam.[]

Post a Comment for "Tarif Listrik Melonjak Drastis, Bukti Tak Ada yang Gratis Era Kapitalis"